Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Air Susu Dari Gentong Yang Sama


__ADS_3

Segera dia berdiri tanpa ada kata yang terucap lagi. Axel berjalan menuju pintu dimana dia masuk tadi.


"Jadi sekarang ini kamu mau kita putus?" Tanya Axel setelah membalikkan badan menatap kedua pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.


"Kamu sudah tahu jawabannya bukan?" Tanya Maida tanpa menjawab pertanyaan kekasih yang baru saja diputuskannya itu.


"Baiklah kalau memang seperti itu. Kalau itu memang sudah menjadi keputusan mu." Kata Axel tersenyum smirk.


Pemuda itu segera berbalik dan meraih handle pintu. Menahan semua rasa kecewa pada gadis itu.


Keluarga besar Axel tidak setuju dengan hubungan dengan Maida yang kerap dipanggil Mai sekarang sudah terbukti dengan sendirinya. Axel sekarang ini juga hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri.


Bruk


Seorang pemuda yang patah hati kini menabrak pemuda lain yang sedang patah hati juga. Keduanya sama-sama terkejut saat keduanya saling menatap.


"Kakak." Pekik Garda setelah menoleh menatap tersangka utama.


"Kamu kenapa bisa di sini?" Tanya Axel pada Sang Adik saat melihat kondisi tubuhnya yang tidak begitu bagus.


"Luka-luka yang ada ditubuh mu itu?" Tanyanya lagi sambil berjalan mengitari Sang Adik.


"Kurang kerjaan sekarang?" Tanya Garda ingin juga mengetahui apa yang dilakukan oleh Sang Kakak di hotel milik keluarga mereka yang sangat jarang mereka datangi itu.


"Memangnya kenapa?" Tanya Kak Axel tanpa menjawab pertanyaan adiknya itu sambil memicingkan kedua matanya.


"Kakak ku yang ganteng ini mulai ngurusi orang lain." Kata Garda menatap inten wajah Sang Kakak


Kedua Pemuda tampan itu tertawa lepas di depan lobi hotel sebelum menuju tempat parkir. Mereka duduk tepat di depan hotel tempat keduanya mengakhiri kisah cinta mereka selama ini.


Keduanya baru sadar jika hampir semua wanita menginginkan sebuah materi yang lebih dari yang mereka inginkan.


Banyak mata yang memandang mereka berdua saat mereka tertawa lepas. Mereka hampir saja dianggap gila oleh banyak orang, apalagi melihat penampilan mereka yang sudah sedikit berantakan.


"Ayo pulang." Ajak Sang Kakak.


"Pulang kemana?" Tanya Garda menatap inten Sang Kakak karena dia sendiri ragu jika pulang dalam kondisi badan yang sekarang ini.


"Luka-luka mu ini dari mana?" Tanya Sang Kakak dengan menunjuk beberapa bagian dibadannya yang masih terlihat ungu.


"Berkelahi? Lanjutnya.

__ADS_1


"Apa aku terlihat suka berkelahi?" Tanya Garda tanpa menjawab pertanyaan Sang Kakak.


Hening


Hening


Hening


Cukup lama keduanya terdiam menatap jauh ke depan. Banyak hal yang mereka pikirkan tetapi mereka bersyukur diputuskan oleh gadis yang belum lama menjadi mantan keduanya.


Seorang pemuda terlihat baru saja datang masuk menuju hotel. Dia terlihat sangat rapi dengan segala penampilannya.


Kakak beradik itu tersenyum smirk saat melihat pemuda yang baru saja masuk tadi. Di dalam hotel sudah ada yang menyambut dengan sangat ramah.


"Apa kamu tahu apa yang aku pikirkan?" Sang Adik pada Axel.


"Sepertinya kamu itu terlalu bodoh." Kata Sang Kakak.


"Kita ini kembar dan dibesarkan bersama minum air susu dari gentong yang sama mana bisa aku tidak mengetahui apa yang ada di otak mu sekarang." Cerocos Sang Kakak lagi.


Keduanya beranjak dari tempat duduk mereka sekarang. Sesaat keduanya melihat ke dalam hotel dengan lampu yang begitu terang untuk menyinari ruangan itu.


Jawaban tidak terdengar dari mulut Sang Adik. Mata Axel akhirnya mengikuti arah pandangan mata Sang Adik.


