Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Sebuah Penjelasan


__ADS_3

Siapa yang menyangka Daffa disergap oleh dua orang pengintai. Semua kakaknya selalu mengawasi gerak-gerik yang dilakukannya.


Sejak pagi mereka selalu mengintai setiap pergerakan di dalam villa. Hal itulah yang ketiga bersaudara itu lakukan setiap mereka pergi ke villa itu.


Ruang monitor CCTV berada di kamar utama milik sang Kakak. Kakak perempuannya yang sangat ceriwis tapi baik hati.


Kunci ruang kamar itu hanya dimiliki dibawa oleh pemilik kamar itu sendiri sedangkan untuk cadangan kunci dibawa oleh Daffa. Kunci cadangan itu diberikan oleh Kakak perempuannya secara langsung.


Kakak perempuan itu selalu mengingatkan semua hal yang terbaik untuk kehidupan masa depan adik-adiknya. Apa lagi adik yang paling kecil itu berbeda dari kedua kakaknya yang sedingin es antartika.


Axel dengan kepintarannya ngecek rekaman CCTV yang ada di kamar melalui ponselnya. Dia sendiri sudah tahu kode untuk membuka rekaman itu.


Semua tempat kini terpampang jelas di layar monitor tablet miliknya. Disetiap tempat dia selalu bekerja dan kuliah mana ada melupakan kekasihnya yang satu itu.


Garda keluar dari tempat persembunyian menuju garasi yang sudah tertutup. Ada jalan lain di sana yang bisa digunakan untuk keluar masuk tanpa diketahui orang lain kecuali orang-orang tertentu.


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki terdengar sangat jelas mendekat. Daffa mengernyitkan kening mendengar langkah kaki tersebut.


"Haduh ketahuan gue." Kata Daffa lirih sambil mengendap-endap mengambil barang yang masih ada di atas motornya.


"Jadi ini perilaku seorang Daffa yang selalu mengandap-endap seperti maling." Kata Garda tegas.


"Benar-benar mempermalukan nama keluarga." Lanjutnya.


"Ini kan tempat ku sendiri kenapa harus mengandap-endap seperti maling." Elaknya.


"Aku kan bebas melakukan apa saja." Lanjutnya.


"Kalau semua gadis mu tahu pasti mereka akan menertawai mu." Ledek Sang Kakak.


"Lupa mau mengambil barang ku." Kata Daffa berjalan menuju motor yang mesinnya masih sangat panas itu dan mengambil barang belanjaan yang sengaja dibelinya bersama seorang gadis yang sudah dianggapnya sebagai adik.


"Alah modus." Kata Garda yang sangat mengenal adiknya itu.


"Modus siaga selalu." Sambung Daffa membawa buah tangan untuk melindungi diri dari berbagai macam pertanyaan dari kedua kakak yang selalu kepo terhadapnya.

__ADS_1


Ketahuan sudah Daffa yang ingin melarikan diri dari jeratan kedua kakaknya. Dia sekarang sudah pasrah dengan semua keputusan dari hakim.


"Sial." Gerutu Sang Adik saat berjalan matanya sempat menangkap benda dengan ukuran mikro yang sejak tadi mengintainya.


Daffa baru menyadari ada CCTV yang mengintainya sejak tadi maka dari itu dia ketahuan pulang dengan mengandap-endap seperti seorang pencuri. Beberapa hari sebelum kedatangan kedua kakaknya itu dia malah tidak kepikiran mengecek CCTV di beberapa titik.


Mengetahui kedua adiknya sudah masuk ke dalam rumah Axel segera masuk ke ruang sidang alias ruang kerja. Axel sudah siap di kursi kebesaran dengan berbagai hal yang akan ditanyakan pada sebuah penjelasan atas apa yang kemarin mereka lihat saat di taman kemudian menghilang semalaman.


Daffa hendak naik menuju kamar miliknya yang terletak di lantai atas sang kakak yang berjalan dibelakangnya segera menarik kerah baju adiknya itu. Sang Adik pun tak berdaya karena memang dia harus memberikan sebuah penjelasan pada mereka.


Kewajiban memberikan sebuah penjelasan bukan karena takut tetapi karena dia menghormati anggota keluarga lainnya. Setiap terjadi masalah mereka juga selalu siap membantu semaksimal mungkin bahkan nyawa saja bisa mereka berikan.


