Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Sebuah Pujian


__ADS_3

Matahari sore sudah mulai bersembunyi dibalik awan gelapnya. Sebelum bersembunyi tampak langit yang sangat indah dengan warna kuning keemasan.


Pertandingan sudah berakhir siapa sekiranya yang memenangkan pertandingan sepak bola itu? Kedua kakaknya dalam satu tim kompak adalah andalan dalam setiap tim.


Badan capek memang tidak bisa dihindarkan dalam setiap aktivitas. Keringat bercucuran dari kedua tim kesebelasan itu.


"Hebat....hebat." Pujian meluncur dari mulut Bram setelah meneguk minuman yang tersedia di dekatnya.


"Yo... Gue kira kalian sudah kehilangan bakat." Lanjut salah seorang pemuda yang duduk di sebelah Bram.


"Bener-bener-bener. Tak sangka juga lama tak bermain dengan kalian kemampuan kalian meningkat pesat." Puji teman lainnya.


Seorang gadis yang secantik bidadari tertangkap oleh kamera pengawas Garda saat dia akan merapikan rambut panjangnya dengan jari-jari lentik miliknya. Pemuda itu tersedak air minum saat akan menelannya.


Pemuda yang bersamanya tak kalah tampan itu segera menepuk punggung adiknya. Pandangan adiknya malah tertuju padanya gadis itu.


Garda yang tidak memperhatikan dirinya yang sakit tersedak Menjadikan Sang kakak penasaran hingga menatap pada arah pandangan sang adik. Dia mengikuti arah pandangan mata sang adik yang sejak tadi tidak berkedip.


"Naksir?" Tanya Axel pada adik saat menepuk perlahan punggung agar terasa lebih baik.


"Terimakasih." Ucap Sang adik tanpa menjawab pertanyaan Axel dan mengalihkan pandangannya pada sang kakak.


Garda langsung berdiri setelah terasa tenggorokannya agak enak. Dia langsung menghampiri teman-temannya yang sedang memujinya karena tidak ingin memperpanjang percakapan dengan kakaknya mengenai seorang gadis.


Apa yang terjadi dengan Garda jika berhubungan dengan seorang gadis yang disukai dia ingin menghindar? Tidak berbedakah dengan kakaknya yang sangat dingan semua gadis.


Keduanya dimasa lalu paling sering nonton drakor sama seperti seorang perempuan. Pada kenyataannya sekarang malah terbalik, adik bungsu malah menjadi seorang cassanova sejati.


Matahari yang semakin tenggelam dengan menciptakan indahnya langit menjadi warna keemasan di langit menambah indahnya suasana di taman saat itu. Daffa yang masih tertidur di bawah yang rindang di taman itu belum juga menampakkan tanda-tanda akan membuka matanya.


Kedua kakaknya yang sedang merayakan kemenangan mereka bersama teman satu tim kesebelasan mereka saat ini hanya bisa memantau adiknya yang sedang tertidur itu. Setidaknya disebrang ada gadis cantik yang bisa dilihat Garda yang tidak begitu jauh dari pandangannya.

__ADS_1


Tim kesebelasan yang kalah itu tidak lupa mengucapkan selamat kepada mereka para tim kesebelasan yang menang. Kemampuan sepasang pemuda itu dapat mereka lihat sangat mengalami peningkatan.


Banyak pemuda disana yang tidak mengira bahwa kedua orang pemuda itu bersaudara. Kemampuan yang harusnya mengalami gangguan kemunduran justru sebaliknya.


Mereka berdua berasal dari kota besar mana mungkin mereka selalu berlatih. Mungkin karena waktu saja mereka hanya habis untuk bersenang-senang.


Bagaimana bisa kemampuan mereka berdua sebagus itu. Banyak diantara mereka yang meremehkan ketiga saudara itu karena berpikir bahwa tidak pernah latihan.


Mereka yang berada di lapangan itu semakin lama semakin sedikit hingga menyisakan beberapa gelintir orang saja. Axel dan Garda salah satu diantaranya yang tertinggal di sana.


Melihat saudaranya yang sejak tadi tidak fokus dengan pembicaraan mereka, Axel ber-inisiatif mengajak untuk menghampiri Daffa yang sedang dalam mimpi indahnya.


