
Apalagi dia tadi mengucapkan kata adik membuat perasaannya lebih nyaman. Hari ini hatinya sungguh lelah tetapi dengan adanya Daffa yang terlihat sangat tulus membuatnya lebih tegar dan rasa lelah pun lenyap seketika.
Pemuda itu pergi ke kamarnya tidak seberapa lama setelah Yasna masuk ke dalam kamarnya. Dia berjalan dengan ekspresi yang dingin menuju kamarnya tidak seperti saat bersama Yasna.
Di tutup pintu kamar itu rapat-rapat hingga tak ada celah bagi orang lain untuk melihat apa yang dia kerjakan di dalam sana. Daffa mulai membuka tablet yang sengaja ditinggalkan di villa itu.
Berbagai perlengkapan sudah tersedia di dalam kamar tersebut. Dia ingin tahu aktivitas yang terjadi di villa selama beberapa pekan di setiap sudut ruangan.
CCTV telah dipasang di berbagai sudut ruangan oleh ahlinya sebelum dia mempekerjakan orang lain. Untuk menghindari segala hal yang tidak diharapkan terjadi di Villa.
Ahli yang memasang CCTV tersebut adalah Daffa sendiri. Pemuda itu memang tahu apa yang harus dilakukan walaupun semua orang selalu menganggapnya tidak pernah serius dalam segala hal apalagi menyangkut seorang gadis tidak ada serius-seriusnya.
Sifatnya yang seperti itu justru membawanya dalam sikap kehati-hatian, sikap siaga penuh. Apapun yang dia lakukan selalu penuh dengan pertimbangan.
Pemuda itu mulai membuka semua rekaman CCTV di setiap sudut. Semua pergerakan yang terjadi di dalam maupun di luar villa itu sudah terekam dengan baik.
Kamera pengintai itu hanya sebesar sebuah titik spidol warna sehingga sangat kecil dan hampir tidak terlihat. Setiap ruang dan kamar tidak luput dari benda itu bahkan setiap kamar mandi juga ada.
"Apa yang dilakukannya pada malam-malam begini?" Batin Daffa penasaran saat melihat salah satu asisten rumah tangganya berada di balik ruang tengah.
Pemuda itu melihat pada layar laptopnya secara intens ingin tahu apa yang dilakukan asisten rumah tangga itu. Padahal dia paling tahu dan paham mengenai aturan di villa itu.
Pemuda itu hanya tahu asisten itu hanya menguping saja di sana. Terlihat raut wajahnya yang jengkal melihat kedekatan Daffa dengan gadis yang baru saja dibawa olehnya.
Butuh waktu lama untuk melihat rekaman CCTV setiap sudut secara detail hingga tidak terasa waktu sudah hampir pagi. Sesaat melihat dengan seksama wajah gadis yang tadi bersamanya sungguh sangat cantik tetapi dalam hati tidak ada ketertarikan sama sekali terhadap gadis itu.
Pemuda itu terus memperhatikan gadis itu seakan pernah bertemu. Rasanya sungguh tidak asing wajahnya.
Daffa mencoba mengingat-ingat kembali semua gadis yang dia temui. Sangat familiar tapi dimana?
Semua gadis di kampus saja sudah dia kemal mereka takut dengan nenek sihir teman sekampus Daffa. Posisinya sekarang dia berada di desa dekat villa yang mana masalah pendidikan gadis desa di sana sangat kurang diperhatikan.
__ADS_1
Waktu Azan subuh telah berkumandang Pemuda itu juga belum sempat memejamkan matanya. Dia segera mengambil air wudhu untuk mensucikan dirinya.
Gadis yang ada di kamar sebelah mulai membuka mata. Dia tidak tahu apa yang harus dikerjakan sekarang ini.
Klek
Handle pintu kamar yang ditempati Yasna dibukanya perlahan. Kepalanya menyembul keluar dan clingak-clinguk seperti pencuri.
Gadis itu hendak turun melihat kamar yang punya rumah masih tertutup rapat. Terlihat ruang disebelahnya sedikit terbuka hingga dia pun penasaran.
