Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Membalas Dengan Perkataan


__ADS_3

Memakai motor Sang Adik tidak lagi dilakukannya. Para preman jalanan itu pasti akan mengenalinya jika dia memakainya lagi.


Pemuda itu akhirnya menggunakan mobil yang untuk keluar dari markasnya. Dia melajukan mobil menuju tempat kedua adiknya sekarang berada.


"Aman." Batin Seorang Pemuda yang baru saja garasi mobilnya.


Kedua adiknya itu menunggu Sang Kakak yang sedang dalam perjalanan. Mereka sudah sangat lapar kali ini.


Mreeem


Mreeem


Mreeem


Sebuah mobil jep terdengar meraung-raung dari jarak yang masih sangat jauh. Sang Kakak sudah siap membawa kedua adiknya itu keluar dari tepi semak belukar dari jalan lain.


Beberapa jalan alternatif yang memang sengaja dibuat mereka sejak dulu jika menghadapi situasi seperti sekarang ini. Mereka sekarang bisa tertawa lebar setelah melewati bahaya kali ini.


Mobil sang Kakak yang selalu digunakan setiap hari untuk sementara ditinggal di semak belukar itu. Pastinya para preman itu sudah hapal dengan mobil yang mereka gunakan tadi hingga terpaksa harus mereka tinggalkan di sana untuk sementara waktu.


"Bagaimana dengan kondisi gadis itu?" Tanya Daffa.


"Apa kakak sudah melakukannya dengan dia?" Lanjutnya lagi hingga mendapat tatapan tajam dari kedua kakaknya itu.


"Kamu selalu berpikiran ke sana terus walaupun dalam kondisi darurat sekalipun." Kata Axel.


"Kakak ayolah sudah saatnya bersenang-senang." Kata Daffa.


"Kamu itu lapar wanita atau lapar makanan?" Tanya Garda yang sudah sangat lapar karena mereka hampiri melupakan waktu makan malamnya.


"Keduanya." Jawab Daffa singkat.


"Baiklah sebentar lagi keduanya akan terpenuhi." Kata Garda.


Axel menaikkan kecepatan mobilnya menuju villa. Pintu gerbang segera dibuka oleh penjaganya.


Mereka segera masuk ke dalam villa itu dengan tergesa-gesa. Banyak Asisten Rumah Tangga yang tidak mengetahui kedatangan mereka.


Suara mobil yang baru saja datang sangat asing bagi mereka. Mobil jep itu pun baru saja dilihat oleh mereka semua.


Tap tap tap

__ADS_1


Ketiga pemuda itu berjalan dengan langkah lebar. Mereka terlihat sangat gagah, apalagi jika menaiki mobil itu seperti tentara kesasar tempat.


"Mau dibawa kemana semua makanan itu?" Tanya Daffa dengan intonasi tinggi untuk menutupi perasaannya pada seorang gadis yang akan membereskan meja makan.


"Kami saja belum makan." Lanjutnya.


"Maaf saya kira....." Kata Hafsa terputus karena susah untuk mengungkapkannya dengan kata-kata.


"Kami mau makan sekarang, hangatkan saja yang perlu." Kata Kak Axel mencoba membalas semua perkataan Adiknya Daffa tadi saat dijalan.


"Baiklah Tuan." Kata Hafsa.


"Bukan makanan di sini yang perlu dihangatkan tapi salah satu orang di sini." Jelas Kak Axel yang membuat Daffa membelalakkan mata sempurna sedangkan Garda menggelengkan kepala perlahan.


Hafsa tidak begitu peduli dengan kata-kata ketiga tuannya itu. Dia langsung membawa semua sayur yang perlu dihangatkan ke dapur.


Semua sayur sekarang sudah dibawa kembali ke meja makan dalam keadaan hangat. Mereka bertiga segera makan dengan lahapnya.


Kejadian hari ini cukup menguras tenaga dan pikiran ketiganya. Semua makanan yang ada di meja semuanya terkuras habis.


Daffa tahu Sang Kakak mencoba membalas semua perkataannya tadi. Saat mengatakannya dia hampir tidak percaya kalau Kakaknya Axel bisa-bisanya berkata seperti tadi.


Axel selesai mandi hanya menggunakan celana boxer dan jubah mandi menyandarkan badannya di kepala tempat tidur. Dia memikirkan gadis yang ada di apartemennya itu yang sendirian.


