
Pemuda itu menarik tangan Yasna sampai di tempat parkir motornya. Daffa memberikan helm pada Gadis itu.
Gadis itu pun menerima helm itu dengan segera tanpa berpikir panjang pada hal mereka baru kenal. Baru beberapa hari pulang sudah mendengar sesuatu yang sangat ia hindari.
Pikiran gadis itu sekarang kosong hingga ia segera naik ke atas motor. Setiap kali ia dekat dengan seorang Pemuda ada saja yang mereka mencelanya.
Celaan yang seakan mengingatkan dia tentang siapa dirinya. Masa lalu orang tuanya yang harus dia ikut juga menerimanya.
Bunda yang berperilaku sangat baik dan mengorbankan semua untuk dirinya. Sebenarnya apa yang terjadi?
Ketidakpercayaan akan omongan tetangga selalu ada. Pasti waktu itu Bunda punya alasannya sendiri.
Selama ini Bunda selalu menyembunyikan kesedihannya sendiri. Membesarkan dia seorang diri sebagai singgle perent.
Membayangkan Bunda yang memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri lantas gadis itu tidak pernah menceritakan keluh kesahnya itu. Ia gadis yang cerdas sejak kecil tidak mau menambah beban Sang Bunda.
Gadis itu ingin melanjutkan sekolah di kota karena memilik alasan. Ia gadis yang pintar dan cerdas hingga banyak pemuda yang mengincarnya untuk menjadikannya seorang kekasih.
Jika ia masih bertahan di sana apa yang terjadi? Semakin banyak kasak kusuk tetangga terutama para gadis merasa mendapat saingan.
Ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan studynya itu. Yasna pun menggunakan kesempatan itu untuk pergi dari desa itu.
Sang Bunda selalu mendukung apa pun yang menjadi keputusan anak gadis itu. Ia tidak mau mengekang pilihan anaknya. Itu adalah hidupnya keputusan ada ditangannya.
Kedua orang itu pergi dengan mengendarai motor dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Hanya daffa yang menggunakan jaket kulit yang selalu tersedia dalam mejikom belakang motor.
Gadis itu memeluk erat pinggang Daffa karena kecepatan motor yang tinggi. Kesempatan itu tidak dimanfaatkan pemuda itu justru sebaliknya lain dari ucapannya sebelumnya.
Pemuda itu merasa tidak tega dengan Yasna yang seperti itu. Perkataan tempo lalu mengenai sebuah tendangan cinta itu kini hanyalah sebuah omong kosong.
Rasa takut pada gadis itu sampai tidak terasa karena sekarang perasaannya sangat kacau balau. Pertengkaran yang baru saja terjadi kini sudah melupakannya.
__ADS_1
Pertengkaran itu mungkin akan terlupakan walaupun hanya sebentar. Daffa memang sangat pengertian dan pintar dalam menghibur seseorang.
Gadis itu tidak tahu kemana tujuan Daffa yang tampan itu. Ia juga hanya diam memegang erat pada pengemudinya tanpa bertanya apapun.
Berkenalan walaupun hanya sebentar tetapi gadis itu percaya sepenuhnya bahwa ia adalah laki-laki yang baik. Ia percaya bahwa pemuda itu tidak akan mencelakakannya.
Banyak orang telah ditemui oleh gadis itu dengan berbagai macam karakternya. Ya karena saat ini selain ia melanjutkan sekolah gadis ini juga bekerja part time serta memiliki usaha sendiri yang dikembangkannya.
Suara ombak dengan angin yang cukup kencang sudah terasa setelah mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh. Jaraknya memang masih jauh dari perjalanan mereka berdua, tetapi suara dan kencangnya angin sudah terasa.
Villa tujuan dekat pantai tujuan Pemuda itu. Tidak lupa setiap kali datang ke villa dekat desa petani ia sendiri juga memiliki villa yang dekat dengan pantai.
Villa ini adalah hasil jerih payahnya sendiri selama ini. Ia suka dengan keadaan yang tenang di sekitar Villa ini.