Gadis itu mulai mengintip ke dalam sedangkan di dalam tidak ada barang apapun. Barang yang ada hanya tikar dan perlengkapan ibadah sholat lainnya.
Gadis itu menyaksikan sebuah pemandangan yang menyejukkan hati. Dia merasa bersalah atas apa yang terjadi sebelumnya.
"Bagaimana orang seperti dia bisa shalat sekhusuk itu." Batin Gadis itu.
"Ini benar-benar tidak sesuai dengan perbuatannya." Lanjutnya.
"Masuklah!" Perintah Daffa dengan lembut setelah Dia memanjatkan doa.
"Bukan urusan mu juga kali." Jawab Daffa dengan senyuman bukan marah atau emosi.
"Ambil air wudhu di sana!" Perintah Daffa menunjukkan tempat wudhu dengan jari telunjuk.
"Memangnya ada mukena di sini?" Tanya Yasna.
"Di dalam lemari ada beberapa pilihlah yang kamu suka." Kata Daffa.
Gadis itu beranjak mensucikan diri kemudian menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim. Daffa melihat pemandangan gadis itu dengan berbalutkan kain mukena yang sama sekali tidak mengurangi kecantikannya.
Pemuda itu menunggu Yasna selesai dengan sabar. Dia memang pemuda yang bisa mengontrol emosi di setiap tempat.
__ADS_1
"Aku akan membuatkan mu kopi." Kata Gadis itu setelah selesai shalat dan mereka berdua berjalan menuruni tangga.
"Terimakasih. Aku rasa tidak perlu." Ucap Daffa singkat.
"Biar kamu tidak ngantuk dan segera mengantarku pulang." Kata Yasna yang takut sang Bunda masih menghawatirkannya.
"Dasar, emang kamu itu ada maunya." Kata Daffa yang sudah menarik kursi yang ada di ruang makan.
"Jangan lupa susunya." kata Daffa sedikit berteriak.
"Baik Tuan Muda." Balas Yasna.
Pemuda itu menunggu kopi susu buatan tangan Yasna di ruang makan. Aroma kopi susu hangat menyebar ke seluruh penjuru ruangan.
Aroma itu membuat Daffa semakin penasaran dengan rasa kopi susu itu. Tidak butuh waktu lama untuk membuat kopi susu yang sebenarnya sudah menjadi kebiasaannya.
Memang itu adalah keahliannya selama hidup di perantauan. Gadis itu dengan cepat menyajikan dan mengantarkan di depan Daffa yang sudah menunggu hasil buatan tangannya.
"Emmmm." Daffa menghirup aroma kopi susu itu tepat di depan hidung panjangnya.
Sruuuup
Secara perlahan pemuda itu menyesap kopi susu yang masih lumayan panas. Ya memang kopi itu paling enak diminum secara perlahan saat panas.
"Sepertinya aku pernah merasakan buatan kopi seperti ini." Kata Daffa spontan.
"Kemampuan membuat kopi enak seperti ini tidak banyak." Lanjutnya.
"Di dekat kampus ku ada warung kopi sederhana bahkan warung itu memiliki desain eksterior sehingga banyak anak-anak muda sampai orang tua menyukai tempat itu." Jelasnya yang panjang kali lebar adalah rumus luas.
"Menurut sejarah cepat sekali berkembangnya cuma dalam hitungan bulan bisa membuat warung yang mulanya hanya emperan kini berkembang lebih bagus lagi." Kata Daffa lagi bercerita hingga tak terasa kopi susu yang ada ditangannya hampir habis.
__ADS_1
Gadis yang membuatkan kopi itu hanya tersenyum hangat mendengar pujian yang baru saja dilontarkan oleh Daffa. Pemuda itu tak tahu kalau yang sedang dipuji ada di depannya sekarang.
Seandainya Pemuda itu tahu pasti pujian itu tak akan keluar dari mulutnya. Biarkan saja Dia tahu dengan sendirinya itu adalah keputusan yang paling tepat, toh jika sekarang Yasna memberi tahu kebenarannya pasti Dia tidak akan percaya.