Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Power Ranger


__ADS_3

Pemuda itu juga sempat memikirkan keselamatan motor kesayangan Sang Adik. Dia tidak ingin merusak motor kesayangan Daffa yang merupakan hasil kerja kerasnya selama ini.


Dua orang pemuda menggunakan mobil lewat di jalan tepat di mana Sang Kakak memarkirkan motornya. Garda yang melihat Sang Kakak di pinggir jalan melalui kaca spion menepuk pundak Sang Adik memberikan kode padanya.


"Lihat." Kata Kak Garda pada Sang Adik menunjuk kaca spion dengan bahasa matanya.


"Ada apa?" Tanya Daffa mengikuti arah mata Sang Kakak.


"Bukankah itu Motor milik mu?" Tanya Sang Kakak.


"Jadi dia yang bawa, tapi kenapa Kakak kelihatan bingung?" Tanya Daffa dengan mengurangi kecepatan mobilnya dan akhirnya memundurkan mobilnya hingga mendekati Kakak Axel.


"Bawa motor orang tanpa bilang." Kata Daffa ketus.


"Kalian culik gadis yang ada di sebrang sana!" Titah Sang Kakak.


"Kalau hati mu sedang hancur, bukan dengan cara seperti itu melampiaskannya!" Kata Sang Adiknya Daffa yang sudah tahu kakaknya baru kecewa dengan seorang gadis.


"Cepat sebelum terlambat!" Titahnya lagi.


Melihat Sang Kakak diwajahnya itu sangat terlihat cemas mereka pun akhirnya bertindak. Mereka dengan kecepatan tinggi mengemudikan mobilnya melesat menuju seorang gadis.


Daffa sebagai sopir siap tancap gas sedangkan Sang Kakak sudah bersiap untuk memasukkan gadis itu dalam mobil. Garda segera membuka pintu mobil samping kemudi setelah mobil yang ditumpanginya berhenti.


Gadis itu langsung didorong masuk ke dalam mobil setelah pintu penumpang terbuka kemudian Garda pun ikut masuk dan mengunci pintu itu. Gadis itu dibungkam mulutnya sebelum berteriak.


Dor Dor Dor


Suara tembakan itu berulang kali terdengar hingga membuat seorang gadis yang tadi seakan diculik gemetar ketakutan. Kedua pemuda itu terlihat sangat tenang karena mereka memang sudah terlatih dalam segala situasi dan kondisi seperti itu.


Mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi, beruntung seluruh permukaannya anti peluru. Gadis itu melihat seseorang yang mendorongnya masuk ke dalam mobil itu.


"Jangan-jangan ini modus kalian!" Kata gadis itu sedikit curiga.


"Dasar gadis tidak tahu terimakasih." Kata Daffa ketus sambil berkonsentrasi mengemudikan mobilnya karena ada yang mengejar mereka bertiga.


Axel berusaha mengalihkan mobil yang mengejar kedua adiknya itu. Motor itu dengan mudahnya menghalangi musuh yang mencoba mengejar mobil yang dikendarai kedua adiknya.


"Nona sebaiknya anda tenang, atau kami serahkan anda pada mereka." Kata Garda dengan tenang.


"Kami tidak tahu masalah anda dengan mereka, lagian kita juga cuma disuruh tanpa ada penjelasan." Lanjutnya.

__ADS_1


"Anda beruntung bisa naik di mobil kita bersama kita yang ganteng ini." Kata Daffa dengan rasa percaya dirinya yang cukup tinggi seperti biasa.


"Ini rencana kalian kan?" Kata seorang gadis dengan intonasi yang tinggi.


"Kenapa kita tadi bersedia dimintai tolong untuk menolongnya, dia saja tidak tahu berterimakasih." Kata Daffa yang selalu lebih santai dibandingkan dengan kedua saudaranya jika menghadapi sesuatu seperti tadi.


"Turunkan aku disini saja!" Pinta Bella.


"Belum aman Nona." Kata Garda.


"Apalagi pulang ke rumah." Lanjutnya.


Gadis itu seketika diam seribu bahasa memperhatikan kedua orang pemuda yang ada bersamanya saat ini. Melihat penampilan mereka sepertinya sangat berbeda dengan preman suruhan.


