
Pemuda itu segera membereskan semua kekacauan yang terjadi di dapur tadi dengan segera. Beberapa peralatan juga tidak banyak terbakar toh dengan mudahnya dia bisa membelinya kembali.
Diambilnya sayuran yang ada di kolkas dan juga mie instan di lemari. Axel segera menyiapkan bumbu yang harus digunakan untuk memasak dengan hafal.
Alat masak yang masih bisa digunakan segera disiapkan untuk memasak. Axel terlihat sangat tampan saat menyiapkan segala sesuatunya hingga pandangan seorang gadis tidak berpindah dari setiap gerak tubuhnya.
"Apa aku tidak salah lihat?" Tanya Bella dalam hati mengagumi keahlian dan ketampanan Pemuda yang sedang berperan sebagai koki handal.
Aroma masakan itu menyebar di setiap sudut dapur. Perut yang tadinya kenyang sekarang terasa sangat lapar.
Bella menelan saliva secara kasar saat menghirup aroma masakan itu. Rasanya ingin segera menyantap makanan itu habis tak bersisa.
Seumur-umur baru kali ini rasanya gadis itu memiliki selera makan lebih dari biasanya. Baru juga mencium aroma masakan yang baru masak.
"Penasaran dengan rasanya." Batin Bella ketika melihat Axel membawa piring yang berisi mie hasil karyanya.
"Hanya sekedar mie bukan? Pasti rasanya juga sama dengan yang dijual di luar sana." Lanjutnya untuk meyakinkan dirinya agar tidak memakannya.
Sepiring mie dengan aroma khas yang belum pernah dia rasakan sekarang semakin mendekat. Aroma itu semakin menusuk hidung Bella yang sudah menahan rasa laparnya sejak tadi.
"Makan saja, itu untuk mu." Kata Axel dengan tidak mengurangi karismanya sebagai seorang Ceo yang berubah menjadi koki.
"Tidak usah, aku masih kenyang." Kata gadis itu berusaha menolak makanan itu setelah menelan salivanya kembali.
"Baiklah jika kamu tidak mau biar aku makan sendiri." Kata Axel mengancamnya sambil menarik piring yang ada dihadapan Bella itu.
Gadis itu rasanya ingin menangis saat itu juga. Rasanya karung yang ada di tubuhnya meronta ingin di isi.
Kruuuuuk
Kruuuuuk
Kruuuuuk
Genderang sebuah karung terdengar sangat keras. Suara itu bahkan semut bisa mendengar dengan jelas.
Axel yang ikut mendengar genderang itu justru malah mulai beranjak pergi dari tempatnya duduk. Dia seakan tidak perduli dengan suara yang baru saja didengarnya.
Di dapur itu kini hanya tersisa Bella seorang diri. Dia menyesal tidak menerima tawaran makanan yang diberikan padanya baru saja.
"Dasar tidak peka!" Umpat Bella setelah bayangan Pemuda yang bersamanya tadi tidak terlihat.
Bella perlahan menggeser ke belakang tempat duduknya perlahan. Dia berjalan perlahan mendekati dapur yang masih tercium aroma masakan itu.
__ADS_1
Gadis itu menengokkan kepalanya ke berbagai arah seperti seorang pencuri. Dia ingin memastikan tidak ada yang melihatnya berjalan menuju meja dapur.
"Ternyata masih ada jiwa peri kemanusiaan juga." Kata Bella perlahan saat mengamati sepiring mie yang ada di hadapannya sekarang.
Gadis itu mengambil mie dengan kedua tangannya kemudian mencium aroma itu di dekat hidung. Bella terkejut ketika mendapati seorang pemuda tepat berada dibelakangnya saat membalikkan badan.
"Apa yang kamu lakukan dengan makan itu?" Tanya Axel dingin menatap tajam pada gadis yang ada di hadapannya sekarang.
"Tidak, aku hanya mau membersihkan tadi kekacauan yang aku lakukan." Jawab Bella berbohong.
"Itu bukan kekacauan yang kamu buat tetapi masakan ku." Kata Axel dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Kalau mau bohong dipikir dulu!" Lanjutnya.
Bella mencoba membalas tatapan tajam dari pemuda yang baru saja menjadi lawan bicaranya. Dia tidak sanggup berlama-lama menatapnya karena semua yang dikatakan Axel semuanya benar.
