Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Kepergian


__ADS_3

Axel selesai menghabiskan sepiring mie miliknya. Piring itu bahkan terlihat sangat bersih karena sedikit sekali bekas makanan yang tertinggal di atasnya.


"Kenapa kamu melihat ku saat aku sedang menghabiskan makanan ku?" Tanya Axel datar.


Bella yang tadi yang hanya melihat pemuda yang ada di depannya sekarang dengan cepat dia menundukkan kepalanya. Dia menjadi salah tingkah ketahuan sedang memperhatikan pemuda itu.


"Apa kamu tidak haus?" Tanya Axel dengan tangan meraih segelas jus yang dibawanya tadi.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Benda pipih yang ada di dalam saku Axel bergetar. Pemuda itu merasakan seperti ada yang menggelitik dirinya.


Tangan yang semula memegang gelas itu kini diletakkan kembali. Dia merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih tersebut.


Mata pemuda itu menatap layar ponsel dengan cemas. Dia melihat satu pesan dan juga satu panggilan yang masih saja belum dijawabnya.


"Tetap di sini, jangan pergi kemanapun!" Titah Axel dengan tegas.


"Makan buah itu jika mau sambil menunggu ku kembali agar kamu tidak bosan." Lanjutnya.


Pemuda itu pergi dengan tergesa-gesa untuk mengangkat telpon. Dia terlihat sangat serius saat berbicara.


Setelah menutup telp. Dia membuka pesan yang masuk pada ponsel itu. Axel meremas ponsel itu dengan sangat kuat.


Pikiran Axel semakin kacau setelah menutup ponsel miliknya. Tuntutan orang tua dan pacarnya membuat dia tidak bisa mengambil keputusan sesuai hati nurani.


Pemuda itu berjalan kembali mendekat menuju kursi taman tadi sambil menundukkan wajahnya. Baru kali ini dia melakukan itu.


Dihadapan orang lain Axel selalu menatap ke depan. Orang lain bahkan dibuat takhluk pada tatapan elangnya.


"Ada masalah?" Tanya Bella tanpa sadar keluar dari mulutnya saat melihat ekspresi wajah Pemuda yang akan menghempaskan bokongnya itu.


"Hem." Jawab Axel singkat setelah menghempaskan bokongnya masih dalam keadaan menundukkan kepala.


Axel mengusap mukanya secara kasar kemudian menyandarkan punggungnya pada badan kursi hingga akhirnya menatap cerahnya langit. Saat ini rasanya ingin dia mencurahkan segala beban yang ada dihatinya.

__ADS_1


"Walaupun langit malam ini terasa cerah tapi bagi ku awan hitam yang sangat tebal menyelimuti bumi." Kata Axel dengan suara yang sepertinya dia sangat putus asa.


Bella yang mendengar sebuah kalimat itu tahu tahu kalau orang yang ada disampingnya sedang gundah. Dia pun tidak berdaya jika Pemuda itu tidak bercerita masalahnya itu.


Hening


Hening


Hening


Suasana sangat sunyi dengan angin yang semilir menerpa kulit mereka. Waktu yang semakin beranjak larut membuat udara semakin dingin.


"Apa aku boleh kembali ke kamar ku lagi?" Tanya gadis itu hingga memecahkan kesunyian yang tercipta.


"Huuuf." Pemuda itu membuang nafasnya kasar yang diikuti dengan menatap wajah gadis yang ada di depannya sekarang.


"Kenapa tidak kamu makan?" Tanya Axel melihat potongan buah yang ada di depannya masih utuh.


Gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Dia takut mendapat marah karena melihat pemuda yang ada bersamanya saat ini sedang kalut.


Sesaat Bella melihat raut wajah yang sudah tidak bisa ditebak keinginannya itu. Dia menjadi sangat kasihan padanya dan rasa takut itu hilang dalam sekejap.


"Aku akan pergi untuk beberapa hari, jangan keluar dari sini karena situasi di luar sana belum aman." Katanya lagi mengingatkan.


"Makanlah, aku tahu tangan mu terluka karena mengupas buah dan kamu juga ingin membuat jus untuk mengisi perut mu." Katanya lagi yang panjang kali lebar.


"Dari mana dia tahu?" Tanya Bella dalam hati.


