
Pemuda itu menggelengkan kepala perlahan sebelum meninggalkan gadis itu sendirian. Dia pergi untuk mengulang berwudhu kembali.
Bella pergi ke sebuah ruangan yang mana disana hanya ada alat olah raga. Pandangannya menuju ke berbagai macam alat di sana.
Di ruang yang tidak jauh dari tempat Bella sekarang berada kini seorang pemuda sedang melaksanakan shalat sesudah mengulang untuk berwudhu.
"Apa dia sepolos itu?" Tanya Axel dalam hati.
"Aku tidak bisa menggunakan dia untuk melupakan wanita itu." Lanjutnya
Pemuda itu pernah berpikir untuk melupakan kekasihnya dengan jalan menggunakan gadis lain. Axel merasa sungguh kejam jika melakukan hal itu.
Pemuda itu menyusul Bella yang ada di ruang yang tidak jauh dari tempatnya sekarang. Gadis itu sekarang terlihat lebih tenang alias sudah pasrah dengan keadaan.
Braak
Tabrakan pun terjadi antara kedua orang yang bukan mukhrim. Saat Bella sudah menutup pintu dan berbalik tiba-tiba pemuda itu menabraknya tanpa sengaja karena pandangannya tertuju pada ponsel miliknya.
"Maaf aku tidak sengaja." Kata Bella melihat pada arah benda pipih yang baru saja terjatuh dari genggaman pemuda itu.
"Cantik sekali." Lanjutnya memuji gadis yang sempat dilihatnya setelah mengambil benda yang baru saja terjatuh dari tangan Axel.
"Hanya wajahnya." Kata Axel lirih sambil menyahut ponsel yang ada di tangan gadis itu.
"Tunggu-tunggu, sepertinya aku pernah melihat dia pada sebuah acara." Kata Bella yang memang sudah pernah juga berjabat tangan dengan foto gadis yang ada di ponsel Pemuda yang ada di depannya.
"Boleh aku pinjam sebentar ponsel mu, ponsel ku terjatuh kemarin saat kejadian kemarin." Kata Gadis itu sedikit ragu-ragu.
"Tidak usah." Kata Bella setelah pemuda itu memberikan ponselnya dengan senang hati.
Pemuda itu mengerutkan kening tidak tahu alasan Bella menolaknya. Bella sendiri takut jika akan membuka semua rahasia tentang dirinya.
Identitas yang sangat dirahasiakan saat ini, keluarga kaya yang tidak memberikan kasih sayang mereka dengan tulus. Bella saat ini ingin bebas dari semua itu, takut jika orang lain mengetahuinya akan memanfaatkannya.
"Pakailah jika butuh." Kata Pemuda itu percaya dengan Bella yang sudah mulai menurut dengan dirinya.
Pemuda itu tahu alasan Bella tidak jadi meminjam karena takut identitas yang sebenarnya akan diketahuinya. Axel sebenarnya juga sudah tahu asal usul gadis itu dari orang suruhannya.
__ADS_1
Gadis itu hanya berusaha tersenyum untuk meyakinkan Axel. Bella penasaran siapa yang ingin menculiknya bahkan mungkin ingin membunuhnya sekarang ini.
"Ikut dengan ku." Ajak Seorang pemuda menarik paksa Bella menuju sebuah tempat.
"Tidak harus begini juga kali." Kata Bella dengan menahan lengannya yang memar sejak kemarin ditarik paksa olehnya.
"Waaaah. Keren sekali." Kata Bella merasa takjub dengan sebuah taman yang terletak di belakang apartemen itu.
"Jika kamu mau kabur letak pintunya di sini." Kata Axel dengan memutar sebuah batu yang menyebabkan batu yang ada di depannya terbuka lebar seperti sebuah pintu.
"Oh." Katanya Bella tidak percaya dengan apa yang didengarkan baru saja.
"Kenapa Si brengsek ini percaya pada ku." Batin Bella.
Bella hanya merasa banyak hal yang disembunyikan di apartemen besar di kota kecil ini. Apartemen yang seharusnya dipakai oleh beberapa penghuni sekarang hanya dimiliki oleh seorang saja.
"Tapi jangan harap kamu bisa kabur dari sini." Kata Axel tepat di telinga gadis itu hingga bulu kuduknya berdiri.
