Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Seperti Sebuah Kencan Mendadak di Villa


__ADS_3

Beberapa masakan telah selesai dibuat dan kini sudah tersedia di meja makan. Aroma masakan ini membuat kokinya sendiri ingin segera melahap hasil karyanya sendiri.


Biasanya juga Pemuda ini memasak makanan untuk dirinya sendiri jika berada di daerah kekuasaannya. Keahlian ini memang tidak ada orang lain yang tahu.


Semua sayur dan buah yang ada di kulkas itu untuk persediaan semua orang yang tinggal di villa itu. Mereka adalah asisten rumah tangga villa miliknya.


Perutnya sudah sangat lapar, Pemuda itu menyajikan makanan di atas meja makan dan tertata dengan sangat sempurna. Daffa naik ke lantai dua memanggil gadis yang kini sedang menyandarkan badannya pada sofa di kamar itu dengan memejamkan mata.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu itu mengejutkan penghuninya yang sedang meratapi akan nasipnya kini. Nasib terjabak dalam situasi yang tak pernah ia harapkan.


"Ya." Kata gadis itu menoleh ke arah pintu.


"Makan dulu." Ajak Daffa singkat.


"Terimakasih, tapi aku belum lapar." Tolak Yasna yang tak ingin merepotkan.


Kruk Kruk Kruk


"Ini perut kenapa berkhianat sih." Batin Yasna.


"Sudahlah tak usah gengsi, kasian tu cacing di perut sudah pada demo semua." Ajak Daffa ketika ia sudah berbalik melangkahkan kaki meninggalkan kamar itu.


Gadis itu berjalan mengekor mengikuti Daffa yang sudah melangkahkan kaki terlebih dahulu. Ia mengikutinya dari belakang belum tahu ruang makan di villa itu.


Keduanya merasa nyaman waktu ini tidak seperti sebelumnya yang bertengkar karena kesalahpahaman. Butuh waktu untuk keduanya saling memahami ketika ada masalah.


Pemuda ini memiliki usia yang lebih tua daripada Yasna sehingga mereka bisa lebih cepat memahami satu sama lain. Biarpun seperti itu tak ada perasaan yang memang benar-benar dihati.


Kedewasaan seorang wanita lebih cepat jika dibandingkan dengan kedewasaan seorang pria. Apalagi ia telah mengalami banyak hal yang harus dihadapi.


Mereka berdua sampai di ruang makan yang di atas meja tersebut sudah tertata dengan rapi seperti sebuah kencan makan malam di sebuah restoran mewah. Ada sesuatu yang tidak mendukung di sini sepertinya.


Gadis itu mengedarkan pandangan tak jauh dari mereka berdiri. Rasa takjub dengan semua makanan dan penyajian di atas meja membuatnya menelan salivanya.


"Ini pasti masakan asisten rumah tangga tadi." Batin gadis itu.


"Sepertinya gadis tadi memang sudah terampil hingga penyajiannya yang mewah seperti ini." Lanjutnya.

__ADS_1


"Silahkan Nona." Kata Daffa yang sudah menarik kursi untuk seorang gadis yang masih berdiri mematung tak jauh dari kursi yang tak jauh darinya.


"Ah, maaf." Balas gadis itu kemudian mendudukkan pantatnya pada kursi ada rasa malu saat dia diperlakukan seperti seorang kekasih.


Pemuda itu ikut duduk di sebelah Yasna yang masih terlihat enggan untuk menyantap makanan di depannya. Gadis itu masih canggung dan semakin tidak enak diperlakukan seperti itu oleh Daffa yang tidak memiliki hubungan apapun dengan dia.


"Makan lah yang banyak." Kata pemuda itu.


"Jangan menyiksa cacing di perut mu." Lanjutnya.


"Maaf merepotkan mu." Kata Gadis itu.


"Tak masalah. Harusnya aku yang minta maaf karena membuat mu terjebak di sini." Kata Yasna.


"Bagaimana rasanya?" Tanya Daffa singkat setelah gadis itu mengambil makanan dan meletakkannya di piring kemudian mengunyah secara perlahan.


"Enak, ternyata kamu pintar juga memilih asisten rumah tangga yang pinter masak." Puji Yasna dengan mengunyah makanan makanan yang sudah masuk mulutnya secara perlahan.


"Benarkah?" Tanya Daffa singkat.


