
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan menuju kamar masing-masing untuk mandi karena keringat sudah membuat kulit terasa lengket dan badan terasa bau. Hal itu membuat mereka merasa sangat tidak nyaman.
Daffa sendiri mandi dengan berendam di dalam backtub dengan air hangat untuk mengurangi rasa capek di seluruh tubuhnya. Aroma terapi dalam ruang kamar mandi cukup membuatnya nyaman.
Sebuah bayangan seorang gadis tiba-tiba memenuhi pikirannya. Daffa hanya tersenyum tipis membayangkan wajah gadis itu.
Kedua pemuda di dalam kamar mandi yang lain juga melakukan hal yang sama. Mereka hanya memperhatikan dan membayangkan tingkah saudara kembar mereka yang terasa sangat luar biasa pagi ini.
"Bayangan wajah mu kenapa tak bisa hilang dari pikiran ku?” Katanya lirih hanya cicak-cicak di dinding yang mendengarnya.
"Gadis yang terlihat sederhana sekali, tapi....." Lanjutnya dengan mengacak rambutnya yang masih sedikit basah.
Ceklek
Suara ketiga pintu itu dibuka kemudian ditutup kembali oleh ketiga orang pemuda. Ketiga pemuda itu keluar dari kamar mereka secara bersamaan.
Mereka terlihat sangat tampan dan macho ketika berjalan bersamaan. Daffa adik yang paling kecil tak pernah bisa diam begitu juga saat ini.
Aroma masakan yang menusuk hidung membuat perut ketiga pemuda tampan itu semakin keroncongan. Kedua kakak laki-lakinya melihat sesuatu yang berbeda dari ekspresi Daffa.
"Ruang makan gak akan berpindah atau menghilang dari tempatnya Coy, gak usah terburu-buru juga kali.” Tegur Axel yang sejak tadi selalu digoda oleh adik bungsunya itu.
"Kenapa jadi sewot sih kakak ku yang paling tampan." Ucap Daffa.
"Bener bener bener itu, ntar tampannya hilang." Lanjut Garda.
"Jadinya perjaka tua dong." Ledek Daffa.
"Tapi gak mungkinkah kakak gue gitu loh." Lanjut Daffa.
"Kalian berdua mau makan atau cuma mau ngeledekkin gue aja." Kata Axel Sang Kakak dengan ketus karena sudah jenuh mendengar kedua adiknya meledek terus.
Mereka duduk pada tempat duduknya masing-masing seperti dulu saat masih balita. Berbeda dengan sekarang yang semua memiliki aktivitas mereka masing-masing.
"Tadi siapa yang nyari lauk tempe?" Tanya Daffa melihat kedua kakaknya sambil menaik turunkan kedua alisnya bersamaan dan menjadikan salah satu tangannya pada meja untuk tumpuan sebelum duduk.
__ADS_1
Kedua kakaknya itu baru menyadari dengan semua ucapan Sang Adik Bungsu tadi memang benar adanya setelah melihat pada meja makan. Semua yang diucapkan tersedia di meja itu termasuk tahu bulat. (Tahu bulat digoreng dadakan).
"Ini anak pasti tadi nguntitin Bibi sampai ke pasar." Bisik Axel setelah menyuruh Garda mendekatkan telinganya.
"Adik kita ternyata juga kepingin mendapat gunung se-empuk bantal makanya kemarin marah." Ledek Axel dengan tertawa smirk penuh kemenangan bisa meledek Adiknya Daffa.
Garda juga ikut tertawa geli bukan karena kalimat yang dibisikkan oleh Kakak Axel tetapi karena bisikan Sang kakak. Merasa begitu gelinya hingga membuat dia ingin buang air kecil.
Wkwkwkwk
Axel dan Daffa tertawa melihat tingkah saudaranya itu yang segera berlari menuju kamar mandi terdekat. Saat itu juga mata salah satu pemuda yang berada di ruang gadis menangkap bayangan sosok seorang wanita yang ada dalam bayangannya beberapa hari ini.
Garda yang sudah selesai dengan urusannya di kamar mandi kini berjalan mendekati kedua saudaranya yang masih menunggunya untuk makan. Ketiga bersaudara itu memang memiliki karakternya masing-masing walaupun dididik dengan cara yang sama.
