
Daffa yang sedang berendam di dalam backtub menggunakan air hangat merasa sangat nyaman. Panggilan dari Sang Kakak hingga tidak terdengar saat dia memejamkan matanya saat ini.
Pemuda itu segera membilas badan setelah terasa segar. Dia ingin segera menyantap sarapan paginya.
Ceklek
Hendl pintu terbuka ketika seorang baru keluar dari kamar mandi. Daffa terkejut mendapati Sang Kakak yang tiba-tiba masuk tanpa permisi.
"Apa yang ingin kakak perbuat di kamar ku?" Tanya Seorang Pemuda Empunya kamar terkejut mendapati seseorang masuk ke dalam kamarnya secara tiba-tiba.
"Tidak ada." Jawabnya Kak Garda singkat.
"Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" Tanya Daffa.
"Yang ada di kepala mu itu sekarang sepertinya perlu diservis." Kata Sang Kakak.
"Kakak itu yang agak miring itu otak." Balas Daffa sambil berjalan menuju lemari pakaiannya.
"Jangan lihat aku sedang berganti pakaian!" Kata Daffa memperingatkan Sang Kakak walaupun dia sendiri berganti pakaian di ruang ganti dengan pintu yang terkunci.
"Kakak mu ini masih normal kali." Kata Sang Kakak.
"Masak jeruk makan jeruk." Lanjutnya.
Daffa mengambil pakaian rumahan yang biasa dia kenakan. Dia tidak butuh waktu lama untuk memakai pakaiannya.
Daffa memang hari ini tidak memiliki acara untuk keluar rumah. Dia ingin mengistirahatkan badannya serta memulihkan kondisi badannya yang sempat drop kemarin.
Daffa melihat Sang Kakak tidak seperti biasanya. Dia lebih ceria dari biasanya hingga membuatnya merasa penasaran.
Mereka berdua keluar dari kamar bersamaan menuju ruang makan. Di ruangan itu tidak nampak seseorang yang mereka cari.
Kedua pemuda itu sangat kecewa terutama Daffa. Sang Kakak merasa kecewa juga karena undangannya tidak dipenuhi.
"Bi Bibi." Panggil Tuan Garda pada wanita Paruh Baya yang sudah lama bekerja di villa itu serta yang membiarkan seorang gadis tinggal di villa milik keluarganya dengan sopan.
"Ya Tuan." Kata Bibi sambil menunduk setelah mendengar panggilan dari ruang makan.
__ADS_1
"Gadis itu kemana Bi?" Tanya Tuan Garda yang membuat seorang pemuda yang ada di dekatnya terkejut menatap Sang Kakak tidak mengerti.
"Ada di kamar Tuan." Jawab Bibi sopan.
"Tolong panggilkan Dia." Kata Tuan Garda lagi.
Wanita Paruh Baya itu segera pergi ke kamarnya untuk memanggil Hafsa yang sedang merapikan dirinya. Dia hanya merapikan penampilannya serta menyisir rambutnya yang cukup panjang dan mengikatnya.
Sreeeet
Daffa yang sudah duduk di tempat yang biasa dia duduki tiba-tiba menggeser tempat duduknya kebelakang. Dia hendak meninggalkan tempat itu dengan perasaan sakit yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.
"Jadi gadis ini yang membuat Kak Garda senang." Batin Daffa sebelum melangkahkan kaki beranjak dari tempatnya.
Sebuah tangan yang cukup kuat mencekal sebuah tangan seorang pemuda yang hendak meninggalkan tempat duduknya. Dia menatap tangan yang memegang erat tangannya itu.
"Mau kemana?" Tanya Sang Kakak singkat.
"Aku ada urusan sebentar dengan teman." Jawab Daffa dengan senyumnya yang hambar.
Keluarga itu akan selalu mementingkan anggota keluarga yang lain saat sedang bersama walaupun mereka punya sebuah janji pada siapapun. Garda semakin yakin jika adiknya itu takut sakit karena seorang gadis yang sekarang benar-benar telah masuk ke dalam hatinya.
Daffa kembali terduduk pada tempatnya semula. Dia berusaha menguatkan hatinya itu pasalnya dia selama ini selalu mengalah untuk kedua Kakaknya dalam segala hal.
"Duduklah." Kata Garda saat seorang gadis sudah berdiri di dekat meja makan.