Sepiring mie itu diletakkannya kembali pada tempatnya dengan sedikit emosi. Bella yang biasanya lancar membalas setiap kata dan tuduhan padanya kali ini dia hanya bisa diam.
Gadis yang tidak mau di tindas oleh orang lain kali ini dia hanya pasrah karena semua tuduhan yang diberikan padanya adalah benar adanya. Kesalahan yang baru saja dilakukan itu membuatnya enggan untuk membela diri.
Grep
Sebuah tangan kekar sedang berusaha menahan pergelangan tangan seorang gadis yang hendak pergi. Keduanya menatap tangan yang saling bersentuhan.
"Lepas." Pintanya ketika Axel yang tidak segera melepaskan tangannya justru semakin memperkuat genggamannya.
"Baiklah aku akan melepaskan mu." Kata Axel terputus yang sempat membuat senang gadis yang ada bersamanya saat ini.
"Tapi ada syaratnya." Lanjutnya hingga membuat Bella membulatkan mata sempurna.
"Apa syaratnya?" Tanya Bella yang tidak pernah menyangka dengan hal itu.
"Akan aku katakan besuk." Jawab Axel tetapi masih memegang erat tangan gadis itu.
Hening
Hening
Hening
Axel melirik pada sepiring mie yang diletakkan kembali gadis itu. Perlahan dia melepaskan tangannya.
"Ambillah ini dan makanlah." Kata Axel dengan mengambil kemudian menyodorkan sepiring mie.
__ADS_1
"Duduklah di taman." Kata Axel dengan dingin.
Bella membawa piring itu lagi menuju taman yang ditunjuk oleh Axel. Dia tidak tahu apa yang akan menimpa dirinya setelah itu.
Axel melihat punggung gadis itu secara intens saat kepergiannya. Melihat bayangan Bella yang sudah tidak tampak dia segera mengambil beberapa buah dan mengupasnya.
Buah itu dipotong kecil-kecil untuk dijadikan sebagai hidangan penutup. Buah itu segera ditata di atas piring hingga terlihat cantik.
Dua gelas jus jeruk dingin juga tidak lupa dibuatnya. Sebuah nampan yang jarang dipakai itu saat ini berada ditangan pemiliknya.
Seorang pemuda tampan berjalan menuju arah taman dengan semua makanan yang dibuatnya tadi. Di tempat itu seorang gadis belum menyendok sama sekali makanan yang dibawanya tadi sama sekali.
Axel datang dengan langkah tegap dan membawa nampan berada ditangan kanannya sejajar dengan telinga. Dia berjalan menuju arah gadis yang sedang duduk membelakanginya.
Axel segera meletakkan nampan itu tepat dihadapan Bella hingga membuat gadis itu terkejut. Tatapan tajam Axel langsung menembus mata gadis itu.
"Belum kamu makan juga?" Tanya Axel dengan muka datarnya.
"Apa masih kurang?" Lanjutnya sambil menghempaskan pantatnya pada kursi yang ada di depan Bella.
"Tidak, ini sudah membuat ku cukup kenyang." Jawab Bella dengan pandangan tertuju pada pemuda yang baru saja duduk.
Dia tidak berani menatap Axel lama takut dengan sesuatu. Bella tahu pasti ada udang dibalik makan malam ini semua.
Axel hanya melihat saat gadis itu menghabiskan sepiring mie yang ada di hadapannya walaupun di depannya sendiri terdapat makanan yang sama. Dia melakukan hal yang sama setelah makanan yang disantap gadis itu habis.
Axel segera menghabiskan makan yang ada dihadapannya dengan cepat. Dia makan seperti tanpa dikunyah terlebih dahulu.
"Apa dia kerasukan setan." Batin Bella.
"Makanan itu tanpa dikunyah terlebih dahulu." Lanjutnya merasa takut dalam hati melihat adegan yang ada di depannya.
Gadis itu mengusap leher jenjang miliknya perlahan karena bulu kuduknya berdiri. Ditambah lagi hawa dingin yang mulai menerpa kulit halusnya.
Sepiring potongan buah yang disodorkan padanya belum tersentuh sama sekali. Dia malah melihat Axel yang menghabiskan makanan.
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
Maaf beribu maaf sekian lama baru Update dengan kesibukan baru mengurus suami yang sedang perawatan setelah kecelakaan.
Author minta bantuan doa agar segera kesehatan dan juga tulang kakinya yang retak segera membaik.
Terimakasih untuk para pembaca karya-karya saya. 🙏
__ADS_1