"Iya iya aku kesana." Kata Daffa.


"Akan aku jelasin semuanya." Lanjutnya.


Mereka berdua segera menuju ruang kerja. Di sana sang kakak sudah menunggu di kursi kebesaran dengan ekspresinya yang datar.


Axel pindah duduk di sofa bersama kedua adiknya. Mereka dengan santai mendengarkan penjelasan dari adik bungsunya secara seksama.


Adik bungsu mereka menyembunyikan beberapa hal dari mereka yaitu sebuah villa yang terletak di pinggir pantai dan beberapa hal lain. Beberapa hal yang tidak diceritakan oleh adiknya itu pun tidak dipermasalahkan oleh mereka.


"Terus kalau berbicara tentang seorang gadis, gimana kabar gadis yang ada di kamar belakang?" Tanya Daffa tiba-tiba yang membuat kedua kakaknya itu menggelengkan kepala perlahan.


"Kamu itu kalau masalah cewek selalu saja ingat." Kata Axel.


"Apa gak salah?" Tanya Daffa.


"Salah berapa Pak guru?" Tanya Garda.


"Terus gimana kabar gadis yang kamu bawa naik motor itu?" Tanya Axel dengan serangan balik.


"Baik sekali." Jawab Daffa dengan santainya.


Axel sudah menduga bahwa sang adik akan menjawab dengan santai berbeda dengan dia dan Garda yang tidak pernah dekat dengan namanya gadis. Axel terus mengingat wajah gadis yang bersama sang adik sepertinya sangat familiar.


Makan siang kali ini mereka bertiga makan di villa dengan menu yang telah dibuat oleh ART yang sudah ahli dalam hal makanan bergizi. Mereka bertiga tidak banyak menuntut mengenai makanan.

__ADS_1


Sedikit berbincang di ruang makan setelah menyelesaikan makan mereka sudah menjadi hal yang biasa. Daffa mengernyit tatkala mengedarkan pandangan kesegala sudut ruangan.


"Kemana gadis itu?" Tanya Daffa.


"Siapa?" Tanya Axel.


"Gadis yang baru datang alias calon kakak ipar." Ledek Daffa


"Maksud mu calonnya siapa? Tanya Axel yang tidak peka telah di singgung.


"Calon mu kakak." Jawab Daffa.


"Kok bisa?" Tanya Axel yang memang seorang laki-laki polos perlu dipoles.


"Bisa aja." Kata Garda menengahi mengingat berapa khawatirnya sang kakak saat gadis yang baru saja dikenalnya itu sakit.


"Kalian ini ada-ada saja." Kata Axel sambil mengundurkan kursi yang tempat dia duduk kemudian beranjak meninggalkan ruang makan.


Kedua adiknya itu berlari menyusul sang kakak yang hendak menghindar. Di dalam hati Axel sebenarnya juga tidak tahu kenapa kemarin dia perhatian dengan Hafsa.


Daffa sekarang yang butuh sebuah penjelasan dari sang kakak. Garda pun menyadari ada hal yang diluar dugaan pada sang kakak.


Axel kembali ke ruang kerja untuk menyelesaikan tugas akhirnya. Kedua adiknya yang menyusul tidak bisa berkata apapun jika sang kakak sudah berada di depan layar.


"Sebenarnya kalian ke sini tanpa angin tanpa hujan ada masalah apa yang perlu dibicarakan dengan ku?" Tanya Daffa.


"Tidak, biasanya juga begitu kan?" Elak Axel yang masih menatap monitor.


"Biasanya kalian nyusulnya setelah semingguan ini juga baru beberapa hari." Kata Daffa.


"Sudahlah kak, diantara kita bertiga mana bisa membohongi satu sama lain. Katakan saja yang sebenarnya pada saudara kita yang satu ini." Nasehat Garda.


"Jelaskan saja pada adik kita ini. Mungkin dia punya jalan keluarnya." Kata Garda menatap Kakaknya yang masih fokus dengan laptopnya.


Klik


Suara laptop di tutup perlahan oleh yang punya. Axel kini menatap kedua saudaranya secara intens.

__ADS_1


Garda memang sedikit banyak sudah tahu pokok permasalahan yang dihadapi sang kakak. Menurutnya memang sudah tidak ada alasan buat sang kakak untuk menolak permintaan kedua orang tua mereka.


__ADS_2