
Ketiga saudara kembar itu sekarang ini justru malah fokus dengan kehebohan yang dibuat Sang Mama. Tatapan mereka semua tertuju padanya.
"Kalian sebaiknya istirahat dulu di kamar nanti baru kita bicarakan lagi." Kata Mama dengan penuh rasa khawatirnya.
"Kalian ini sebagai saudara kenapa tidak bisa saling menjaga Sih?" Lanjutnya.
"Ma kita ini bukan anak kecil lagi yang harus selalu bersama-sama." Kata Daffa ingin menjelaskan pada Wanita yang telah melahirkannya.
"Kita memiliki urusan masing-masing." Lanjutnya.
"Sudah lah Ma, benar kata anak kita." Kata Papa terputus.
"Jadi sekarang juga kalian harus memberikan pilihan yang telah kami buat untuk kalian." Kata Papa dengan suara datarnya.
"Jika harus nanti akan ada anak kecil yang belum pantas mendengarnya." Kata Papa.
Saat Papa mulai berbicara semua menatap padanya. Mereka merasa ada benarnya juga jika saat ini keponakan mereka sedang berada di kediaman utama.
Ketiga pemuda itu belum memiliki sebuah jawaban atas pilihan yang diberikan Sang Papa pada mereka. Satu orang yang tidak begitu peduli dengan semua pilihan tentang dirinya.
Sang kakak sulung sedikit ragu dengan keputusan yang akan dibuatnya sendiri. Dia juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
"Dengan keputusan ku ini semoga bisa membalas sakit hati ku pada gadis itu." Kata Axel dalam hati.
Mata laki-laki itu menatap Sang Mama ingin sekali minta diyakinkan dengan semua keputusannya itu adalah yang terbaik. Merasa diperhatikan oleh Sang Putra dia juga membalas tatapan itu.
Mata mereka sudah bisa dipastikan saling berbicara walaupun tanpa suara. Sejak kecil hanya Sang Mama yang menjadi tempat mengadu baginya.
Rahasia besar kalau Axel bukan anak kandungnya hanya diketahui beberapa orang saja. Pemuda itu begitu dekat dengan Sang Mama walaupun bukan orang tua kandungnya.
Tak
Tak
Tak
Suara langkah kaki seorang wanita paruh baya yang terlihat masih muda menghampiri salah seorang pemuda yang ada di ruangan itu. Pandangan mata wanita itu lurus menatapnya seakan meminta sebuah jawaban yang sangat diharapkan oleh semua anggota keluarga yang ada di sana.
"Baik aku akan memberikan sebuah keputusan yang yang mungkin bisa keduanya atau tidak untuk keduanya buat kalian." Kata Axel berusaha meyakinkan semua orang dengan keputusan yang akan diambil biarpun dalam hatinya masih dengan penuh keraguan.
"Aku sudah memutuskan akan tetap melanjutkan pendidikan ku di sini." Lanjutnya.
"Aku sudah putus dengan gadis yang tidak kalian sukai itu." Lanjutnya tidak sedikitpun ada rasa penyesalan di dalam dirinya.
"Bagus." Kata Papa.
__ADS_1
"Soal pernikahan?" Tanya Papa kemudian.
"Aku tidak ingin memaksa mu karena kamu sudah memutuskan untuk gadis itu." Lanjutnya.
"Tapi Pa, gadis yang ingin Kamu nikahkan dengan anak kita ...." Lanjut Sang Mama terputus.
"Aku dan orang tuanya tidak ingin memaksa kalian untuk menikah." Kata Papa menjelaskan.
Pria Paruh Baya itu tahu kalau anak gadis yang ingin dijodohkan dengan anaknya melarikan diri karena perbuatan mereka. Keluarga yang selalu mementingkan egonya membuat anak gadis itu pergi dari rumah.
Mendengar kata seorang gadis dia jadi teringat dengan seseorang yang sekarang ini berada di tahanannya sekarang. Axel juga tidak tahu kenapa bayangan gadis itu lewat seketika.
"Aku harus kembali ke apartemen ku malam ini juga." Kata Axel dalam hati.
"Semoga saja dia bisa tinggal di sana dengan baik." Lanjutnya penuh rasa khawatir.
Pemuda itu baru sadar lupa meninggalkan sebuah ponsel dengan nomor baru. Nomer ponsel lama sudah raib entah kemana saat kejadian itu.
Saat itu takut dilacak melalui nomor ponsel Pemuda itu langsung membuang ponsel Bella. Melihat ekspresi saudara kembarnya mereka tahu apa yang dipikirkan oleh Sang Kakak.
"Lakukan yang terbaik buat mu." Kata Garda penuh makna.