"Penyajiannya juga sudah seperti ahli di hotel ataupun restoran." Jelas Yasna.


"Benarkah?" Tanya Daffa.


"Kenapa tidak lebih baik bekerja di restoran atau hotel saja jika punya kemampuan yang hebat seperti ini." Saran gadis itu.


"Baiklah aku akan mempertimbangkan untuk bekerja di hotel." Balas Pemuda itu kemudian menyandarkan punggungnya pada kursi dan melipat kedua tangannya berlagak seperti seorang bos.


"Kenapa jadi kamu yang yang mempertimbangkan?" Tanya gadis itu menatap Daffa yang secara intens.


"Pikir sendiri." Kata Daffa santai.


"Hei, kenapa kamu berhenti makan?" Tanya Yasna setelah melihat pemuda itu hanya minum segelas jus.


"Aku punya nama, tidakkah kau bisa sebut nama ku?" Tanya Daffa santai.


"Maaf-maaf aku lupa." Balas gadis itu.


"Siapa tadi nama mu?" Tanya Yasna.

__ADS_1


"D-A-F-F-A." Kata pemuda itu menyebutkan setiap huruf dari namanya.


"Ingat lah selalu Daffa adalah cowok paling ganteng sejagat raya." Lanjutnya.


"Dasar mulai kelihatan ini cowok narsisnya." Kata Yasna lirih.


"Apa tadi kamu bilang?" Tanya Daffa yang masih bisa mendengar kata-kata gadis itu tadi.


"Kemana asisten rumah tangga yang muda itu tadi?" Tanya Yasna.


"Kenapa aku tidak melihatnya lagi dan ini juga villa sepi-sepi amat." Lanjut gadis itu setelah pandangannya memindai disetiap sudut tempat tapi tidak menemukan bayangan satu orang juga.


"Mereka sudah kembali ke kamar mereka untuk istirahat." Jelas Daffa.


"Jika tidak dipanggil oleh tuannya menurut aturan di sini mereka hanya boleh berada di belakang." Lanjut Daffa.


"Oh." Kata Yasna yang sebenarnya masih penasaran dengan kata-kata pemuda itu baru saja.


"Jika kamu menginginkan sesuatu makanan katakan saja pada ku." Kata Daffa.


"Aku akan membuatkan untuk mu yang paling enak & perasaan mu kembali lebih baik." Lanjutnya.


Mendengar pernyataan pemuda yang ada di hadapannya itu pikirannya sekarang entah berantah. Ia juga tak bisa asal tebak takut menyinggung sahabat barunya itu.


Gadis itu usai makan juga masih memakan cemilan yang dibuat oleh tuan rumah. Melihat gadis itu lahap makan membuat Daffa terasa hatinya senang.


Makanan yang lumayan banyak dihabiskan oleh Yasna tanpa memilih-milih makanan. Pemuda itu tersenyum melihat hal itu.


"Perasaannya berarti sudah sangat baik kan? Kalau tidak ia tidak akan makan sebanyak itu." Batin Daffa.


Pemuda itu beranjak dari tempat duduk berjalan menuju dapur. Ia mengambil beberapa bahan untuk membuat sebuah makanan ringan.


Celemek yang dipakai tidak mengurangi ketampanannya itu. Ia memasak seperti koki yang sudah handal, dengan gesit semua bahan yang disiapkannya diolahnya dengan sempurna.


Harumnya makanan yang baru saja selesai dimasak menyeruak memenuhi semua ruangan. Gadis yang ada di ruang makan itu melangkahkan kaki perlahan menuju sumber sedapnya masakan yang baru saja matang.


Gadis itu membelalakkan mata tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Yasna tak pernah menyangka kalau yang dia makan tadi adalah hasil karya seorang pria.


Pikirannya kini sangat rumit tidak seperti sebelumnya. Seorang pemuda yang ada di hadapannya kini yang dianggapnya hanya lah seseorang yang tidak memiliki kemampuan hanya mengandalkan orang lain dalam hidupnya.

__ADS_1


Gadis itu sekarang berusaha menepis segala pikiran buruk tentang Daffa. Hari ini sungguh apa yang dilihatnya sangat di luar dugaan.


Kemampuan menganalisis kondisi psikologis orang lain dan cara berinteraksi dengan orang lain sangat berbeda. Ia bisa memahami kondisi orang lain dari pada orang itu sendiri.


__ADS_2