Semua keluarga tak ada yang tahu kalau Daffa memiliki sebuah villa dekat pantai. Lokasi Villa ini cukup terpencil sehingga tidak banyak penduduk yang melakukan aktivitas di sekitar sini.
Pemuda ini juga jarang pergi ke villa miliknya sendiri, walaupun jarang datang tetap saja ada yang setiap hari membersihkannya. Ia sengaja membayar orang yang dia percaya untuk membersihkan villa itu.
Pemuda ini memiliki alasan sendiri membeli villa disini. Pemandangan yang sangat bagus bagi mereka yang tahu akan nilai seni selain itu juga jarang sekali dikunjungi oleh orang luar sehingga sangat tenang.
Setiap menghadapi kesulitan Daffa memang jarang sekali meminta pendapat orang lain. Ditempat inilah ia bisa mendapatkan inpirasi dari setiap pemecahan masalahnya.
Di tepi pantai yang jaraknya masih lumayan jauh dari villa dekat bebatuan yang lumayan menjelang tinggi mereka menghentikan motornya. Daffa meminta gadis itu untuk turun.
Gadis itu melihat sekeliling setelah melepas helmnya. Ia tidak banyak bertanya sekarang karena memang saat ini pikirannya kosong.
"Bagaimana?" Tanya Pemuda itu.
"Haaaaaa....... " Gadis itu pun berteriak sekencang mungkin dengan menjatuhkan lututnya dengan merentangkan kedua tangannya menghadap laut lepas berharap bisa mengurangi semua beban yang ada di hati dan pikirannya.
Gadis itu pun kini berlari menuju bebatuan yang terdekat. Untuk kedua kalinya ia pun berteriak sangat kencang.
__ADS_1
Suara yang diciptakan sungguh sangat keras dan membentur dinding-dinding Bebatuan. Sebuah gema terdengar setelah suara itu membentur dinding bebatuan.
Suara yang menggema itu membuat seorang pemuda merasa kasihan dengan Yasna yang sekarang terlihat sangat tertekan. Daffa hanya bisa berharap setelah menimbulkan kekacauan ini hatinya akan lebih baik.
Suara yang menggema itu hanya bisa didengarkan olehnya seorang asing. Tidak ada seorang pun di sini biarpun pada hari libur.
Berulangkali gadis itu berteriak berulangkali juga suara menggema itu terdengar sangat memprihatinkan. Suara itu pun semakin lama dibawa oleh angin menuju ke tengah laut.
Sebuah harapan akan semua tekanan pada dirinya akan masalahnya itu juga akan dibawa ketengan laut hilang bersama angin yang membawanya. Ia tak peduli apapun sekarang ini.
"Masih ingin disini?" Tanya Daffa pada gadis yang masih berada di atas bebatuan itu setelah ia ikut naik dan memegang pundaknya.
"Hem." Jawab gadis itu saat ia masih melihat ke arah lepas dengan menyangga badannya dengan kedua tangan dan kaki yang diluruskan.
"Sebentar lagi gelap." Kata Daffa yang memperingatkan bahwa waktu memang sudah berlalu dengan cepat.
"Tak apa gelap sejak dulu buat ku memang lebih gelap kehidupan ku." Kata Yasna dengan suara yang kecil.
"Buat apa takut gelap." Lanjutnya lagi.
"Baiklah jika begitu." Kata Pemuda yang sejak tadi terdiam membiarkan gadis itu meluapkan segala permasalahannya.
"Jangan pernah mencari sebuah cahaya dalam hidup mu sedangkan di sebuah rumah ada seorang Ibu yang mengkhawatirkan mu." Lanjut Daffa berbalik menuju motornya hendak pergi.
Deg
"Tunggu." Cegah Yasna berusaha menghentikan langkah Pemuda itu.
Pemuda itu hanya menghentikan langkahnya sebentar setelah Yasna memanggilnya. Ia pun tersenyum menyunggingkan senyumnya tanpa menoleh kebelakang.
Gadis itu baru menyadari ada seseorang yang telah berjasa sangat besar membenarkannya. Seorang wanita singgle perent membesarkannya dengan penuh perjuangan.
__ADS_1