"Terimakasih." Kata Sang Kakak sambil lalu berjalan menuju kamarnya ingin membersihkan dirinya terlebih dahulu.
"Sak tau." Kata Garda menatap Sang Adik kembarnya.
"Baru juga putus kemarin, kamu pikir dia mudah pindah ke lain hati." Lanjutnya.
"Memangnya kamu pikir kamu, yang selalu bisa mudah nempel sana, nempel sini." Lanjutnya yang semakin panjang.
"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Papa berpura-pura tidak tahu menahu soal kedekatan anak sulungnya dengan seorang gadis bahkan putusnya dengan gadis yang tidak mereka sukai.
"Kalian bertiga memang tidak bisa diajak bicara serius." Kata Papa pada anak kembarnya.
"Papa belum selesai ngomong sudah ada yang melarikan diri." Katanya.
"Kakak bukan melarikan diri, tapi melarikan seorang gadis." Kata Daffa bercanda.
"Tutup mulut mu anak kecil." Kata Papa.
"Lah iya kan itu kenyataannya." Kata Daffa yang sebenarnya dimaksudnya itu menyembunyikan seorang gadis.
"Bukankah tadi sudah dijawab dengan jelas oleh Kak Axel kalau dia akan melanjutkan pendidikannya cukup di sini bersama kita." Lanjutnya.
"Aku memang sudah mendengarnya, tapi bagaimana dengan keputusan kalian sendiri?" Tanya Papa pada anak kembarnya itu.
__ADS_1
"Papa masih ingat dengan kita berdua?" Tanya Si Kembar bersamaan terkejut dengan pertanyaan Sang Papa.
"Kenapa kalian berdua menatap ku seperti itu?" Tanya Papa pada ke dua anaknya.
Kedua anak tampan itu berharap Sang Papa lupa dengan permintaannya pada mereka berdua. Papa selalu meminta pada ketiga pemuda itu hal yang sama.
Seorang wanita paruh baya yang sudah memiliki cucu kembar itu kini menyusul Putra Sulungnya yang sudah masuk ke dalam kamarnya sejak tadi. Dia melupakan Garda yang dilihatnya ada memar di badannya itu.
Mama Sinta memang seorang wanita yang memiliki kasih sayang seorang ibu tanpa membeda-bedakan ketiga putra yang dirawatnya sejak lahir. Dia tidak pernah sedikitpun mengeluh dengan semua kenakalan yang diperbuat oleh ketiga putranya.
Wanita itu tahu mereka berbuat seperti itu memiliki alasannya sendiri. Kenakalan mereka bukan untuk kesenangan mereka semata.
**Tok
Tok
Tok**
Pintu salah satu kamar seorang pemuda diketuk oleh seorang Wanita Paruh Baya yang usianya hampir lanjut. Kamar itu terletak di lantai dua yang memang bersebelahan dengan pemuda lainnya.
Wanita ini menghilang begitu saja dari area ketika Sang Suami mulai menanyakan sesuatu hal kepada kedua putra kembarnya yang lain. Mereka tidak menyadari hilangnya wanita itu bukan hanya sekali tetapi sudah berulang kali.
Axel masih menyandarkan punggungnya yang begitu lebar pada daun pintu yang tertutup dengan begitu rapat. Getaran daun pintu akibat ketukan tangan seorang wanita yang telah merawatnya penuh dengan kasih sayang sangat terasa pada punggungnya.
Mata yang terpejam milik Axel perlahan terbuka ingin segera dibuka pintu itu akan tetapi secara tiba-tiba tertahan dengan pikirannya sendiri. Pemuda itu berharap bisa bercerita mencurahkan semua keluh kesah yang ada dihatinya seperti sebelumnya.
Bagaimana tidak, selama ini dia hanya bisa menangis dihadapan wanita itu. Axel terlihat sangat tegar di hadapan orang lain.
"Aku harus berusaha menyembunyikan beban dihati ku ini." Kata Axel dalam hati sebelum membuka pintu.
"Bantu aku ya Robbi." Lanjutnya.
Satu
Dua
Tiga
Pemuda itu berhitung setelah memegang handle pintu. Dia hendak memutarnya berharap hitungan itu bisa semakin menguatkan hatinya.
Ceklek
Pintu kamar akhirnya berhasil dibuka oleh pemuda itu. Axel tidak melihat sosok yang diharapkannya tadi.
Rasa kecewa menyeruak dalam hati walaupun sebelumnya dia tidak mengharapkannya. Selangkah dia maju hanya untuk melihat bayangan Sang Mama yang setiap waktu dirindukannya.
__ADS_1