Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Terbesit Wajah Gadis Yang Belum Sempat Mencuci Muka Setelah Bangun Tidur


__ADS_3

Axel sudah pergi dengan pikiran yang bercabang banyak. Seorang kekasih yang belum jelas statusnya kini, tuntutan orang tua bahkan sampai gadis yang tinggal bersamanya sekarang.


Dia langsung menemui kekasihnya ketika sampai di kota. Menuju sebuah tempat yang dimaksut gadis itu.


Di Kediaman Bunda Azka


Seorang Pemuda tampan sedang bersiap juga pergi menuju kota untuk menemui kekasihnya. Badan pemuda itu sebenarnya juga tidak terlihat baik-baik saja dari luar.


Badan Garda memang cukup kuat walaupun terjadi kecelakaan kemarin. Beruntung tidak terjadi luka yang cukup serius.


Semalam Garda tidak begitu nyenyak dengan tidurnya. Dia masih begitu penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh kekasihnya itu.


Di kamar lain juga terlihat seorang gadis yang justru terlihat sangat segar. Dia dapat tidur dengan nyenyak dengan berselimutkan jaket seorang pemuda.


Gadis itu adalah Yasna yang selalu menganggap sama seorang laki-laki. Gadis yang selalu dibully oleh hampir semua warga tempat dimana dia sekarang ini tinggal.


"Aaaah." Bunyi seorang gadis menguap yang baru saja bangun dari tidurnya yang nyenyak.


"Kesiangan aku rupanya." Katanya lirih.


Yasna meregangkan badannya badannya yang terasa sedikit kaku. Dia segera merapikan tempat tidurnya itu sendiri setelah badannya terasa sedikit enakan.


Brak


Pintu sebuah kamar dibuka secara kasar oleh pemiliknya yang tergesa-gesa. Dia lupa membersihkan dirinya bahkan tidak mencuci mukanya terlebih dahulu.


Bugh


Dua badan orang kini saling bertabrakan begitu saja. Mereka sama-sama saling terburu-buru.


"Mau kemana?" Tanya seorang gadis.


"Aku mau pamit." Jawab Garda dengan perasaan yang tidak enak.


"Baguslah kalau badan mu sudah baikan." Kata Yasna tersenyum di raut wajahnya tetapi menyimpan kekecewaan di dalam hati.


"Jaga diri mu baik-baik." Kata Garda yang meluncur begitu saja untuk memberikan pesan pada gadis yang ada di hadapannya sekarang.

__ADS_1


Keduanya saling menatap cukup lama hingga tanpa sadar ada seseorang yang mengamati mereka sejak tadi. Tersadar Yasna menundukkan kepala sedangkan pemuda yang bersamanya sekarang memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Yasna menundukkan kepala karena tidak ingin terlihat kecewa dihadapan pemuda itu. Merasa kehilangan seseorang yang pernah hadir dalam kehidupannya walaupun hanya dua hari.


"Eh Bunda." Kata Garda saat memalingkan wajahnya perlahan tetapi masih bisa didengar oleh Bunda Azka.


"Kalian terlihat sangat dekat." Kata Bunda hingga keduanya menatap wanita paruh baya itu dengan menunjukkan senyum terbaiknya.


"Sebaiknya kita segera sarapan, ini sudah sangat siang." Lanjutnya saat melihat jam yang melingkar dipergelangan tangan kanannya.


Mereka bertiga berjalan perlahan menuju ruang makan. Wanita paruh baya itu berjalan diposisi paling depan.


Semua menu sarapan sudah tersaji di atas meja makan. Mereka duduk dalam diam saat menyantap menu sarapan mereka.


"Maaf Bun, aku kesiangan jadi tidak sempat membantu." Kata Yasna dengan intonasi yang sangat rendah karena merasa malu ada orang luar diantara keluarga ini.


"Tidak apa Bunda tahu kamu pasti sangat lelah karena tidur larut malam." Kata Bunda yang mengetahui dari lingkar mata sedikit hitam di sekitar mata.


Untuk sesaat Garda menyadari lingkar hitam di sekitar mata Yasna sebelum gadis itu menundukkan kepalanya kembali. Pada saat yang sama juga pemuda itu menyadari akan matanya sendiri yang semalam tidak bisa memejamkan matanya.


"Iya Bunda." Jawab Garda singkat.


