Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Tidak Mirip Dengan Sang Bunda


__ADS_3

Kedua adiknya yang sudah menghabiskan makanan yang dibuat oleh seorang gadis yang baru saja tinggal di villa juga sudah terlelap di kamar mereka masing-masing. Mereka sudah menuju alam mimpi mereka masing-masing.


Matahari pagi telah menyinari bumi. Cahaya mentari pagi menembus gorden jendela sebuah kamar apartemen seorang gadis.


Gadis itu mengerjapkan mata berulang kali untuk memperoleh kesadarannya. Dia duduk dengan kaki lurus kemudian menggeliat untuk meregangkan otot-ototnya.


"Apa yang terjadi dengan ku semalam?" Tanya Bella dalam hati ketika melihat ada sisa makanan di atas nakas.


"Siapa yang memasak?" Tanyanya lagi.


"Tidak mungkin laki-laki itu kan?" Lanjutnya.


Gadis itu mencoba turun dari atas tempat tidurnya saat ini. Dia ingin membersihkan diri karena badannya terasa sangat lengket.


"Mau kemana?" Tanya seorang pemuda yang baru saja masuk membawakan air minum hangat.


"Bukan urusan mu." Jawab Bella dingin mengingat kejadian kemarin yang membuatnya merasa tidak pantas untuk orang lain.


"Kenapa kamu lakukan itu pada ku hah?" Tanya gadis itu pada Axel.


"Kamu pikir aku gadis apa yang bisa kamu perlakukan seperti itu?" Tanyanya lagi dengan intonasi tinggi.


"Maaf." Kata Axel singkat.


"Maaf kamu bilang?" Tanya Bella kemudian dua membalikkan badannya membelakangi pemuda itu dengan menatap langit-langit agar butir bening itu tidak mengalir.


"Sudahlah pergilah dari kamar ini." Kata Bella lagi dengan mengurangi intonasi suaranya takut ketahuan dirinya yang lemah.


Pemuda itu melangkahkan kakinya pergi menuju sebuah taman. Dia duduk sendiri melihat ke dasar kolam ikan dengan air yang cukup jernih.


Axel berharap pikirannya akan jernih seperti air kolam itu hingga ikan yang berenang di dalam sana juga senang. Dia menjadi sangat bersalah tapi apalah daya nasi sudah menjadi bubur.


Pemuda itu tahu sebelum dia pergi dari kamarnya Bella menahan air mata yang akan keluar dari sudut matanya itu. Dia memutuskan untuk meninggalkannya sendiri.


"Buat dia apakah itu ciuman pertamanya." Tanya Pemuda yang sedang dalam masa penjernihan hati dan pikirannya.


"Mana ada gadis sekarang seperti itu?" Lanjutnya membayangkan kejadian yang terjadi kemarin hingga gadis itu pingsan.


Axel merasa ada yang aneh, dia merasa saat melakukannya gadis itu belum terbiasa dengan ciuman itu. Pemuda itu walaupun sudah pernah pacaran tapi tidak pernah melakukannya.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


Di Sebuah Villa Besar Yang Ada Di Desa


Seorang gadis kini bangun lebih awal dari biasanya. Di sekitar mata terlihat lingkar hitam yang cukup jelas.


Hafsa mengambil cream untuk menutupi mata pandanya. Mungkin dia tidak bisa tidur nyenyak semalam setelah apa yang dikatakan oleh Tuan Muda Axel.


Gadis itu memasak seperti biasanya setelah apa yang terjadi kemarin. Daffa sendiri merasa badannya sudah lebih baik hingga dia bangun lebih awal dan pergi joging di sekitar desa itu.


"Huuuf." Pemuda itu membuang nafas kasar setelah duduk di sebuah taman tempat biasa dia bermain sepak bola.


Butir keringat muncul di sekitar tubuhnya yang suspeck. Daffa mengelap keringat itu perlahan dengan menggunakan handuk yang dibawanya dari villa.


"Lama tidak bertemu." Kata Yasna.


"Lupa dengan ku karena sudah banyak merepotkan mu?" Tanya seorang gadis yang pernah diajaknya ke sebuah pantai karena pikirannya sedang kalut.


"Ngawur." Kata Daffa singkat


"Mana mungkin aku lupa dengan adik perempuan ku yang cantik ini." Lanjutnya lagi setelah terjeda lama.


"Kalau begitu kamu juga sama menganggap ku seperti apa yang mereka semua pikirkan setelah sekian lama." Jelas Yasna tersirat sebuah kekecewaan pada pemuda yang saat ini bersamanya mengira berpikiran buruk tentangnya.


