
"Assalamualaikum" Salam ketiga pemuda itu bersamaan.
"Wa'alaikumsalam." Jawab seorang gadis dan wanita paruh baya yang ada di dalam ruang makan.
Setelah mengucapkan salam ketiga pemuda itu langsung menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Ketiganya mengisi backtub dan berendam dengan air dingin sebentar.
Ceklek
Pintu kamar mandi sudah terbuka dan mereka mengganti pakaian mereka. Rasa segar di badan mereka menghilangkan rasa capek yang melanda.
Menunggu waktu magrib di Villa ketiganya berkumpul di ruang keluarga yang berada di lantai bawah. Mereka bercanda, dan tertawa bersama di sana bahkan merebahkan tubuh mereka di tempat itu pula.
Tidak jauh dari tempat itu adalah tempat biasa mereka melaksanakan shalat berjamaah. Waktu magrib pun tiba dan azan telah berkumandang.
Mereka shalat berjamaah dan seorang gadis sedang memperhatikan mereka. Hati gadis itu terasa adem melihat mereka melaksanakan shalat berjamaah.
Gadis itu mengeluarkan butir bening dari kedua matanya. Sungguh menyejukkan jika dirasakan.
Praaaang
Kini berganti suara panci yang terjatuh akibat ia terkejut melihat Bibi sudah berada di belakangnya. Buru-buru pula gadis itu menghapus butiran air yang hendak jatuh dari kedua matanya.
Mendengar ada benda jatuh yang cukup keras suaranya ketiga pemuda itu langsung beranjak dari pertapaannya. Mereka memang sudah selesai melaksanakan shalat dan selesai pula meminta untuk kebahagiaan dunia akhirat mereka.
Ceklek
Pintu pun terbuka hingga orang yang ada disekitar terkejut dengan sebuah pertanyaan yang cukup membuat kedua wanita di sana sedikit ketakutan. Suara yang cukup dingin membuat mereka berdua menundukkan kepala mereka.
"Gadis ini berulah apa lagi Bi?" Tanya Axel.
"Maaf Den, hanya terjadi sedikit kecelakaan." Jawab Wanita paruh baya itu.
"Kenapa kau ceroboh sekali sih?" Tanya Axel menghakimi.
"Bi tolong datang ke ruang kerja segera!" Perintah Axel.
"Baik Den." Jawab Bibi sopan.
Deg
__ADS_1
Jantung kedua wanita itu berdebar kencang. Takut di pecat oleh majikannya.
Kedua Adiknya itu tak pernah menyangka kalau sang kakak akan berbuat seperti itu. Axel tidak akan menghakimi seseorang secara langsung jika hal itu tidak darurat.
Ketiga Pemuda itu menunggu Sang Bibi di ruang kerja. Mereka sebenarnya tidak tega untuk menghakiminya.
Tok tok tok
Bunyi pintu ruang kerja di ketuk perlahan hingga memecahkan keheningan ketiga orang pemuda yang ada di dalam ruangan itu. Ketiga pemuda itu melihat ke arah pintu ruangan mereka sekarang berada.
"Masuk." Perintah Axel kakak paling tua.
"Baik Den." Jawab Sang Bibi.
Bibi memasuki ruang persidangan tersebut dengan hati yang ketar ketir. Sedangkan ketiga orang itu berpikir apa yang akan dilakukan pada wanita paruh baya yang telah berjasa banyak pada keluarganya.
"Bi, sebelumnya aku minta maaf.... " Kata Axel terhenti dengan suara yang rendah.
Deg
Hati wanita paruh baya ini merasa terkejut takut terkena PHK dari majikannya itu. Hak terhadap hal itu ada pada kepala rumah tangga.
"Aku cuma mau tanya aja Bi." Kata Axel.
"Sebenarnya siapa gadis itu Bi?" Tanyanya lagi.
"Maaf Den, saya juga tidak kenal." Jawab Wanita Paruh Baya itu.
"Tapi kemarin malam gadis itu sangat membutuhkan bantuan saya menolongnya karena saya melihat kalau gadis itu gadis baik-baik." Lanjut Sang Bibi.
"Baik lah Bi, kalau menurut Bibi seperti itu." Kata Axel mengingat pengabdian wanita Paruh Baya itu.
