
Jaket itu dibawa Yasna menuju tempat tidur miliknya. Perlahan dia menaikkan kakinya dan merebahkan badannya di tempat tidur itu.
Gadis itu akhirnya terlelap dengan berselimutkan jaket kulit milik Garda. Dia bahkan tertidur sangat nyenyak hingga pagi hari.
Di kamar lain seorang Pemuda merasa nyaman di tempatnya yang sekarang. Dia merasa sangat dekat dengan seluruh anggota keluarga ini.
Pemuda ini merasa ada perbedaan saat dekat dengan keluarga ini dan kekasihnya itu. Dia merasa nyaman jika disini jika bersama dengan kekasihnya itu merasa dia selalu menuntut segala sesuatunya.
Di Villa Adrean
Sang kakak setelah hampir sehari berada di villa bersama Daffa mengkhawatirkan keadaan Garda yang belajar selingkuh sebenarnya sangat mengkhawatirkan seorang gadis yang ada di apartemennya. Dia tidak tahu sekarang Bella tangannya sedang terluka karena sebuah pisau yang mengiris salah satu jari lentiknya.
(Bang Axel di apartemen mu itu apa tidak ada daging, hingga Bella saja sampai mengiris jarinya.).
Hafsa merasa jenuh di kamar barunya sekarang. Kamar itu walaupun disaiannya cukup nyaman tapi seseorang sedang merasa bosan kerena tidak ada aktivitas yang bisa dia kerjakan. (Idih ini gadis cantik bosen apa kesepian karena sendirian?).
Seorang pemuda yang sejak tadi berbincang dengan saudaranya di ruang keluarga mulai merasa badannya terasa lengket. Dia menuju kamarnya yang terletak di lantai dua untuk mandi.
Pemuda ini mandi tidak butuh waktu lama, karena di pikirannya sekarang hanya ada gadis yang bernama Bella. Jangan bilang dia mandi bebek karena tergesa-gesa segera kembali ke villa.
Sang Kakak menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. Di bawah ada Daffa yang sedang memperhatikan Kakaknya yang sangat tidak biasa.
Axel memang selalu keluar dengan penampilan yang rapi tetapi tidak untuk kali ini. Sang adik yang berdiri di pintu kamar Haffa hanya menggelengkan kepala perlahan.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan mu Kak?" Tanya Sang Adik melihat begitu berantakannya Kak Axel kali ini.
"Aku berbuat salah pada Dia?" Jawab Sang Kakak sambil meraup wajahnya yang frustasi.
"Kakak tidak berbuat yang aneh-aneh dengan gadis itu kan hingga membuatnya bunting?" Tanya Sang Adik dengan intonasi tinggi walaupun kakaknya tidak akan mungkin melakukan itu.
"Maksut mu?" Tanya Sang Kakak.
"Apa aku sudah serendah itu?" Lanjutnya.
"Mana ku tahu." Jawab Daffa sambil lalu masuk ke dalam kamar seorang gadis dan mengajaknya keluar dari kamar.
"Namanya juga manusia, sering khilafnya." Lanjut Daffa sambil lalu berjalan menghampiri gadis yang berada di ruang tengah.
Gadis itu melihat kedua bersaudara yang sedang beradu mulut baru saja. Mereka tidak bertengkar hanya saling mengungkap apa yang ada di hati mereka.
__ADS_1
Daffa yakin kakaknya tidak akan berbuat melebihi batasan. Biar begitu banyak cara untuk menjebak seseorang untuk menjadi tersangka.
Pemuda itu mengajak Hafsa keluar dari kamarnya menuju danau yang ada di samping rumah melewati Kak Axel yang masih berdiri mematung pada tempatnya semula. Daffa sengaja mengajak gadis itu karena tahu pasti dia bosan seharian berada di dalam kamar barunya tanpa aktivitas apapun.
Axel baru melangkahkan kakinya pergi mengambil motor miliknya untuk kembali ke apartemen miliknya. Di depan pintu gerbang dia berpapasan dengan salah satu temannya yang memang berasal dari desa itu.
"Mau kemana Bang?" Tanya Bram ketika sudah menyandarkan motornya di tempat biasa dia menaruh motor miliknya.
Axel tersenyum kecut menanggapi pertanyaan temannya itu. Dia memang tidak banyak bicara dengan orang lain.