"Maaf Tuan..." Kata Hafsa terpotong ingin menolak dengan sopan.
"Apa kamu tidak mendengar perintah yang punya tempat ini." Kata Garda lagi ingin menggertak gadis yang ada di ruangan itu bersama mereka.
"Terserah kamu mau duduk dimana." Lanjutnya.
Daffa yang baru saja duduk ditempatnya saat ini kepalanya tertunduk mendengarkan semua pembicaraan kedua orang yang ada bersamanya. Dia merasa ada yang aneh dengan perubahan sikap Sang Kakak yang menjadi sangat dingin.
Sang Kakak melahap roti dengan selai dengan sangat lahap setelah mengatakan itu semua. Susu hangat yang tersedia di atas meja pun segera diminumnya dengan tandas.
Garda seakan tidak peduli dengan siapapun yang ada didekatnya. Sang Adik yang sedang tertunduk mendengar semua ucapan Pemuda yang ada didekatnya itu hampir tidak bisa menahan diri dengan ucapan dingin untuk Hafsa.
__ADS_1
"Kalian nikmati saja kencan pagi ini." Kata Sang Kakak setelah menghabiskan roti dan susunya dan Daffa menatap saudaranya itu dengan lekat.
"Dia bisa menjaga mu dengan baik." Lanjutnya setelah menggeser kursi dan berdiri meninggalkan Sang Adik bersama seorang gadis.
"Aku akan segera memberi kabar baik ini pada Kedua orang tua kita." Lanjutnya saat sudah sampai di pintu utama tanpa menoleh pada Sang Adik.
Pemuda itu pergi ke garasi untuk mengambil motor miliknya sendiri. Dia hari ini akan kembali ke kota sendirian ingin menemui kekasihnya.
Garda sengaja memakai motor agar lebih cepat sampai pada tujuannya. Dia tidak berani menggunakan motor milik sang adik karena kejadian beberapa hari yang lalu.
Di Ruang Makan
Seorang Pemuda yang berada di ruang makan itu tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh saudara kembarnya itu. Seorang Daffa yang cassanova yang sudah terbiasa kencan dengan seorang gadis tetapi kali ini kencan saja perlu dibantu sang kakak.
Muka Daffa mau ditaruh dimana jika ada temannya yang tahu jika kencannya kali ini harus ada pihak ketiga. Dia tidak bisa berkata-kata lagi saat ini.
Gadis yang bersaman Daffa merasa tidak enak hati. Dia segera berdiri setelah saudara kembar dari orang yang bersamanya sekarang sudah pergi dari villa.
Hafsa takut pemuda yang ada bersamanya saat ini berpikiran macam-macam hingga dia harus berbuat seperti itu. Gadis itu mencoba berusaha menepis segala pikirannya itu.
Gadis itu merasa semakin perasaannya itu ditepis justru malah semakin terasa. Hafsa segera melangkahkan kaki keluar dari ruang makan dengan langkah serubu.
"Bibi...." Panggil seorang pemuda yang masih tersisa di ruang makan pada wanita paruh baya yang sudah lama bekerja di villa itu.
"Anda membutuhkan sesuatu?" Tanya Hafsa yang berhenti setelah mendengar sebuah panggilan untuk seorang wanita teman sekamarnya.
"Bersihkan kamar yang ada dekat ruang keluarga." Kata Daffa dingin hingga membuat gadis itu merasa semua yang ada dipikirannya benar adanya.
Gadis itu mengira kalau Daffa sudah berpikiran buruk tentang dia hingga sikapnya sekarang sudah berubah lagi. Pemuda itu sebenarnya hanya ingin menutupi rasa groginya itu.
"Sifat orang kaya pasti selalu seperti itu." Batin Hafsa setelah mendengar perintah pemuda itu.
"Aku seperti itu juga berarti." Lanjutnya.
"Itu kan dulu aku juga kaya sekarang juga kaya tapi kaya..." Katanya lagi dalam hati sambil menertawakan dirinya sendiri.
Gadis itu dulu diperlakukan seperti seorang putri tapi tidak ada kebebasan yang dirasakannya. Hafsa bertahan hingga usianya yang sekarang yang kabur dari istana setelah mendengar sesuatu yang tidak diharapkannya.
__ADS_1