Pemuda itu akhirnya tertidur tidak butuh waktu lama. Dia terbangun pada tengah malam dan segera mengganti pakaian tidurnya.


"Bukan waktu yang tepat datang ke sana." Batin Axel.


"Biar gadis itu tenang dulu setelah kejadian hari ini." Lanjutnya.


"Makanan di sana tidak banyak, semoga untuk malam ini cukup." Lanjutnya dalam hati*.


Kedua pemuda tampan lainnya berbeda halnya dengan dirinya. Mereka sejak tadi duduk di balkon kamar mereka setelah mandi.


Seorang gadis yang tinggal di dalam villa itu tidak bisa memejamkan matanya hingga larut malam. Dia memutuskan untuk keluar dari dalam kamarnya itu.


Seorang wanita paruh baya yang tinggal satu kamar dengannya itu tidak mengetahui keluarnya Hafsa dari kamar. Dia berjalan sendirian berjalan di tengah malam menuju kolam ikan yang ada di taman belakang.


Di tempat itu beberapa hari ini Hafsa sering menyendiri. Dia merasa pikirannya lebih tenang dengan melihat ikan-ikan yang bebas berenang.


Daffa secara tidak sengaja melihat gadis itu berada di tepi kolam ikan saat berada di balkon kamarnya. Dia memicingkan mata hingga mengenali gadis yang duduk di tepi kolam itu.

__ADS_1


Pemuda itu ingin rasanya menemui Hafsa tetapi kali ini Dia tidak memiliki alasan. Diurungkan niatnya untuk menemuinya saat ini.


"Masak gadis yang aku suka seperti dia?" Tanyanya dalam hati.


"Tapi jika dilihat gadis yang tadi siang dan Yasna mereka terlihat sama, apa adanya." Lanjutnya.


Daffa melihat gadis itu cukup lama dari balkon tanpa sepengetahuan siapapun. Semakin dilihat pemuda itu semakin tertarik dengannya.


Pemuda itu sendiri tidak tahu apa yang menarik dari Hafsa jika dibandingkan dengan gadis di kota yang lebih cantik. Banyak yang ingin menjadi pacarnya tapi dia sendiri tidak tertarik pada mereka.


"Apa dia masih tidur sekamar dengan Bibi?" Gumamnya yang hanya bisa didengar oleh tokek.


"Mungkin merasa tempatnya sempit hingga membuatnya tidak nyaman." Lanjutnya.


Malam semakin larut dan udara di luarpun semakin terasa dingin. Daffa dan gadis yang berada di tepi kolam itu tidak merasakannya sama sekali.


Kedua kakaknya itu sudah terbang ke alam mimpi mereka masing-masing. Mereka berdua sama-sama memimpikan mantan mereka.


Sama-sama bermimpi tentang seorang gadis tetapi berbeda orang. Beda-beda tipis bukan cuma berbeda orang tapi sama seorang wanita.


Daffa masih berdiri di balkon menatap punggung gadis yang sekarang duduk di pinggir kolam ikan. Dia menunggu sampai gadis itu masuk ke dalam kamar Sang Bibi untuk memastikan jika mereka masih tidur sekamar.


Benar saja Gadis itu beranjak dari tempat duduknya menuju kamar wanita paruh baya yang menampungnya sekarang. Saat berdiri dia baru menyadari ada seseorang yang mengamatinya dari tadi.


Hafsa segera mempercepat langkahnya menuju kamar sebelum orang itu menyadari kepergiaannya. Benar saja Daffa yang hampir ketahuan bersembunyi di balik dinding samping balkon.


"Cepat sekali menghilangnya." Kata Daffa dalam hati.


"Apa dia hantu yang punya jurus menghilang." Lanjutnya.


Pemuda itu pun langsung menuju kamar setelah gadis itu menghilang dari pandangannya. Dia segera merebahkan diri di atas tempat tidurnya karena sudah tidak ada efek hipnotis lagi.


♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️


Kalau tadi Hafsa menghilang tapi kali ini Authornya yang tidak tahu ini sudah larut malam muncul menggangu semua pembaca. 🙏🙏🙏🙏


Hipnotis buat orang normal pasti tertidur.


Kali ini hipnotis buat penggemarnya Daffa, Author samakan ya malem-malem Authornya Up dete biar kalian terjaga.


Author tunggu dukungannya ya jangan lupa like, vote dan sarannya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2