
Anak muda itu terlihat banyak pikiran dari raut wajahnya. Melihat itu semua kakek tidak banyak berbicara.
"Tidak berangkat ke mushola?" Tanya Kakek sesudah menepuk pundak pemuda itu.
"Aku tidak bisa pergi ke sana." Jawab Garda dengan duduk dengan membungkukkan punggungnya.
"Aku tidak mau orang berpikiran lain terhadap kalian." Lanjutnya.
"Ini kampung bukan kota Kek." Lanjutnya lagi dan sesudah itu melihat gadis yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Huuuf." Suara nafas Sang Kakek dihembuskan secara kasar.
Laki-laki lanjut usia itu paham dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Garda. Secara tidak langsung pemuda itu menjaga nama baik keluarga itu.
Laki-laki lanjut usia itu akhirnya pergi sendiri menuju Mushola terdekat. Pemuda itu hanya menatap kepergian Sang Kakek.
Tap
Tap
Tap
Pemuda itu berjalan ke arah seorang wanita paruh baya yang akan menunaikan ibadah sholat. Wanita itu adalah Bunda Azka yang akan pergi berwudhu.
"Oh, nak Garda mau kemana?" Tanya Bunda Azka saat mereka berpapasan dengan pemuda itu tepat di depan pintu kamar Yasna.
"Maaf Bunda saya mau tanya?" Kata Pemuda itu terputus.
"Biasanya di sini shalat dimana ya?" Tanya Garda lanjut.
"Di samping rumah ini ada tempat khusus buat kita yang tidak pergi ke mushola untuk shalat." Kata Sang Bunda dengan menunjuk tempat itu menggunakan jari telunjuknya.
"Oh ya, apa kamu mau wudhu dalam kondisi seperti itu?" Tanya Bunda berjalan beriringan dengan Garda.
"Tidak, aku akan tayamum jika itu yang terbaik. Luka ini untuk sementara memang tidak boleh terkena air, jika tidak akan memperlama penyembuhan atau bahkan bisa saja akan infeksi." Jawab Pemuda itu secara rinci.
__ADS_1
Bruuuuk
Suara seorang gadis terjatuh karena menyenggol bahu Garda yang saat itu dia datang dari arah yang berlawanan. Pemuda tampan tidak sengaja kehilangan keseimbangan itu sebenarnya juga merasa sedikit sakit dibahunya itu.
Bagian bahu itu memang sakit karena terkena benturan dengan aspal saat terjadi kecelakaan itu. Pemuda itu kehilangan keseimbangan tubuhnya juga Sang Bunda tidak sengaja menyenggol bagian samping tubuhnya.
"Maaf." Kata Pemuda itu sambil membantu Yasna berdiri dengan mengulurkan tangan kanannya.
Pemuda itu tidak menyalahkan siapapun karena Dia sendiri tahu hal itu tidak disengaja. Kali ini terasa sangat sakit saat tangannya ditarik tapi sekuat tenaga dia menahan rasa sakit itu.
Gadis itu akhirnya melompat memeluk Garda secara tidak sadar sambil berteriak ketakutan. Gadis itu takut karena ada katak yang entah datang dari mana asalnya.
Bunda teringat dengan kejadian beberapa waktu yang lalu ketika putrinya baru datang dari kota saat liburan tahun ini. Wanita itu tersenyum mendapati adegan yang hampir sama persis saat ini.
"Semoga saja anak muda ini jodoh anak ku." Batin Sang Bunda tersenyum melihat kedua anak muda yang baru saja saling mengenal walaupun Sang Bunda sendiri belum mengenal dengan baik pemuda itu.
Wanita Paruh Baya itu baru melihat berbagai tingkah Garda yang sangat sopan dan hormat pada orang yang lebih tua. Sang Bunda sudah memiliki penilaiannya sendiri terhadap Pemuda itu.
"Bunda sepertinya senang melihat penderitaan orang lain kali ini." Kata Kedua orang pemuda dalam hati bersamaan saat melihat Sang Bunda hanya diam pada tempatnya sambil tersenyum senang.
Pemuda itu kali ini merasakan sakit di seluruh badannya lebih dari sakit yang sebelumnya. Dia pun sampai menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit dan berat tubuh gadis itu.
Gadis itu akhirnya sadar dengan apa yang telah dilakukannya baru saja. Dia telah menganiaya orang lain, membuat menderita orang lain yang baru dikenalnya.
