Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Duda jadi Lajang


__ADS_3

Axel yang keluar dari kamar pasien disaksikan oleh kedua saudaranya. Mereka berdua saling pandang dan saling melemparkan senyum.


"Sedingin apapun pasti akan luluh juga." Kata Daffa.


"Ya iyalah, masak mau jadi duda terus." Jelas Garda.


"Yang bener aja emang pernah ada yang naik ranjang Kak Axel?" Canda Daffa.


" Ada. Jangan salah." Terang Garda.


"Percaya, paling juga Banci atau Neng Kunti." Kata Daffa.


Mereka berdua berjalan meninggalkan tempat persembunyian mereka. Tanpa mereka berdua sadari di belakang mereka sudah ada yang menguntit.


"Apa yang kalian bicarakan?" Tanya Pemuda yang baru saja menjadi topik pembicaraan.


"Siapa?" Kedua Pemuda yang baru saja ngrumpi itu melonjak kaget.


"Aku." Jawabnya singkat.


"Sekarang jawab pertanyaan ku tadi!" Pinta Axel berjalan dan merangkul kedua adiknya dari belakang.


"Oh itu." Kata Garda berhenti mendadak dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Mau menjawab pertanyaan Sang Kakak tapi takut kalau nantinya akan kena marah. Akhirnya Garda hanya bisa menarik tangan Daffa untuk bisa melarikan diri dari sebuah jawaban.


Axel sangat tegas dalam segala urusan karana ia merasa memiliki tanggung jawab yang besar terhadap Kakak perempuannya dan kedua adiknya. Sifatnya yang sangat tegas itu sudah dimaklumi oleh semua anggota keluarga.


Sifatnya itu membuat ia selalu menghindar dengan urusan gadis. Ia tak pernah sekalipun menanggapi jika berkaitan dengan seorang gadis. Akan tetapi hari ini berkata lain.


Kediaman Bunda Azka


Dokter Hendra sebenarnya masih ingin tetap berlama-lama di rumah ini. Ia harus segera kembali karena tugas yang di rumah sakit sudah menunggunya.


Setelah makan siang hari itu bersama seluruh keluarga termasuk kakek angkat Yasna, Dokter itu kembali ke rumah sakit. Untung saja hari itu tidak ada jadwal operasi.

__ADS_1


Pagi ini setelah Yasna merasa enakan ia mulai membantu pekerjaan rumah. Ia tak mau berdiam diri karena bisa membuatnya bosan.


Bunda kemarin ke pasar membeli berbagai macam sayuran dan lauk. Pulang dari pasar saat itu diantarkan oleh seorang pemuda dengan menggunakan motornya.


Antara Bunda Azka dengan pemuda itu memang tidak saling kenal. Wanita itu walaupun merasa tidak mengenalnya tetapi tidak was-was sama sekali.


Pagi ini kedua wanita itu sedang asik memasak di dapur dengan senang tanpa ada ganjalan hati seperti sebelumnya. Bunda Azka sangat senang ketika bersama sang anak gadis.


Keduanya memiliki perawakan yang hampir sama. Rambut hitam legam dan panjang, kata hidung panjang, wajah menarik dan badan yang lumayan tinggi.


Rambut yang kesehariannya mereka biarkan terurai tapi setiap melakukan pekerjaan keduanya sama-sama mengikat rambut itu. Begitu pula hari ini rambut keduanya diikat cepol hingga memperlihatkan leher yang putih dan panjang.


Kedua wanita itu sedang sibuk memasak berbagai macam jenis sayuran dengan hati yang berbunga-bunga. Kakek yang saat itu sedang memetik buah dikebun belakang melihat kedua wanita itu hatinya serasa hangat.


Buah-buahan di kebun belakang seperti tak ada habisnya dipetik setiap hari untuk dimakan oleh seluruh penghuni rumah. Banyak jenis buah kini sudah didapatkan oleh kakek kemudian dicuci bersih.


Sarapan pagi selesai dimasak oleh mereka ibu dan anak gadisnya. Semua sudah tersedia di atas meja makan bersama dengan buah-buahan yang tadi dipetik oleh Sang Kakek.


