
Pemuda itu melihat kepulan asap hitam dari atas kompor. Dia dengan sigap berlari mendekati sumber asap hitam itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Axel dengan begitu bodohnya sambil menarik lengan Bella yang sudah terbatuk-batuk akibat kepulan asap yang diciptakannya.
"Aku hanya ingin memasak sesuatu." Jawab Bella dengan terengah-engah karena menghirup sedikit asap.
"Bilang kalau gak bisa masak!" Kata Axel sambil mengatasi peralatan yang hampir terbakar.
"Hampir membakar hati ku sudah membakar tempat ini dulu." Kata Pemuda itu dengan intonasi yang sedikit tinggi hingga terdengar begitu jelas ditelinga Bella.
Mendengar pernyataan yang tidak pernah disangka dari Pemuda yang menyelamatkannya jiwa tetapi juga menyakitinya dia tidak bisa berpikir dengan baik. Gadis itu hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Kondisi yang sedikit membuat panik seperti kejadian baru saja mana bisa berbohong. Bella lebih memilih percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Pemuda itu.
Dapur sudah terkontrol kondisinya tetapi kedua orang yang ada di dalam sana masih berperang dengan hati dan pikiran mereka. Keduanya masih mencari oksigen untuk sampai ke otak mereka agar pikiran mereka jernih.
Gadis itu saat ini hanya bisa berandai-andai mendapatkan seseorang pasangan hidup yang bisa mengerti akan dirinya. Hidup dalam sebuah kemewahan tetapi tanpa kasih sayang seperti sekarang ingin dia tinggalkan sesegera mungkin.
Axel yang baru saja patah hati melihat kekasihnya bersama dengan laki-laki lain merasa hatinya sangat sakit. Bersama seorang gadis saat ini dia sendiri takut menjadikan akan menjadikannya sebuah pelarian.
"Apa yang dikenakannya." Batin Bella saat menyadari apa yang dipakai oleh pemuda yang membantunya mencegah kebakaran yang akan diciptakan.
Bella menundukkan kepala melihat pemandangan yang tanpa sengaja dilihatnya itu. Pemuda itu tidak sadar dengan kostumnya saat ini.
Axel berdiri dengan badan tegap dan kedua tangannya berada di pinggang. Pakaian kimono yang dikenakan sedikit terbuka hingga menampilkan bagian-bagian tubuhnya yang menggoda iman.
Tap
Tap
Tap
Pemuda itu menggelengkan kepala perlahan kemudian berjalan mendekati gadis yang sedang mengontrol emosi matanya. Axel melihat gadis itu menundukkan kepala.
"Tatap aku!" Kata Axel dengan intonasi sedikit meninggi.
__ADS_1
"Jangan menunduk terus!" Lanjutnya.
"Kalau aku melihat mu seperti itu mata ku akan ternodai." Kata Bella mencoba perlahan.
Pemuda itu akhirnya baru menyadari apa saja yang dikenakannya sekarang. Axel mencoba menahan malu karena keteledorannya.
"Tunggu aku di sini, jangan kemana-mana!" Pinta Axel pada seorang gadis yang masih tertunduk malu dengan wajahnya yang memerah.
"Hem." Jawab gadis itu menertawakan Axel dalam hati.
Pemuda itu pergi menuju ke kamarnya dengan perasaan malu bercampur jengkel. Ada rasa senang juga melihat Bella yang sudah mau membuka mulutnya.
"Mau ditaruh dimana muka ku sekarang?" Kata Axel menggerutu.
"Apa aku sudah sepikun itu hingga aku harus berpura-pura tidak tahu malu." Lanjutnya.
"Oh tidak, kekasih ku yang sekarang tidak jelas itu saja belum pernah melihat aurat ku." Lanjutnya lagi.
Pemuda itu langsung mengganti kimononya dengan pakaian rumahan. Dia terlihat sangat tampan dengan pakaian yang dikenakannya itu sekarang.
Keseharian yang selalu mengenakan kemeja berkerah yang dipadu dengan celana formal membuatnya sangat terlihat berbeda. Berbeda juga dengan penampilan sang adik bungsu yang terlihat sederhana tetapi selalu mengikuti trend.
