
Mata Daffa terpejam hingga pagi, bahkan ketika matahari sudah naik pemuda ini masih bermalas-malasan di atas tempat tidurnya. Gadis itu selalu muncul dan hilang dari pikirannya sejak pertama bertemu tentunya.
Pemuda itu berusaha menepis segala pikirannya itu dengan bertingkah dingin padanya. Dia masih tidak ingin terikat dengan siapapun saat ini.
Kedua saudara kembarnya sudah berkelana kemana pun mereka mau setelah sarapan. Dilihat jam yang tergantung di dinding seorang gadis menunggu satu orang tuannya untuk sarapan di sana tetapi tidak terlihat juga batang hidungnya.
"Tumben Tuan Daffa tidak ikut sarapan." Batin Hafsa yang duduk di meja makan sendirian.
"Diakan paling banyak makannya." Lanjutnya.
Gadis itu tidak menyadari dari tadi seorang pemuda memperhatikan gerak-gerik gadis yang ada di ruang makan. Dia terlihat gelisah saat duduk di kursi saudara kembarnya Daffa itu.
Gadis itu meletakkan kepalanya di atas meja kemudian menopangnya kepalanya dengan kedua tangannya dilakukan berulang kali. Garda yang melihat gadis itu dari kolam renang hanya menggelengkan kepala perlahan.
Pemuda itu tidak tega melihat Hafsa seperti itu dari tadi. Dia pun menghampirinya sambil mengambil minuman dingin yang ada di lemari pendingin.
"Antar saja makanan ke kamarnya." Celetuk Seorang pemuda setelah meneguk minuman yang baru saja diambilnya.
"Saya tidak berani mengantarjannya Tuan." Jawab Gadis itu jujur.
"Siapkan saja untuk ku letakkan pada rantang makanan." Titah Axel yang sedang menuruni anak tangga.
"Kenapa harus diletakkan dirantang kenapa tidak di piring saja?" Tanya Garda.
"Di tempatku cuma ada minuman dan buah mana tahu dia kelaparan." Jawab Kak Axel.
"Jadi Kakak mau ke sana?" Tanya Garda.
"Hati-hatilah Kak sedikit perhatian bisa meledakkan dunia." Lanjutnya.
"Jaga mulut mu itu!" Kata Kak Axel memperingatkan.
"Aku juga senang jika dia jadi kakak ipar ku." Kata Garda yang teringat dengan perintah Papa mereka.
"Jika dilihat-lihat dia gadis baik-baik." Lanjutnya.
Axel yang mendengar kata-kata Garda segera mengambil sandal rumahan yang sekarang dipakainya. Dia ingin melempar sandal itu pada Sang Adik tetapi Garda sudah lari terbirit-birit.
__ADS_1
Seorang gadis yang berada di dapur kini sedang menyiapkan makan sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Tuan Muda pertamanya. Saat perdebatan yang baru saja terjadi antara kakak beradik di ruang makan tadi tidak didengarkan oleh gadis itu.
"Makanan yang tadi masih bisa dihangatkan bukan?" Tanya Tuan Axel dengan nada yang dingin.
"Hangatkan sebentar dan antarkan pada Tuan Muda Daffa." Titah Tuan Axel.
"Maaf, Tuan..." Kata Hafsa terputus.
"Jangan membantah, Dia tidak akan marah. Bukan pertama kalinya masuk kamarnya kan?" Cerocosnya.
"Dari mana Orang itu tahu aku pernah masuk kamar adiknya?" Tanya Gadis itu dalam hati.
"Pasti ada CCTV tersembunyi di sana." Lanjutnya.
Pemuda itu tahu apa yang ditakutkan oleh Hafsa saat ini. Axel yang sudah menerima makanan yang di masukkan dalam rantang itu segera pergi meninggalkan ruang makan dengan segera.
Gadis itu tidak berniat menghangatkan makanan itu lagi. Dia langsung mengantarkan sarapan ke kamar Daffa.
Kedua saudara kembarnya itu sejak tadi hanya mengamati Hafsa yang menyiapkan dan mengantarkan sarapan Sang Adik ke kamarnya. Mereka tahu kalau Hafsa adalah gadis yang baik untuk adiknya.