Aroma masakan itu sangat harum hingga menggugah selera semua orang. Siapa yang tahan menahan lapar dengan aroma sedap masakan yang tiada duanya itu.


"Kek, Kakek." Teriak seorang gadis memanggil seorang lelaki paruhbaya yang selalu bersama Sang Bunda yang sekarang ini sedang membersihkan taman depan rumah.


"Ada apa?" Tanya Sang Gadis.


"Pagi-pagi sudah teriak-teriak." Lanjutnya.


"Ayo Kek sarapan." Ajak gadis Yasna pada laki-laki yang sudah tua itu.


"Sudah masak sarapannya?" Tanya Kakek berjalan masuk menuju ruang makan.


"Iya." Jawab Yasna.


"Harum banget masakan mu." Puji Sang Kakek.


"Seperti gadis yang memasaknya." Lanjutnya.

__ADS_1


Mereka bertiga duduk di kursi makan dan menyantap semua makanan yang tersaji. Suasana pun hening hanya terdengar suara peralatan makan di atas meja makan.


Sarapan hari ini memang lebih dari biasanya. Berbagai macam sajian makan hari ini tersedia di atas meja makan.


"Lama gak pulang, apa sudah ada pacar hingga lupa yang di kampung?" Tanya Bunda Azka pada anak gadisnya.


"Belum." Jawabnya singkat.


"Masak sih anak gadis secantik kamu gak ada yang naksir?" Tanya Kakek.


"Itu dipikir belakangan aja lah Kek." Jawab Yasna Santui.


Gadis itu menggeser kursi kebelakang hendak berdiri. Ia membereskan semua yang ada di atas meja untuk segera menghindari pertanyaan yang akan mengarah pada masalah pasangan hidup.


Bunda Azka hanya diam dengan senyum dibibirnya yang merah ranum yang membuat semua orang pasti terpesona. Ia selalu mendukung apa yang menjadi keputusan sang anak.


Membersihkan semua peralatan untuk masak dan makan ia pun sudah selesai. Gadis itu berjalan mendekati Sang Bunda dan memeluknya dari belakang.


"Aku masih ingin bersama Bunda ku yang paling cantik sedunia." Katanya tepat di telinga Sang Bunda.


"Aku belum bisa membagi sayang ku dengan yang lain." Lanjutnya.


Bunda Azka dalam hati merasa sangat tersentuh. Tapi bagaimana mungkin anak gadisnya tidak mau seorang pendamping hidup.


Gadis itu mempunyai alasan sendiri mengenai hal itu. Kehidupan yang sangat kejam mengajarkan dia untuk tertutup pada orang lain.


Keluh kesah sejak ia masih kecil hanya disimpannya sendiri. Kesehariannya yang ceria seakan tak ada beban itu agar Sang Bunda tidak khawatir padanya.


Gadis itu tidak mau menambah persoalan kehidupan yang ditanggung oleh Sang Bunda seorang diri. Kehidupan tanpa suami sungguh membuatnya harus membanting tulang untuk memenuhi kehidupan mereka.


Setiap kali mendengar kasak kusuk tetangga hatinya gadis itu tahu kalau hati Sang Bunda juga terluka. Alasan itulah ia belum mau untuk pacaran.


Waktu sudah beranjak siang hingga semua melakukan aktivitas masing-masing. Bunda Azka yang sudah lama tidak bertemu dengan anak gadisnya itu hati ini ingin memanjakan diri bersantai sejenak bersama sang anak.


Wanita paruh baya ini sudah memiliki berbagai macam usaha untuk menyambung hidupnya setelah pergi meninggalkan rumah yang meninggalkan bekas luka dihati. Kedua orang yang sangat disayangi harus ditinggalkan karena sebuah perjanjian.

__ADS_1


Bunda Azka tidak ingin memanfaatkan segala aset yang telah diberikan padanya untuk jaminan hidup setelah anaknya lahir. Ia lebih memilih untuk mandiri untuk menyambung kehidupannya.


Wanita itu tidak mau berhutang apapun lagi setelah apa yang ia lakukan. Ia tidak ingin merasa bersalah walaupun ia sampai sekarang merasakan perasaan itu karena telah memisahkan dua bersaudara.


__ADS_2