
Waktu kini sudah semakin beranjak siang. Mereka berdua bersiap untuk kembali menuju desa yang bisa dikatakan memang lumayan jauh.
Gadis itu pergi ke kamar yang tadi malam buat dia tidur dengan nyenyak. Entah yang membuat tidur nyenyak karena tempat atau karena seseorang yang membuatnya merasa lebih baik disaat dia butuh sandaran.
Yasna masuk ke kamar mandi segera membersihkan diri dengan cepat kilat. Ia segera memilih pakaian yang dipinjamkan Pemuda itu tadi malam.
Daffa masih berada di ruang makan sedang memainkan benda pipih yang ada di tangannya terlihat sangat serius. Tidak berapa lama kemudian dia pun mematikan ponselnya kemudian menuju kamarnya sendiri untuk segera mandi.
Secara cepat Pemuda itu mandi karena tidak ingin orang lain khawatir. Yasna sudah menunggu di ruang tamu dengan pakaian yang diberikan Daffa tadi malam.
Pakaian dengan ukuran yang sama berarti memang sedikit kebesaran. Terlihat gadis itu membawa sebuah kantong kresek yang Daffa sendiri tidak tahu isinya.
"Apa yang kamu bawa itu?" Tanya Daffa saat turun dari tangga.
"Pakaian kotor." Jawab Yasna.
"Biar aku cuci dulu nanti baru aku kembalikan." Lanjutnya.
"Lupakan untuk mengembalikannya, kalau kamu suka ambil saja." Kata Daffa dengan sedikit tersenyum.
"Tidak, aku tetap akan mengembalikannya pada mu." Kekeh Yasna.
"Bi Bibi." Panggil Daffa pada Asisten rumah tangganya yang masih muda itu.
"Tolong berikan pakaian kotor itu padanya." Perintah Daffa pada Yasna.
"Tidak Mbak, biar aku sendiri saja yang mencucinya." Kata Yasna pada ART itu.
"Aku tidak suka dibantah." Kata Daffa tegas setelah menyambar barang bawaannya yang ada ditangannya.
"Hai, di dalem juga masih ada baju ku." Teriak Yasna saat melihat kantong kresek itu sudah berpindah tangan darinya.
"Lupakan!" Kata Daffa tegas.
"Hai itu ba... " Jelas Yasna yang terpotong.
__ADS_1
"Bi cuci baju ini rapikan dan taruh di tempat biasa." Perintah Daffa pada Seorang ART untuk memotong perkataan Yasna.
"Baik Tuan, saya akan segera mengerjakannya." Balas Titin dengan sopan tapi sebenarnya hatinya sangat iri dengan gadis yang bersama Daffa.
"Apa yang membuat Tuan Daffa tertarik dengan gadis itu." Batin Titin.
"Gadis yang tiada lembutnya dan terlihat sangat biasa saja. Pada hal dia kan seorang cassanova kelas atas dengan ku saja tidak tertarik masak dengan gadis macam dia ada perasaan." Lanjutnya.
"Aku yang cantik seperti ini saja dan kulitku yang lebih putih saja dia tidak tertarik. Ada apa dengan Tuan Ku ya? Batin Titin yang memuji dirinya sendiri."
Perdebatan karena baju itu berlangsung dengan sengit. Yasna tidak ingin merepotkan orang lain dan membuat dia merasa berhutang budi.
"Kamu masih menginginkan baju mu itu?" Tanya Daffa yang sudah sangat greget dengan gadis itu sekarang.
"Kenapa?" Tanyanya lanjut.
"Masih muat dibadan ku dan nyaman dipakai. Lagi pula baju mu ini kebesaran." Jawab Yasna sambil nyengir karena belum menemukan alasan yang pas.
"Gampang, nanti aku belikan saat perjalanan." Kata Pemuda itu menarik tangan Yasna untuk segera keluar dari villa.
"Pilihlah yang pas, cocok dan nyaman di badan mu itu." Lanjutnya saat sudah berada di bagasi hendak mengambil motornya.
"Baik Tuan." Jawab Titin.
"Maaf Mbak merepotkan mu. Padahal kita baru bertemu." Kata Yasna.