"Ayo." Kata Seorang gadis untuk menepis segala ketakutannya terhadap Axel.
Keduanya duduk di sebuah kursi taman yang cukup lebar. Cukup lama keduanya terdiam mencari bahan obrolan.
"Mau apa tanya nama ku segala?" Tanya Pemuda itu balik.
"Jadi benar mau menjadikan ku mukhrim?" Lanjutnya.
"Iya." Jawab gadis polos itu.
"Jaga ucapan mu Nona!" Kata Axel dengan intonasi tinggi.
"Nama mu Bella kan?" Tanya Axel sedikit menurunkan intonasinya.
"Baiklah panggil aku apa saja terserah dirimu." Kata Pemuda itu.
"Enaknya aku panggil apa ya.......?" Tanya Bella pada dirinya sendiri.
"Orang hutan." Kata Balla yang kemudian disambung dengan tawa renyahnya.
__ADS_1
Pemuda itu hanya melemparkan senyum kemudian beranjak pergi entah kemana. Waktu memang sudah sore mungkin dia akan kembali.
"Jangan coba-coba kabur dari sini jika ingin nyawa mu masih ditempatnya." Kata Axel dengan nada tinggi memperingatkan dan berjalan menuju sebuah ruangan miliknya.
"Mereka yang mengejar mu masih berkeliaran di luar sana." Lanjutnya tanpa menoleh kebelakang.
"Jika aku mati siapa yang perduli." Kata gadis itu lirih tapi masih bisa di dengar oleh Axel.
"Gadis bodoh." Kata Pemuda itu sesudah berlari dan menghimpit badan Bella di sebuah pohon yang besar yang ada dibelakangnya.
"Baiklah jika tidak ada yang peduli pada mu, aku akan..." Kata Axel terputus sambil membelai wajah Bella yang putih halus itu.
Gadis itu perlahan menunduk tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Bella sendiri tidak tahu pemuda yang sekarang ini menghimpit tubuhnya.
Di rumahnya sendiri keluarganya bahkan orang tuanya seperti mereka tidak memiliki kasih sayang. Mereka seakan tidak peduli dengan keinginan putri mereka, sekarang dilecehkan hingga membuat gadis pasrah.
"Kenapa tidak kamu teruskan?" Tanya Bella dengan menunduk dan air mata yang keluar dengan derasnya.
"Siapa yang peduli pada ku?" Tanya gadis itu lagi.
"Keluarga ku saja tidak mau tahu selama ini tentang aku." Lanjutnya lagi dengan badan yang sudah luruh ke tanah saat Axel mengendurkan himpitannya.
"Kenapa tubuh ku bereaksi padanya saat sequisinya menempel pada ku." Batin Pemuda beranjak pergi meninggalkan Bella sendirian.
Pemuda itu pergi ke kamarnya ingin menetralisir dirinya yang juga sedang patah hati dan sekarang dia tidak mau memanfaatkan gadis lain untuk melupakan mantan kekasihnya itu. Gadis manapun selama ini tidak mampu membangkitkan gairahnya seperti sekarang, bahkan mantan kekasihnya.
Bella kini sedang bersimpuh ditempat yang sama. Dia melamun setelah banyak air matanya yang keluar.
Gadis itu selama ini sangat kuat dalam menghadapi apa pun, termasuk rasa kecewa pada keluarganya. Bella tidak tahu kenapa sekarang dia sangat lemah ketika merasa orang lain melecehkan dia.
Pemuda itu keluar dari apartemennya setelah shalat Dhuhur. Dia hendak menemui seseorang yang ahli dalam mencari informasi.
Pemuda itu pergi mencari informasi bukan hanya dari satu orang tetapi beberapa orang hingga larut malam. Kini waktu menunjukkan pukul 21.00 dia baru sampai di villa dan bertemu dengan saudaranya.
Mereka berpapasan setelah Garda menyapa seorang gadis yang menjadi suster buat Sang Adik. Pemuda itu tahu kejadian yang terjadi di Villa dari Garda.
Flash On
__ADS_1
Mereka bertiga tidak perlu banyak bicara untuk menjelaskan segala sesuatu. Semua hati dan pikiran mereka sudah menjadi satu sejak dalam kandungan.