"Tidakkah sebaiknya kamu menunggu kondisi badan mu lebih baik." Kata Bunda Azka mencoba memberikan saran.


"Tidak Bun, ada yang sudah menunggu saya di kota." Kata Garda saat menatap seorang gadis yang masih menundukkan kepala.


Garda berharap dapat melihat raut wajah Yasna saat ini. Dia ingin tahu ekspresi wajah gadis itu.


Sebuah motor berhenti di depan rumah Bunda Azka. Semua mata tertuju pada motor itu.


"Maaf Bunda sepertinya motor saya sudah jadi." Kata Garda menatap wanita paruh baya itu dengan penuh kasih sayang.


"Kamu memang benar-benar yakin akan pergi hari ini?" Tanya Sang Bunda untuk kedua kalinya.


"Hem." Jawab Garda singkat.


"Berhati-hatilah di jalan." Kata Bunda Azka memberi pesan seperti memberikan pesan pada anak gadisnya itu.

__ADS_1


"Terimakasih Bunda." Kata Garda kemudian mulai berdiri.


Garda mulai membalikkan badannya setelah melihat seorang gadis yang lebih banyak diam kali ini. Pemuda itu mulai melangkahkan kaki ketika tidak mendapati gadis yang baru saja dilihatnya tidak juga melihat padanya.


"Aku ingin melihat wajahnya lebih lama sebelum pergi tetapi apa yang aku dapatkan sejak tadi dia hanya menunduk terus." Batin Garda sambil melangkahkan kaki perlahan menuju pintu keluar.


Sang Bunda Azka mengantar Garda sampai depan pintu. Pemuda itu mencium punggung tangan wanita paruh baya itu sebelum pergi.


"Yasna sayang, ini ada yang mau pamitan kamu kenapa masih duduk di sana?" Tanya Bunda Azka dengan intonasi sedikit tinggi agar bisa didengar oleh anak gadisnya.


"Iya Bunda sebentar." Jawab Yasna tersadar dari lamunannya.


Gadis itu segera beranjak berdiri dan berjalan agak cepat menuju pintu. Dia melihat seseorang yang sudah bersiap akan pergi dari rumahnya.


Pemuda yang hendak pergi itu melihat kedatangan seorang gadis yang baru saja datang dengan tergesa-gesa. Melihat raut wajah yang sangat natural karena muka yang bangun tidur yang belum sempat mencuci muka itu membuatnya ingin selalu dihadapannya.


"Aku pergi, semoga kita bisa bertemu lagi." Kata Garda pada semua orang yang ada dihadapannya itu.


Yasna masih dalam kondisi mengatur napasnya mendengarkan semua ucapan pemuda yang akan pergi dari rumahnya. Dia menatap punggung Garda dengan perasaan sedikit kecewa.


"Ini Tuan kuncinya." Kata montir yang mengantarkan motor Garda yang baru kemarin diperbaiki.


"Kerja bagus, sangat cepat sepertinya kamu tidak mengecewakan ku." Balas Garda dengan menepuk pundak montir itu.


"Terimakasih Bosque." Kata Montir itu senang mendengar pujian Garda.


Garda segera menaiki motornya dengan gagah walaupun tubuhnya masih penuh dengan luka. Dia menganggukkan kepala sebelum setelah menyalakan motornya.


Wajah gadis yang belum sempat mencuci muka itu sempat terbesit dalam ingatannya saat itu. Sangat terlihat polos sekali dimatanya.


Pada saat yang sama dan tujuan yang sama dengan Sang Kakak dia sama sekali tidak tahu. Mereka berdua saat ini memiliki harapan yang sama untuk bertemu kekasih mereka.


Waktu semakin cepat berlalu hingga tidak terasa senja dengan langit kuning keemasan memperindah suasana kota saat ini. Badan yang belum sempat beristirahat dalam perjalanan bahkan rasa lapar pun terlupakan bagi kedua pemuda itu.


Axel kembali ke kota tetapi dia tidak pulang ke kediaman utama begitu pula dengan adiknya Garda. Keduanya takut bertemu dengan orang tua mereka karena hubungan yang tidak direstui.


Kakak beradik itu langsung memesan kamar hotel untuk bermalam. Hotel yang mereka pesan tidak begitu jauh.

__ADS_1


__ADS_2