Hubungan antara Sang Adik dan gadis yang baru saja tinggal di villa itu mereka sangat berharap ada hubungan lebih. Status gadis itu sampai sekarang masih menjadi tanda tanya setelah tinggal di sana.
Tok tok tok
Suara sebuah pintu kamar di ketuk dari luar perlahan. Hafsa tidak mendengar sebuah jawaban cukup lama dari penghuninya.
Ceklek
Hendl pintu dibuka perlahan oleh seorang gadis. Dia mengedarkan pandangan di seluruh ruangan tapi tidak terlihat pemuda yang dicarinya.
"Bukankah tadi malam laki-laki itu semalaman berada di balkon." Batin gadis itu setelah melihat ditempat itu tidak ada orangnya.
"Selama ini aku lihat dia bukan tipe orang yang pemalas." Lanjutnya.
"Bahkan bangun paling awal dari semua saudaranya." Lanjutnya berjalan mendekati kamar mandi.
Pintu kamar mandi itu terlihat tertutup dengan rapat. Hafsa mulai menempelkan telinganya pada pintu itu.
__ADS_1
Makanan yang dibawanya kini diletakkan di atas nakas. Di sampingnya seorang pemuda berada di bawah selimut mendengar langkah kaki seseorang masuk ke dalam kamarnya perlahan dan perlahan.
Daffa mencium bau harum seseorang yang tidak asing baginya. Bau yang minyak wangi yang jelas bukan milik saudaranya.
Gadis itu tidak berani menyentuh seseorang yang ada menutupi seluruh badannya dengan selimut. Dia hanya melihat sebuah selimut yang menonjol berbentuk sebuah badan badan seseorang sedang meringkuk.
Praaaang
Suara sesuatu benda terjatuh dari nakas hingga membuat lantai itu kotor. Benda itu terjatuh karena tersenggol dengan badan yang kecil milik seorang gadis.
"Lepas Tuan." Pinta seorang gadis yang meronta di dalam selimut, bahkan seluruh tubuh gadis itu ikut terbungkus di dalamnya.
"Aku bukan Tuan mu." Kata Daffa tegas sambil memeluk gadis itu.
"Kapan kamu menjadi Pembantu di villa ini?" Tanyanya tegas.
"Aku belum setuju dan memberitahukan kepada seluruh penghuni di sini untuk jika kamu adalah seorang pembantu." Lanjutnya lagi dengan nafas yang terendah engah seakan menahan rasa sakit.
"Hangatkan." Perintah Daffa memeluk erat gadis yang ada bersamanya di bawah selimut tebal itu.
"Baiklah akan aku lakukan." Katanya sambil berusaha melepas pelukan erat pemuda itu.
"Bagaimana aku bisa menghangatkan makanan itu sekarang kalau kamu memegang ku sekuat ini." Kata Hafsa setelah mengurangi tenaganya berusaha untuk melepaskan pelukan laki-laki itu.
"Aku kedinginan sekarang, AC sudah aku matikan tetapi badan ku sekarang masih terasa sangat dingin." Jelas Daffa dengan suara yang sangat rendah.
"Maaf aku tidak bermak...." Kata Pemuda itu terpotong dan Daffa merasa malu diketahui seorang gadis kalau sekarang dia sedang sangat lemah.
"Baiklah tapi sekarang lepaskan dulu aku." Kata Gadis itu memotong kalimat Daffa.
Gadis itu baru merasa aneh saat merasakan tubuh kekar yang sangat kuat memeluknya tadi mengalami kenaikan suhu. Badan Daffa sangat panas sekarang dan gadis itu merasa khawatir dengan keadaannya.
Pemuda itu tetap saja memeluk erat tubuh kecil itu. Hafsa tetap saja sedikit memberontak tetapi dengan tenaga yang cukup kecil.
Daffa saat ini merasakan ada perasaan yang sungguh sangat berbeda. Badan yang dimilikinya memang terasa sangat sakit tetapi ketika aroma yang melekat pada tubuh itu menusuk hidungnya sekarang perlahan seperti sebuah hipnotis yang membuatnya bisa lebih kuat.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
__ADS_1
Menusuk hidung bukankah justru akan membuat sakit hingga bisa keluar darahnya.
Ini Authornya terlalu berimajinasi kah hingga Sang Tampan merasakan menjadi berkurang sakitnya ketika hidungnya tertusuk. 🤭🤭🤭