Breeem
Breeem
Breeem
Suara motor sudah dinyalakan dan gas pun mulai ditarik oleh pemiliknya. Bram melihat penampilan Axel saat akan masuk ke dalam villa itu.
Pemuda itu berjalan dengan langkah cepat masuk ke dalam villa tanpa permisi. Bram memang memiliki kebiasaan itu sejak dulu.
Sahabatnya Daffa tidak menyukai kebiasaan itu sejak dulu. Bram selalu mendapat teguran dengan kebiasaan itu tetapi dia tetap saja tidak perduli.
Pemuda itu tahu seharusnya kondisi villa sedang ramai karena ada tiga penghuni yang baru-baru ini datang. Pada kenyataannya situasi yang ditemuinya di tempat itu sepi.
Pemuda itu hanya tahu kalau Axel saja yang baru saja keluar rumah berarti masih ada dua orang sahabatnya yang lain. Bram terus saja berjalan masuk hingga di tengah-tengah ruangan villa.
"Cantik juga gadis itu terlihat di bawah matahari terbenam." Kata Bram dalam hati saat melihat seorang gadis yang sedang duduk di sebuah kursi panjang yang ada di tepi danau.
"Aku akan coba dekati dia lagi." Lanjutnya.
Pemuda itu mendekati Hafsa yang sedang duduk mengamati birunya air danau di sore hari sendirian. Daffa baru saja masuk ke dalam villa sebelum sahabatnya itu tiba.
"Sedang memikirkan aku ya?" Tanya Bram setelah mendekati gadis yang menghadap danau itu.
Hafsa mengalihkan pandangan pada seorang pemuda yang baru saja datang itu tanpa menjawab pertanyaannya. Gadis itu terkejut melihat Bram datang dengan nafas yang sedikit cepat karena menghampirinya dengan sedikit berlari.
Pemuda itu berjalan perlahan setelah jarak dengan gadis itu sangat dekat. Gadis itu kembali menatap kembali birunya air danau tanpa menghiraukannya.
"Jual mahal amat sih Neng?" Kata Bram yang baru saja mendudukkan dirinya di samping gadis itu dan mencoba merangkul pundaknya.
__ADS_1
"Lepas." Pinta Hafsa berusaha melepaskan pelukan itu.
"Saya akan berteriak jika anda tidak melepaskan saya." Lanjutnya dengan sopan karena masih menghormati sahabat dari pemilik Villa ini.
"Kamu mengancam ku?" Tanya Pemuda itu merasa ditolak.
"Coba saja, kalau kamu memang berani." Kata Bram.
"Seperti kemarin bahkan tidak akan ada yang yang membelamu." Lanjutnya.
"Jangan marah gitu dong." Lanjutnya yang diikuti dengan mencolek dagu Hafsa.
Plak
Sebuah tamparan yang sangat keras mendarat tepat dipipi seorang pemuda. Gadis itu merasa dilecehkan atas semua tindakan pemuda itu.
"Kapan datang Bram?" Tanya Daffa mendekati kedua orang yang ada dihadapannya itu hingga memecahkan ketegangan kedua orang yang saat ini sedang memanas hatinya.
"Baru saja." Jawab seorang Pemuda dengan membelai perlahan berulang kali pada bekas tamparan yang diberikan Hafsa.
"Gadis ini cantik, aku mau ajak dia kencan boleh dong." Pinta Bram tanpa basa basi.
"Sebagai kelanjutan cerita beberapa hari yang lalu." Lanjutnya dengan melirik Hafsa.
"Jangan mimpi bisa kencan dengan dia lagi." Kata Daffa memberikan peringatan pada sahabatnya itu.
"Kamu jangan serakah tentang gadis-gadis itu." Kata Bram dengan intonasi yang cukup tinggi.
"Kamu pilih salah satu pilih gadis yang ketemu di taman atau gadis ini?" Pinta Pemuda itu.
"Aku pilih keduanya." Jawab Daffa dengan tegas.
Sakit
Sakit
Sakit
Gadis itu tidak percaya dengan perkataan Daffa yang baru saja dikatakannya itu. Terang-terangan Daffa seorang pemuda yang baru saja berhasil membobol hatinya itu mempunyai gadis lain.
__ADS_1
Gadis itu merasa sangat sakit di dalam hatinya walaupun Daffa belum menyatakan perasaannya. Akhirnya dia menundukkan kepala merasa bersalah pada dirinya sendiri.