"Dia kah gadis yang selama ini disembunyikan Garda." Tanya Sang Kakak dalam hati.


"Aku sepertinya mengenalnya dengan baik." Lanjutnya.


Sang Kakak pernah melihat Kristin di suatu tempat bersama dengan kedua orang tuanya. Kedua orang tua gadis itu berusaha mendekati Axel saat itu.


Axel sendiri mengenal kedua orang tua yang akan dikenalkan oleh kedua orang tuanya pada sebuah acara. Kedua orang tua Axel mengenalkan orang tua Kristin hanya agar mereka kenal saja tidak lebih.


Tuan Adrean tahu kalau keluarga Kristin tidak begitu baik perilaku mereka. Saat itu Axel langsung meninggalkan kedua orang tuanya setelah berpamitan.


Pemuda itu duduk menyendiri sambil memainkan benda pipih yang ada di tangannya itu. Matanya terus saja mengamati keluarga yang baru saja dikenalkan oleh kedua orang tuanya.


Pada saat itu dia tahu gadis itu juga seorang gadis mendekat pada orang tuanya yang sedang berbincang. Sekali mendayung dua pulau didapati oleh Axel.


Bukan hanya mengirim pesan pada pacarnya yang sudah menjadi mantan tetapi dia masih sempat melihat gadis yang ada di dekat orang tuanya. Dia memandang Kristin sebelah mata saat itu yang kenyataan yang belum diketahui olehnya adalah sekarang mantan Sang Adik.


Plak

__ADS_1


Sebuah tangan kekar menepuk pundak Garda hingga dia meringis kesakitan. Sedikit rasa nyeri masih terasa di area itu.


"Lupakan gadis itu, masih banyak yang lebih baik." Kata Sang Kakak yang juga masih sakit hati.


"Sakit kamu harus tanggung jawab." Kata Garda.


"Tanggung jawab apa'an?" Tanya Sang Kakak.


"Tanggung jawab untuk menikahkan mu?" Lanjutnya tanpa menunggu jawaban Sang Adik.


Axel mengatakan itu juga sebenarnya juga untuk menghibur dirinya sendiri. Dia berusaha memotivasi dirinya sendiri untuk melupakan seorang gadis.


Kakak beradik itu melangkahkan kaki perlahan menuju tempat parkir. Keduanya saat ini justru malah teringat dengan gadis yang sekarang ini berada di desa.


Diambilnya motor milik Axel yang terparkir tidak jauh dari motor milik Sang Adik. Saat Axel tadi tiba tidak memperhatikan motor yang terparkir di dekatnya memarkirkan motor.


"Kemana kita sekarang?" Tanya Sang Kakak saat melempar kunci motor miliknya pada Garda.


"Kamu tega menyuruh aku menjadi tukang ojek mu?" Tanya Sang Adik pada Axel tanpa menjawab pertanyaan adiknya itu.


"Eh aku tahu kamu tidak selemah itu." Kata Sang Kakak terputus.


"Luka di tubuh mu itu tidak seberapa." Lanjutnya.


"Luka ku ini memang tidak seberapa Kak, tapi luka dalam hati ku bisa membuat mu......" Kata Garda yang berusaha memperingatkan Sang Kakak.


"Lanjutkan kenapa diperpanjang akhir kalimatnya?" Tanya Sang Kakak.


"Membuat ku bisa ikut dengan mu bunuh diri karena cinta." Kata Sang Kakak tanpa menunggu terusan kalimat Garda.


"Aku percaya iman mu tidak selemah itu." Lanjutnya lagi dengan tersenyum menarik sudut bibirnya.


Garda akhirnya menjadi tukang ojek untuk Sang Kakak. Keduanya belum memutuskan mereka akan pergi kemana.


"Jaga jarak." Kata Garda yang merasa Sang kakak duduk terlalu dekat.


"Bagaimana aku melakukannya, aku takut jatuh saat barsama mu saat ini." Kata Sang Kakak ingin membuat saudara kembarnya banyak bicara padanya sekarang hingga melupakan semua masalah mereka berdua.


Chiiiit


Suara gesekan ban motor dengan jalan aspal yang berada di dekat taman kota. Garda menghentikan motornya secara tiba-tiba karena merasa jijik dengan jarak yang dibuat Sang Kakak saat membonceng.

__ADS_1


__ADS_2