Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Tidak Di Sini Tapi Di Sana


__ADS_3

Ketiga pemuda itu memutuskan keluar dari pasar. Banyak hal yang mereka dapatkan dari sana.


"Tidak ingin membeli sesuatu?" Tanya Garda menawarkan waktu untuk kedua kakaknya sebelum mereka keluar dari dalam pasar.


"Ada?" Jawab Axel.


"Baiklah kalau begitu aku akan menunggu mu disini." Jawab Daffa.


"Tidak disini, tapi disana?" Kata Axel yang mengintai seorang gadis bersama seorang wanita paruh baya yang masih cantik berjalan keluar pasar menuju mobil yang milik mereka yang terparkir di dekat pohon besar dan diikuti oleh kedua adiknya itu.


"Oh tidak, rasanya mereka sangat familiar bagi kita." Kata Garda yang memang sangat mengingat penampilan kedua wanita yang sedang berbincang-bincang sangat akrab.


"Maksut mu mereka?" Tanya Sang Adik Bungsu.


"Benar." Jawab Kak Garda singkat.


"Mereka ibu dan anak." Kata Daffa keceplosan memberitahu identitas mereka berdua.


"Jadi kamu sudah mengenal mereka?" Tanya Axel penasaran.


"Tidak." Jawab Sang Adik Bungsu terputus.


"Hanya sekedar tahu saja." Lanjutnya.

__ADS_1


"Kamu sudah menyelidiki siapa mereka?" Tanya Garda.


"Tidak perlu." Kata Daffa.


"Perlu dong kalau untuk pasangan hidup." Kata Axel tegas.


"Haduuuh sepertinya ada yang salah sangka." Keluh Sang Adik Bungsu.


Kedua kakaknya melihat ke arah Daffa secara bersamaan. Wajah mereka menaruh seribu tanda tanya pada adik bungsunya.


"Aku pikir kamu sudah berubah, ternyata masih sama saja." Kata Kakak Axel kecewa.


"Maksutnya?" Tanya Sang Adik Bungsu.


"Kamu sekarang hanya menautkan hati pada satu orang gadis, yang kamu bela tadi." Kata Kak Axel.


"Aku hanya menganggapnya seperti seorang adik." Lanjutnya.


"Aku justru menghargainya sebagai gadis baik tidak seperti apa yang mereka tuduhkan." Katanya lagi dan lagi hingga membuat kedua kakaknya percaya.


Kedua kakaknya tidak mempercayai semua itu karena mereka berdua memang tidak memiliki hubungan darah. Jika hal itu pun terjadi mereka juga turut senang dengan segala perubahan yang terjadi pada sang adik bungsu.


Di dalam mobil mereka merapikan penampilan yang sangat berantakan. Pada saat itu pula Garda teringat dengan dompetnya.

__ADS_1


Dompet itu sebenarnya hanya berisi tidak banyak uang, beberapa kartu debit dan kartu kredit. Daffa tidak mempermasalahkan hal itu, tetapi ada selembar kertas yang sangat dia jaga selama ini.


"Kenapa melamun?" Tanya Axel sambil menepuk pundak sang adik.


"Tidak?" Jawab Garda dengan muka yang tiba-tiba kusut.


"Atau jangan-jangan kamu berencana mau merebut itu cewek dari adik kita yang ganteng sejagat raya." Tebak Sang Kakak.


"Kalau mau merebutnya kamu yang pasti kalah duluan, sebab dia kan buaya darat, cassanova kelas kakap." Lanjutnya.


"Pinter banget ngerayu setiap cewek." Lanjutnya lagi.


"Maksut mu Yasna gitu?" Tanya Daffa.


"Jangan macam-macam, kehidupannya sejak dahulu kala sudah sangat menderita!" Ancam Sang Adik Bungsu yang sudah tahu akan kehidupan masa lalu Yasna yang selalu dibully oleh semua temannya.


"Ada yang marah o.. ii." Axel menyanyikan lagu.


"Jadi kamu sudah tahu tentang siapa tadi namanya?" tanya Axel.


"Yasna." Lanjut Axel.


"Sudah-sudah, kalian ini nerocos terus dari tadi." Kata Garda yang diam sejak tadi mengingatkan kedua saudaranya.

__ADS_1


"Ayo jalan." Perintah Garda yang sudah bosan dengan perdebatan keduanya.


Mesin mobil dinyalakan oleh sang sopir dan dijalankan secara perlahan. Mereka tidak dapat menjalankan mobil itu agak cepat karena kondisi jalanan pasar yang masih sangat ramai.


__ADS_2