Axel segera kembali ke dapur untuk menemui gadis yang telah menimbulkan kekacauan di sana. Langkahnya terhenti di balik pintu saat melihat gadis itu menampilkan sebuah senyum yang terlihat sangat manis.
"Manis." Kata Axel lirih yang sebenarnya bisa di dengar oleh orang yang ada di hadapannya tetapi karena gadis itu sedang dalam dunianya dia tidak mendengar pujian yang baru saja terlontar untuknya.
"Rasanya aku ingin memakannya sepanjang hidup ku." Lanjutnya tanpa sadar.
"Apa yang ada dipikiran ku sekarang ini?" Lanjutnya setelah menyadari apa yang baru saja diucapkannya.
"Apa aku sudah segila itu hingga harus mencari pelarian untuk melupakannya?" Tanya Axel lirih.
Pemuda itu merasa pikirannya sudah tidak jernih lagi. Ditambah lagi kedua orang tuanya yang selalu mendesaknya untuk segera menikah membuat dia semakin frustasi.
Papa Adrean dan Mama Sinta akhir-akhir ini selalu mendesak Sang Putra Sulung dengan alasan usia. Padahal anak muda dengan usia sama dengan dirinya masih bebas menikmati masa muda mereka.
__ADS_1
Kedua orang yang sudah hampir lanjut usia itu beberapa hari yang lalu sudah mengetahui juga kalau Putra Sulung mereka juga tinggal satu atap dengan seorang gadis. Beruntungnya gadis itu gadis yang baik walaupun keluarga mereka hanya mementingkan diri mereka sendiri.
Sang Papa lebih cepat bergerak karena sudah banyak makan garam. Semua gerak gerik ketiga putranya tidak luput dari pengawasannya.
Garda yang sekarang ini tinggal di sebuah rumah dekat villa milik mereka pun diketahuinya. Kehidupan seisi rumah itu Sang Papa juga tahu.
Axel dengan wajah dingin masuk perlahan hingga gadis itu tidak menyadarinya. Ya gadis itu masih melamun sambil tersenyum tidak seperti sebelumnya.
"Khem Khem." Axel berpura-pura terbatuk perlahan dengan wajah yang masih dingin tapi sebenarnya dalam hati tertawa melihat gadis itu tersadar dan salah tingkah.
"Apa kau sekarang gila karena kejadian baru saja?" Tanya Pemuda itu lanjut.
"Maaf." Kata Bella sambil menegakkan punggungnya saat ini yang sedang duduk.
"Jika Anda minta ganti rugi, maaf saat ini saya belum bisa membayarnya." Lanjutnya terputus.
"Tapi pasti saya akan membayar ganti ruginya." Lanjutnya lagi.
"Mana bisa kamu mengganti semua kerugian yang ada disini." Kata Axel menyombongkan diri untuk menutupi rasa malu karena salah kostum.
"Sekarang semua fasilitas yang kamu dapat dari keluarga mu saja tidak bisa digunakan." Lanjutnya.
"Pekerjaan rumahan saja tidak bisa kamu lakukan." Lanjutnya menyindir Bella.
Gadis itu hanya bisa diam sekarang ini. Bukan tidak mampu membalas semua perkataan Axel tetapi dia masih merasa bersalah dengan kejadian baru saja.
"Dari mana dia tahu aku tidak bisa menggunakan semua fasilitas keluarga ku." Batin Bella.
"Aku lupa dia detektif Konan untuk semua masalah yang terjadi." Lanjutnya.
Bella masih diam tak bersuara karena dia tidak mau berbuat kesalahan lagi. Dia jadi kehilangan senyum diwajahnya karena kedatangan dan ucapan pemuda yang baru saja datang.
Axel melihat luka yang ada di tangan jari Bella. Dia kehilangan salah satu buah yang ada di kulkas.
Axel bisa menebak dengan hilangnya buah itu. Ditambah lagi gelas blender yang tidak pada tempatnya.
__ADS_1
Axel berpikir hanya untuk mengupas buah dan memotongnya haruskah dia sebodoh itu. Kesimpulan yang ada di pikiran pemuda itu bahwa Bella sedang ada banyak masalah yang ada dipikirannya itu.