"Huus." Kata Pemuda itu menempelkan jari telunjuknya pada mulut gadis itu sambil menggelengkan kepala.


"Tapi ngomong-ngomong beberapa hari yang lalu aku melihat seseorang yang mirip sekali dengan Bunda." Kata Pemuda itu.


"Dia seorang gadis yang cantik." Lanjutnya.


"Jadi karena ada gadis cantik yang muncul di depan mu sekarang kamu melupakan ku." Kata gadis itu dengan melipat kedua tangannya di depan dada berpura-pura marah.


"Iya benar, mungkin masa muda Bunda Azka juga sangat cantik seperti gadis itu." Kata Daffa memuji Bunda Azka.


Gadis yang bersama Daffa saat ini berfikir keras karena merasa dia sendiri selalu bercermin tidak mirip dengan Sang Bunda. Yasna juga cantik natural seperti Sang Bunda tapi jika dilihat tidak ada sesuatu yang melekat dari Sang Bunda padanya.


Gadis itu berdiri secara tiba-tiba dan melangkahkan kaki beberapa kali saja. Dia berhenti tanpa berbalik badan.


"Kamu benar, banyak hal yang berbeda antara aku dan Bunda." Katanya dengan suara sedikit bergetar.


Gadis itu pada akhirnya melangkahkan kaki semakin cepat. Daffa tahu dia pasti terluka hatinya dengan fakta yang diucapkannya baru saja.


Sang Kakak tanpa sengaja melihat Yasna dengan mata sedikit merah karena menahan air mata yang akan jatuh. Dia melihat gadis itu secara seperti wajah seseorang yang pernah dikenalnya di kota.

__ADS_1


"Apa kamu mau mendapatkan perawatan lagi?" Tanya Sang Kakak.


"Baru juga pulih sudah mau nyakitin hati gadis lagi?" Lanjutnya.


"Semuanya tidak seperti yang kakak pikir." Jawab Daffa santai.


"Lalu kenapa gadis itu matanya merah?" Tanya Garda.


"Kenapa juga kakak perhatian padanya?" Tanya Sang Adik tanpa menjawab pertanyaan Garda.


"Jika itu berhubungan dengan mu maka kami juga harus bertindak." Jelas Sang Kakak.


"Apa kamu lupa dengan kejadian tempo dulu?" Tanya Sang Kakak lagi.


Pemuda itu hanya menggelengkan kepalanya ingat semua kejadian waktu dulu. Kedua kakaknya yang telah menyamarkannya dari bahaya itu.


Matahari sudah semakin naik hingga mereka memutuskan untuk pulang ke villa. Yasna sendiri juga menuju rumahnya yang tidak jauh dari taman.


Yasna sejak dulu selalu kepikiran juga mengenai segala hal tentang dia yang tidak mirip dengan Sang Bunda. Kepercayaan akan semua yang diajarkan oleh wanita paruh baya itu selalu meyakinkan dan menguatkannya.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Suara sebuah ketukan pintu membuat seorang gadis yang sedang berdiri berada tepat di depan cermin besar itu segera menghapus jejak kesedihannya. Dia segera membuka pintu kamarnya perlahan.


"Bunda tidak di ajak masuk?" Tanya Sang Bunda penasaran ingin melihat kondisi putrinya sejak melihatnya masuk dengan tergesa-gesa.


"Kenapa tidak." Kata Seorang gadis menampilkan senyum palsunya itu.


"Berapa bulan kamu libur?" Tanya Sang Bunda berjalan menuju tempat tidur Sang Putri.


"Kenapa Bunda bertanya seperti itu?" Tanya Yasna yang berjalan dibelakang Sang Bunda.


"Sepertinya kali ini Bunda ku yang cantik ingin mengusirku." Kata Yasna.


"Tidak bukan begitu, justru sebaliknya. Bunda ingin selama kamu liburan kita hanya meluangkan waktu untuk kita." Jelas Sang Bunda.


Gadis itu secara tiba-tiba memeluk wanita paruh baya yang ada di depannya. Dia tahu kalau wanita itu tahu apa yang dirasakannya saat ini.

__ADS_1


Perlahan Gadis itu menghapus jejak butir air mata yang mengalir begitu saja sebelum ketahuan Sang Bunda. Berhasil mengontrol dirinya Yasna melepaskan pelukannya itu.


__ADS_2