"Maafkan Bunda ya Nak." Kata Bunda tanpa terlihat sebuah penyesalan di wajah Wanita Paruh Baya itu.
"Mau kemana sayang?" Tanya Wanita Paruh Baya itu pada Sang Putri.
"Mengambil barang yang ada di kamar." Jawab Yasna dengan menunduk tidak berani menatap wajah tampan yang telah dianiaya oleh dia.
"Cepat ambil, kita shalat berjama'ah di rumah ok." Kata Bunda mengajak kedua orang yang ada di dekatnya.
Gadis itu berbalik arah pergi menuju kamar tanpa ada sebuah kata dari mulutnya. Rasa bersalah dan malu bercampur menjadi satu hingga dia yang dulu berani menatap Pemuda tampan itu dengan berani sekarang sebaliknya.
Yasna pergi ke kamar dengan langkah lunglai hari ini baginya adalah hari yang sangat sial. Niat hati ingin mencari transportasi umum untuk pergi ke kota malah dia kini dihadapkan dengan sebuah kasus kecelakaan yang berkepanjangan.
__ADS_1
Gadis itu mencari mukena yang dulu pernah diberikan oleh kakak temu besarnya beberapa waktu yang lalu. Mukena itu memiliki ciri khas sendiri yang tahu hanya orang tertentu.
Pada saat itu Daffa berpesan untuk tidak memberikan mukena itu pada orang lain. Mukena juga dibelikan oleh pemuda itu di Mall yang mereka lewati saat itu pula.
Yasna memegang mukena itu dengan kedua tangannya. Dia menatap barang itu cukup lama.
"Sudah dapat barang yang kamu cari?" Tanya Sang Bunda yang hanya mendapat anggukan saja dari Yasna.
"Segera saja sebelum waktunya habis." Lanjutnya.
Meraka bertiga menuju ruangan yang yang di sana memang hanya sebuah hamparan marmer dengan kualitas tinggi. Pemuda itu juga tidak melihat benda apapun juga selain perlengkapan shalat dan kitab suci.
Pemuda itu segera melakukan tayamum sedangkan kedua wanita yang datang bersamanya tadi mengambil air wudhu. Garda segera menempatkan dirinya pada posisi imam karena hanya dia saja satu-satunya laki-laki yang sudah baligh.
Mereka segera melaksanakan shalat setelah kedua wanita itu selesai bersuci dan sudah menempatkan diri mereka di belakang imam. Garda sambil menahan sedikit rasa nyeri bisa surat itu secara fasih.
Pemuda itu tetap menghadap kiblat walaupun sudah selesai. Gadis yang ada dibelakangnya sedang mencium punggung tangan Sang Bunda.
Kedua wanita itu meninggalkan ruangan yang baru saja digunakan untuk shalat setelah selesai berdoa. Garda sendiri belum beranjak dari tempatnya.
Merasa kedua wanita itu pergi Garda berdiri perlahan berjalan menuju sebuah lemari yang berisi mengenai ilmu agama dan juga terdapat beberapa kitab suci Al-Qur'an. Dia mengambil sebuah Al'Qur'an membacanya dengan fasih.
Wanita Paruh Baya itu ke dapur untuk membuat nasi goreng sebagai menu makan malam mereka berempat. Yasna jangan ditanya dia membantu Sang Bunda menyiapkan makan malam.
Nasi goreng yang sudah masak dan semua menu makan malam sudah tersedia di ruang makan dengan sangat rapi. Gadis itu melihat di atas meja makan memang sudah terlihat sempurna.
"Mau kemana sayang?" Tanya Wanita Paruh Baya itu pada putrinya yang hendak meninggalkan ruang makan menuju kamar.
"Panggilkan Nak Garda dong Sayang." Pinta Sang Bunda hingga membuat gadis itu membulatkan mata sempurna.
"Sepertinya dia masih ditempat shalat." Lanjutnya.
"Kenapa tidak Bunda saja." Kata gadis itu menolak halus.
"Aku..." Lanjut Yasna terputus enggan memberikan penjelasan karena malu dengan kejadian tadi
__ADS_1
"Selama ini bukankah kamu..." Kata Wanita Paruh Baya itu terlihat sedih karena untuk pertama kali Sang Putri tidak menuruti apa katanya.
"Baiklah. Aku akan memanggilnya." Kata gadis itu setelah melihat kesedihan di wajah Wanita yang melahirkan dan membesarkannya seorang diri.