Mobil yang dikendarai pun diperhatikan secara detail. Gadis itu akhirnya mengambil sebuah kesimpulan kalau mereka bukan orang biasa.


Mobil itu menuju keluar dari sebuah perkampungan hingga tidak ada seorangpun yang tinggal di sana. Daerah yang hanya ada semak belukar dan pepohonan tinggi yang sengaja dibuat seseorang.


Lokasi itu hanya beberapa orang yang tahu untuk berjaga-jaga jika mereka dalam bahaya. Posisi mereka sekarang hanya berada di tepi saja sudah aman.


Chiiiiiit


Axel menggelengkan kepala dengan cepat berkali-kali karena banyak keringat hingga membasahi rambutnya itu. Kepalanya sekarang terasa lebih dingin sekarang.


Kedua pemuda yang masih ada dalam mobil itu keluar dari dalamnya setelah Sang Kakak melepas helm. Gadis yang ada bersama mereka masih ada di dalam mobil duduk dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Aman." Kata Axel menjelaskan.


"Bagus." Puji Daffa pada Sang Kakak yang sukses mengalihkan perhatian penjahat kelas teri buat mereka.


Gadis yang ada di dalam mobil itu ditarik keluar oleh Daffa dengan paksa. Bella keluar dengan terpaksa karena ditarik kasar oleh salah satu pemuda yang ada bersamanya saat ini.


"Apa mau kalian?" Tanya Bella dengan intonasi yang tinggi.


"Siapa sebenarnya kamu?" Tanya Axel dengan berdiri tegap setelah turun dari motor.


"Siapa aku, apa urusannya dengan kalian?" Tanya Seorang gadis.


"Baiklah bukan urusan kita." Kata Axel terputus.


"Itu dulu, tapi sekarang nyawa mu milik kami!" Kata Axel berjalan mendekati gadis itu yang masih terlihat angkuh.

__ADS_1


Hening


Hening


Hening


Suasana menjadi hening tidak ada suara sama sekali. Mereka memberikan kesempatan pada gadis itu untuk berpikir jernih.


Garda melihat kondisi sekitar walau pun mereka sudah dalam kondisi sangat aman. Sang Adik jangan ditanya lagi, dia justru malah mengabsen setiap inci dari kesempurnaan motor kesayangannya itu.


"Mereka penjahat kelas kakap yang dibayar oleh seseorang untuk membunuh mu." Kata Axel memecah keheningan saat itu.


"Bayaran mereka tidak sedikit." Lanjutnya.


"Jika kamu tidak mengatakannya, tahu sendiri akibatnya." Lanjutnya.


"Kamu cukup Cantik untuk mati muda." Puji Axel tepat di telinga gadis itu hingga membuat bulu kuduknya berdiri.


Mereka memutuskan untuk tinggal di tepi hutan itu untuk sementara agar kondisi menjadi lebih aman. Mereka tidak akan gegabah masuk hutan jika kondisi tidak darurat.


"Gadis itu cantik juga." Kata Daffa setelah menelisik seluruh badan gadis itu dengan matanya.


"Kulitnya halus, cerah tidak seperti kulit orang desa." Lanjutnya lagi.


"Lalu kalian itu siapa?" Tanya Bella mengingat semua yang ada di dalam mobil itu bukan barang biasa tetapi harganya bisa mencapai miliaran. Dia juga melihat motor itu yang juga tidak biasa desain dan juga harganya.


"Aku lihat kalian bukan orang biasa, bukan utusan Papa ku untuk melindungi ku." Kata Bella.


"Kalian bukan pahlawan kesiangankan? Lanjutnya.


"Wah, kalau ditambah dengan dua gadis sebagai tim penyelamat akan jadi power ranger dong." Candanya.


Ketiga pemuda itu saling pandang melihat gelagat gadis yang ada bersama mereka. Gadis ini memang bukan gadis biasa saja, melainkan punya pengetahuan yang luas juga.


"Ikut dengan ku sekarang." Kata Axel menarik tangan kasar tangan gadis itu.


"Pelan sedikit gak bisa?" Tanya Bella ketus.


"Tangan ku sakit." Lanjutnya mencoba melepas cengkraman tangan pemuda itu.


Cengkraman tangan pemuda itu semakin kuat saja. Dia ingin menguji ketahanan dan kekehan gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2