"Tidak apa-apa Non, itu sudah menjadi tugas saya." Balas Titin.
Mereka berdua diikuti oleh ART yang tergolong masih muda yaitu Titin. Wajahnya terlihat tidak menyukai Yasna saat bersama Tuannya.
Pemuda itu segera menyalakan motor dan meninggalkan villa itu. Dia tidak mau kesiangan sampai di desa.
Pemuda tampan itu mengetahui waktu yang tepat untuk kembali ke desa ketika air sudah mulai surut. Banyak orang yang pastinya akan cemas karena mereka berdua belum kembali.
"Ayo cepat pakai helm & jaket mu!" Perintah Daffa.
__ADS_1
Pemuda itu segera menyalakan motornya setelah Yasna naik ke atas motor. Ada jarak diantara keduanya saat ini. Yasna merasa canggung dibuatnya saat dia sadar sekarang ini.
Motor itu melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi saat sampai jalan beraspal. Pemuda itu menatap ke depan dengan seriusnya.
"Pegangan erat." Teriak Daffa yang menyadari kalau gadis yang sedang membonceng tidak berpegangan dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggangnya.
"Aku gak mau jadi tersangka utama kalau kamu mau mati konyol." Lanjutnya.
Merasakan Pemuda itu mengendarai kendaraan dengan kecepatan penuh hatinya merasa bergetar karena takut. Yasna akhirnya memutuskan untuk melingkarkan kedua tangannya pada pinggang orang yang menjadi sopirnya meski terasa canggung.
Sebuah bangunan tinggi seperti sebuah ruko Daffa berhenti di depannya. Dia pun segera turun untuk mencari semua barang yang dibutuhkan saat berada di villa milik sang Kakaknya Mentari.
Sadar seseorang masih berada di atas motor Pemuda itu membalikkan badannya sambil mengernyitkan dahinya. Gadis itu hanya mengangkat sedikit bahunya dan kedua tangannya berbentuk 'V' dengan telapak tangan menghadap ke atas tanda bahwa dia tidak tahu kenapa harus mengikuti pemuda itu.
"Ayo masuk." Ajak Daffa setelah menghampiri gadis kecil berparas cantik itu.
"Untuk apa kita ke sini?" Tanya Yasna yang masih mematung.
Tanpa menjawab Daffa menarik tangan kecil itu menuju ruko yang kecil bertingkat 2 tetapi lengkap dengan segala perlengkapan yang dijual. Harga membuat seseorang disekitar menjadi enggan untuk berbelanja.
Ruko itu dengan harga yang lumayan tinggi tetapi memiliki kualitas yang sangat bagus dan berkelas. Tidak semua pelanggan mampu untuk membeli barang di sana.
"Masuk dan pilih barang yang kamu mau?" Kata Daffa menunjukkan sedikit senyum di wajahnya.
"Gila." Ketus Yasna menanggapi kata-kata pemuda itu karena dia tahu tidak sembarang orang bisa berbelanja di sana karena harga yang cukup lumayan tinggi.
"Kalau kau tak mau masuk, aku pun tak mau mengantar mu sampai di rumah dengan selamat." Ancam Daffa.
Pemuda itu merangkul bahu Yasna hingga masuk ke dalam ruko tersebut. Semua pelayan toko menyambutnya dengan sangat ramah.
"Sesuai dengan harga atas pelayanan yang mereka." Batin Yasna.
"Uang dari mana untuk membayar semua belanjaan ini." Lanjutnya lagi.
Daffa sebelum berangkat mengantar untuk membeli pakaian yang memang dia inginkan. Semua perkataannya memang dilakukan bukan hanya omong kosong, tapi bukan itu juga tujuannya.
__ADS_1
Jika benar dia mengantar membeli baju bukan di tempat dengan harga yang melambung tinggi juga. Kini yang dilakukan hanya melihat-lihat pakaian tak ada niat membeli bahkan dia juga cuma melihat harga kemudian diletakkan lagi.
Daffa yang sejak tadi berbelanja buah tangan memperhatikan gadis itu yang tiada minat dari harga. Berjalan dibelakang gadis itu mengekor seperti kucing yang hendak minta makan.