"Puas ngerjain aku." Kata Garda jengkel tahu dikerjai oleh Sang Kakak sambil menghempaskan bokongnya pada kursi tempat duduknya tadi.
Axel tertawa lebar melihat raut wajah Garda yang biasanya tenang dan menghanyutkan sekarang menjadi merah karena marah. Tawa itu terhenti saat melihat Daffa yang tampak serius sesuatu yang tidak diketahui oleh kedua kakaknya.
"Bisa berhenti juga itu tawa mu?" Tanya Garda pada Sang Kakak setelah melempar makanan yang digoreng dadakan itu tepat masuk mulutnya.
"Lagian tadi aku mintanya juga bukan tahu tapi tempe." Lanjutnya.
"Kak Axel kenapa melihat ke Daffa seperti itu?" Tanya Garda dalam hati.
Pemuda yang melihat Kakak Axel itu merasa penasaran hingga dia mengikuti arah pandangan adik bungsunya. Kedua kakaknya tidak menemukan apapun melalui arah pandangannya Sang Adik Bungsu.
"Udah ayo makan!" Ajak Garda dengan menepuk pundak Daffa beberapa kali.
"Dia itu sedang berimajinasi, jangan diganggu." Kata Axel melihat Sang Adik Bungsu terkejut mendapat serangan mendadak dari Kak Garda.
Dreeeeet
Dreeeeet
Dreeeeet
__ADS_1
Benda pipih yg ada di saku celana pendek milik Daffa bergetar hebat hingga membuat sang pemilik terkejut untuk yang kedua kalinya. Dia segera meraih benda itu dan melihat pengirim pesan.
Pesan itu diminta pada seseorang semalam untuk menyelidiki latar belakang seorang wanita. Pemuda itu tidak segera membuka pesan tersebut karena mereka sedang dalam kondisi akan menikmati sarapan paginya.
"Sepertinya ada yang minta jatah tahu bulat itu sampai bergetar saat kita baru mulai makan." Ledek Axel.
"Padahal sudah ada ganda." Lanjutnya.
"Makan itu tempe!" Perintah Sang Adik Bungsu saat melempar tempe pada piring milik sang Kakak yang sudah terdapat nasi dan sayur.
"Tadi katanya minta tempe." Lanjut Daffa.
"Kalian berdua ini memang tidak ada sopan sopannya sama orang tua!" Keluh Kakak Axel.
"Orang tua????" Tanya Daffa tersenyum smirk.
"Orang tua dibilangnya?” Lanjutnya.
"Punya istri dan anak dulu baru bisa dibilang tua." Lanjut Daffa yang hanya baru setengah-setengah mengetahui hubungan Kakaknya Axel dengan seorang gadis.
"Sudah kalian berdua ini mau makan atau mau ngomong doang." Kata Garda menengahi.
Garda sudah tahu kebenaran tentang Sang Papa yang menginginkan Axel segera menikah. Melanjutkan pendidikan ke luar negri itu hanya akal-akalan Papa agar mau Sang Kakak segera mencari pendamping hidup.
Berdasarkan karekter Axel memang susah untuk dekat dengan seorang gadis manapun. Kedua orang tua mereka tidak pernah tahu kalau Axel pernah dekat dengan seorang gadis.
Axel tidak pernah cerita pada semua orang terdekatnya selama dia sendiri belum yakin. Pada akhirnya pupus sudah perasaannya itu.
Hatinya sangat hancur saat itu, dan dia tidak ingin orang lain mengetahuinya. Dia tahu akan ada banyak orang yang akan memanfaatkan ketidakseimbangan pada dirinya itu.
Apa sebabnya Axel putus dari kekasihnya? Super Ganteng, apa saja bisa dikorbankan buat Sang Gadis saat itu.
Kenapa juga Axel harus merahasiakan semuanya pada orang terdekatnya toh mereka secara alamiah sudah tahu? Kembar tidak identik tapi perasaan mereka sangat peka satu terhadap lainnya.
Ketiganya makan dengan lahap walaupun dengan menu gudangan dengan lauk tahu dan tempe yang baru dibeli tadi pagi. Mereka justru sangat jarang makan menu seperti itu hingga semua yang tersaji di atas meja kini habis sudah.
__ADS_1
Apalagi tahu bulat yang digoreng dadakan itu terasa guruh dilidah dan tempe gorengnya. Semua habis tidak tersisa.