"Kalau Aden tidak suka, nanti biar dia tinggal di rumah saya saja Den." Kata Bibi dengan hati-hati.
"Tidak apa-apa Bi. Biar dia tinggal di sini." Balas Axel.
"Ya sudah Bi, tidak ada lagi yang aku tanyakan." Lanjutnya.
"Kalau begitu saya permisi Den." Wanita paruh baya itu berpamitan undur diri dari ruang kerja tersebut.
__ADS_1
"He'em." Jawab Axel singkat.
Wanita Paruh Baya itu keluar dari ruang kerja itu bernafas lega karena ia tidak kena PHK. Gadis baik yang ditolongnya juga masih bisa tinggal di dalam villa itu.
Axel yang duduk di kursi kebesaran itu terlihat sangat berwibawa, sedangkan kedua adiknya berdiri di samping sang kakak. Meraka bagaikan tangan kanan dan tangan kiri Sang Kakak.
Setelah Wanita Paruh Baya itu keluar dari ruang kerja itu kedua saudara Axel hanya membuang nafas kasar. Tidak berdaya jika Sang Kakak sudah mengambil keputusan.
"Apa sebenarnya yang mau Kakak lakukan?" Tanya Daffa.
"Baru tadi siang kakak nyampai sini aja mau buat ulah." Lanjutnya.
"Dasar kamu itu, apa gak bisa lihat dari kedatangan ku ia sudah beberapa kali buat masalah!" Kata Axel mengingat beberapa kejadian yang membuatnya jengkel.
"Ati-ati Kak jangan marah-marah terus sama itu gadis, nanti bisa-bisa....." Kata Garda terputus membela Sang Adik yaitu Daffa selain mengingatkannya akan sebuah perasaan.
"Bilang aja Daffa adikku sayang kalau elu inginnya memang itu cewek ada disini." Kata Axel.
"Kamu kan seorang Cassanova sejati." Lanjutnya.
"Udah-udah yang berantem, mending nikmati aja hidup ini dengan enjoy." Kata Garda mencoba bijak terhadap Kakak dan Adiknya itu dengan berjalan di tengah-tengah sambil merangkul keduanya.
Axel Sang Kakak memang sejak dulu sangat dan super dingin terhadap semua wanita berbeda dengan Daffa yang selalu hangat. Akan tetapi mereka bisa menjaga perasaan saudaranya satu sama lain.
Ketiganya berjalan menuju taman depan hingga tepat berada di depan pintu gerbang yang dijaga oleh seorang satpam. Perasaan Daffa yang kemarin amboradul karena seorang gadis kini sudah lebih baik karena kedatangan kedua saudaranya yang bisa membuatnya tertawa.
Di Dapur
Seorang gadis merasa khawatir pada wanita paruh baya yang sekarang berada di dalam ruang sidang. Ia merasa sangat bersalah pada wanita itu.
Gadis itu takut kalau Bibi akan diberhentikan dari pekerjaan karena dirinya. Ia pun sampai berpikir untuk pergi dari sana tanpa sepengetahuan siapapun.
Kabur dari villa itu adalah hal yang tidak mungkin. Karena di luar sudah ada penjaga yang kemarin malam ikut menolongnya serta ada tiga penjaga baru.
Gadis itu akhirnya membuat sebuah kue yang berbeda dari tadi siang. Kue yang baru matang itu sangat harum.
"Semoga mereka suka dan tidak memberhentikan Bibi bekerja." Gumam gadis itu yang hanya bisa di dengar olehnya sendiri. Ya karena di situ cuma dia seorang.
Gadis itu meninggalkan sebuah pesan pada kue yang baru saja ia buat dan di pesan itu tanpa sengaja ada butir bening yang jatuh di atas kertas itu. Ia pun mengusap kasar air matanya karena tergesa-gesa akan pergi meninggalkan semua orang yang ada di villa itu.
__ADS_1
Langkah kaki wanita paruh baya itu terdengar sangat pelan pada telinga gadis itu. Gadis itu pun terburu-buru bersembunyi di sekitar dapur hingga ia melihat dengan mata kepalanya pesan itu ada yang membaca pesan itu.