Alasan itu kemungkinan adalah yang paling tepat untuk berpamitan pada teman-teman mereka yang masih tinggal di lapangan. Keduanya berpamitan dan segera menuju dimana adik mereka berada tanpa sungkan.


Kaki panjang mereka melangkah cukup lebar dan sedikit berlari agar segera sampai di tempat tujuan mereka. Tidak butuh waktu lama untuk segera menghampiri sang adik.


Sebuah tangan menepuk bahu adiknya berkali-kali memerintahkan untuk segera bangun. Daffa mengerjapkan matanya sesaat untuk memperoleh kesadarannya.


"Itu laki-laki yang satu itu kenapa?" Tanya Daffa yang merasakan Sang Kakak kembarnya hilang fokus.


"Lagi jatuh ke cintanya." Jawab Axel berjalan beriringan dengan Daffa dengan cepat.


"Syukur deh kalau hatinya sudah mencair berarti sebentar lagi akan banjir dong." Kata Daffa.


"Apa'an?" Kata Garda yang berjalan berada sedikit jauh di belakang dari kedua saudaranya.


"Kenal aja gak, mana ada juga hati gue beralih ke yang lain." Lanjutnya sedikit berteriak agar didengar oleh kedua saudaranya yang berjalan jauh di depannya.


"Masih aja ngeles berarti bener dengan apa yang aku tebak barusan." Kata Axel.


"Jadi ni kita harus mampir nih ke toko perlengkapan SAR untuk membeli semua peralatan keselamatan diperairan." Ledeknya Daffa.

__ADS_1


"Takutnya nanti meluap hingga aku gak sanggup berenang." Lanjutnya lagi.


"Ledekin aja terus sampai kalian puas!" Kata Garda sangat dan sangat galau dengan hatinya.


Seorang pemuda yang kini sudah tertinggal sangat jauh dari kedua saudaranya baru tersadar kalau dia berada jauh di belakang. Garda akhirnya harus berlari mengejar kedua saudaranya yang berada jauh di depan.


Di sebuah Villa megah seorang penjaga gerbang sudah siap membuka pintu untuk ketiga tuan mudanya. Tepat di depan pintu gerbang itu Garda berhasil mengejar kedua saudaranya.


"Semangat sekali tuan muda kedua sampai keringat masih mengucur deras seperti itu." Kata seorang penjaga gerbang.


"Mereka berdua memang kejam Pak!" Keluhnya Garda.


"Ngadu nih ceritanya." Kata Axel.


"Kayaknya memang akan terjadi banjir nih di sini." Kata Daffa.


"Masak sih Tuan?" Tanya Penjaga gerbang saat Tuan Garda berlalu melewati kedua saudaranya.


"Ya sudah kalau begitu untuk antisipasi saya akan persiapkan perlengkapan penyelamatan diri." Kata Penjaga gerbang.


"Persiapannya sebenarnya cuma perut kosong dan kalau perlu obatnya obat sakit perut." Jelas Axel.


Penjaga gerbang itu hanya menggelengkan kepala perlahan. Ia menatap pada Tuan Muda penuh dengan rasa penasaran dengan apa yang diucapkan Kedua tuan muda lainnya.


"Anak muda sekarang sulit ditebak." Kata penjaga gerbang setelah kepergian ketiga tuannya.


Ketiga pemuda itu langsung menuju ke kamar mereka masing-masing. Mereka segera membersihkan diri dengan berendam air hangat agar badan mereka terasa rileks.


Azan Magrib sudah berkumandang untuk mengajak umat muslim mengerjakan kewajibannya. Ketiga pemuda yang memiliki hubungan saudara yang sangat dekat itu langsung menuju tempat ibadah untuk menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim selesai mereka mandi.


Badan yang kini sudah memiliki aroma wangi selesai mandi itu segera berjalan menuju masjid terdekat. Mereka saat di desa memang lebih suka berbaur dengan warga kampung dari pada melaksanakan shalat di dalam Villa.

__ADS_1


Para warga salut dengan perilaku mereka yang tidak menyombongkan diri walaupun kaya. Penampilan mereka bertiga juga biasa saja hingga membuat warga tidak enggan untuk menjalin silaturrahmi dengan mereka.


__ADS_2