
Sungguh beruntung seorang gadis yang bisa mendapatkan hati ketiga pemuda tampan ini. Selain tampan juga setia tiada tara, walaupun mereka terlihat dingin bagaikan kutub es, bahkan lebih dingin dari itu.
"Ada berapa gadis yang bekerja di Villa ini?" Tanya Garda.
"Gak ada ya kak. Setahu ku mereka yang bekerja bersama keluarga kita harus lulus uji kelayakan dulu." Kata Daffa.
"Emmmm." Balas Axel melengkungkan bibirnya.
"Kesimpulannya Sang Bibi saja gadisnya?" Canda Axel yang entah hari ini dia ingin ngerjain adiknya itu.
"Uhuk-Uhuk-Uhuk." Garda pun tersedak mendengar penuturan Sang Kakak.
"Lalu gadis yang di ruang makan tadi?" Tanya Garda dengan meminum air yang disodorkan oleh Sang Adik.
"Oh..... Jadi Kak Garda juga sudah melihatnya?" Tanya Sang Adik tidak menjawab pertanyaan Kakaknya malah balik tanya.
"Iya." Jawab Garda.
"Karena aku gak buta." Lanjutnya untuk menutupi sedikit rasa sukanya.
"Gak ada lagi ya kuenya?" Tanya Garda lagi.
"Huh, katanya udah kenyang." Kata Axel.
"Mau lagi? Kata Axel sengaja menggoda Sang Adik.
"Ya Iyalah, siapa juga yang mengenal kenyang Kalau kuenya aja se enak ini." Jawab Garda.
"Mau dibikinin lagi?" Tanya Sang Adik sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Jangan besuk aja mungkin masih ada waktu." Kak Axel melarang Daffa untuk meminta gadis itu membuatkan lagi.
"Kenapa?" Tanya Garda penasaran ingin tahu.
__ADS_1
"Tangannya baru terluka." Jawab Kak Axel.
"Perhatian amat." Jawab Garda yang selama ini memang sang Kakaknya ini sangat dingin dengan setiap gadis.
"Memangnya tidak ada pembahasan lain?" Kata Axel yang sengaja untuk mengalihkan pertanyaan mengenai seorang gadis.
Kata-katanya itu malah mengingatkan tujuannya datang menyusul Sang Adik ke Villa. Apakah sama tujuannya ingin menyegarkan pikirannya?
Tujuannya datang bersama dengan Garda haduh tak bisa dibayangkan bahwa mereka tidak bisa berjauhan satu sama lain dalam jangka relatif lama. Hanya tempat ini yang bisa menenangkan mereka bertiga.
Papa menginginkan ketiga anaknya menjadi orang yang sukses melebihi dirinya. Bukan hanya sukses di dunia tapi juga di akhirat nanti.
Adrean sebagai orang tua paham betul apa yang harus dilakukannya. Sebuah keputusan itu berlaku untuk Axel sebagai kakak tertua dan Garda anak laki-laki ke dua di keluarga ini.
Anak laki-laki paling terakhir kenapa tidak? Sang Papa tidak memperlakukan itu pada Daffa karena suatu alasan.
Daffa sudah memilih jalan hidupnya sejak awal masuk kuliahnya. Ia memang seorang casanova sejati tetapi memiliki batasannya sendiri. Pemuda itu sudah memiliki rencana itu sejak awal.
Sang Papa tidak pernah menyalahkan tindakan anaknya selama itu masih pada jalur yang sesuai. Hal itulah keyakinan Sang Adik yang selalu memotivasinya.
"Kenapa semua jadi mbengong begini?" Tanya Daffa.
"Gak apa-apa." Jawab kedua kakaknya serempak.
"Benarkah?" Tanya Daffa.
"Jangan lupa ya kita itu kembar bertiga." Lanjutnya.
"Jadi..... " Kata Garda terpotong.
"Apapun yang ada dipikiran pasti akan terbaca oleh saudara kita yang lain." Kata Axel melanjutkan kata-kata Garda.
"Apa pun yang terjadi pasti juga dirasakan oleh yang lain." Kata Daffa.
__ADS_1
"Istilahnya Sehati Sampai Mati." Kata Ketiganya serempak akhirnya mereka pun tertawa renyah bersama.
Tidak terasa waktu semakin sore bahkan kedua saudaranya belum berniat mengutarakan maksut mereka menyusulnya ke Villa. Sadar waktu telah berlalu mereka bertiga bubar pergi ke kamar masing-masing.
Aktivitas seperti biasa yang mereka lakukan ketika mereka pergi ke villa. Pergi kelapangan dekat taman untuk mengendurkan otot-otot mereka.
Bosan juga kita rasakan kalau selalu di rumah kan. Kita pasti memilih alternatif keluar rumah mencari udara segar.
Pergi ke kamar mencari ganti baju mereka yang selalu ada di lemari. Mereka selalu sedia baju di lemari mereka masing-masing.
Pakaian pakaian mereka sama bahkan ukurannya juga sama. Pakaian olah raga sore ini yang mereka kenakan.
Langsung saja mereka menuju tempat biasa. Seperti biasa juga Bram dan rekan-rekan mereka sudah menunggunya di lapangan.
"Hai Bro, datang nyusul juga lu?" Tanya Bram dengan disambut tos antara mereka semua biasa ala anak muda.
"Ya ialah takutnya ni sahabat gue yang satu ini selingkuh dengan seorang wanita." Jawab Axel.
"Tahu aja elu kalau cowok yang satu itu pleboy abis." Balas Bram yang diikuti dengan tawa lebar semua teman yang ada di sana.
Mereka pun mulai bermain sepak bola hingga matahari mulai terbenam. Saat mereka datang bersamaan tidak banyak mengundang tanya sebab teman-teman disekitar villa itu tahu bahwa ketiga bersaudara itu berasal dari kota yang sama bukan karena mereka bertiga itu sebenarnya adalah saudara kembar kecuali Axel.
Mereka pulang ke villa sebenarnya tubuh mereka sudah capek tetapi karena mereka senang dengan lingkungan itu rasa capek itu pun hilang. Mereka bertiga berjalan beriringan hingga memenuhi jalan kata orang jawa bilang selalu menegur dengan kata "Kaya jalan punya embahnya aja."
Di Villa sekarang seorang gadis sedang membantu wanita paruh baya menyiapkan makan malam biarpun sudah dilarang. Ia tidak mau tinggal gratis di villa itu.
Menurut orang Villa itu memang mewah tapi gadis itu menilai villa itu biasa saja. Ia pernah tinggal di villa yang lebih dari itu dengan dilayani banyak pelayan.
Gadis itu di rumah atau dimanapun ia berada setiap ada orang tua dan saudaranya pastilah akan bersikap manja. Beda sekali sekarang ini jauh dari orang tua ataupun sanak saudara ia bisa lebih mandiri.
Ketiga bersaudara itu melihat seorang gadis yang dengan lihainya menyiapkan makan malam di atas meja makan. Rasa kagum terlintas dihati dan pikiran mereka.
Ketiga pemuda ini jadi memiliki pemikiran yang sama kalau gadis yang baru datang ke villa mereka itu bukanlah gadis biasa. Hanya saja mereka belum bisa mengungkap kebenaran tentang gadis itu.
__ADS_1