"Berarti dia itu memang seorang detektif." Lanjutnya lagi.


Axel mulai mengambil sepotong demi sepotong buah yang ada dihadapannya itu. Dia mulai menyuapkan juga pada gadis yang bersamanya tanpa seijinnya.


Bella yang mendapat perlakuan seperti itu sangat terkejut. Ingin menolak tetapi mulutnya berkata lain.


"Aku tidak ingin melihat mu semakin kurus setelah aku kembali." Kata Axel dengan dingin tetapi penuh perhatian.


"Aku bisa makan sendiri." Kata Bella setelah mendengar ucapan Axel.


Keduanya makan buah itu hingga tandas bahkan jus itu habis tak bersisa. Mereka berdua kembali ke kamar masing-masing.

__ADS_1


Bella semakin gelisah dengan perlakuan pemuda itu. Dia membuatnya takut tetapi juga nyaman.


Gadis itu merasa bahwa semua masalah yang dihadapinya itu tidak kalah berat dengan Axel. Dia tidak ingin menyerah dengan semua perlakuan keluarganya itu.


Mereka yang ada di apartemen yang sangat besar dan luas itu mencoba untuk memejamkan mata mereka. Axel tetap saja melihat jam yang bertengger di dinding walaupun badannya sudah berbaring di tempat tidurnya.


Bella tidak bisa memejamkan matanya juga walaupun badannya juga sudah berbaring pada tempat yang nyaman. Dia memutuskan untuk keluar dan mengambil semua peralatan makan yang ditinggalkan di taman tadi untuk dicucinya.


Kukuruyuk


Kukuruyuk


Kukuruyuk


Suara ayam jantan kini telah terdengar yang menandakan bahwa hari sudah menjelang pagi. Kedua pasutri yang usianya paruh baya sedang menunggu kabar dari ketiga putranya baik dari mereka secara langsung maupun dari orang suruhannya.


Pagi ini ke tiga pemuda penerus keluarga Adrean semuanya mulai bertindak. Mereka juga tidak mau menunda semua masalah yang timbul.


Axel yang sejak semalam tidak bisa tidur dengan nyenyak kini dia sudah bersiap untuk berangkat ke kota sejak subuh tadi. Lingkar hitam di sekitar mata terlihat dengan jelas kali ini.


Pemuda itu menoleh ke arah tempat dia menghabiskan malamnya bersama seorang gadis yang baru dikenalnya. Dia terkejut melihat tempat itu sudah bersih padahal tadi malam semua peralatan makan yang dibawanya ditinggalkan begitu saja.


"Apa gadis itu yang membersihkannya?" Tanya Axel dalam hati.


"Tapi sejak kapan?" Lanjutnya saat berjalan menuju dapur.


Axel ingin melihat gadis yang bersamanya semalam sebelum dia pergi. Dia sendiri juga tidak tahu ada keinginan seperti itu terhadap seorang gadis kali ini.


Pemuda itu mengedarkan pandangannya ketika sampai di dapur mencari sosok gadis yang bersamanya tadi malam. Berat rasanya meninggalkan gadis itu walaupun saat ini tidak ada perasaan apapun.


Axel mungkin merasa bersalah dengan kejadian sebelumnya. Pemuda itu juga tidak tahu perasaannya terhadap Bella setelah kejadian itu.


Axel merasa nyaman juga walaupun berbuat sedikit kasar dan dingin pada gadis itu. Berbeda jika bersama gadis lain walaupun dengan perlakuan yang lebih terhadapnya.


Axel dengan berat hati meninggalkan gadis itu sendirian. Niat hati pergi ke dapur ingin berpamitan tetapi dia tidak menemukan siapapun di tempat itu.


Di sebuah kamar Bella melihat kepergian Seorang pemuda yang baru saja mencarinya. Gadis itu tidak tahu tentang hal itu.


Bella saat ini menebak ada masalah antara Pemuda yang baru saja dilihatnya dari jarak yang lumayan jauh dengan kekasihnya. Masalah lain dengan keluarga Pemuda itu tidak pernah ada dalam pikirannya saat ini.

__ADS_1


Merasa jenuh juga sendirian bahkan tanpa ponsel. Benda pipih itu tidak boleh dinyalakan di apartemen milik Axel saat ini.


__ADS_2