Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Pemandangan Indah Merupakan Anugerah Kenapa Harus Dilewatkan


__ADS_3

Pemuda itu tidak bisa dibilang salah sepenuhnya. Melihat pemandangan indah yang tidak sengaja tersebut adalah anugerah.


"Cepat keluar." Perintah Yasna yang marah bercampur malu.


"Aku lupa memberikan mu tadi jaket tadi?" Kata Daffa yang terus saja melihat gadis yang berendam di dalam kamar mandi yang hanya dipisahkan oleh kaca acit atau kaca yang ada di kamar mandi yang mana kaca itu sedikit buram.


"Takutnya kamu merasa kedinginan." Lanjutnya dengan membalikkan badan hendak meninggalkan kamar mandi tersebut.


"Hey." Panggil Yasna ketika Pemuda tadi sudah keluar dan menutup pintu kamar mandi tersebut.


"Ada apa?" Tanya Daffa dari luar.


"Aku punya nama, bisa panggil nama ku tidak?" Pinta Pemuda itu.


"Iya iya maaf." Kata Yasna.


Hening


Hening


Hening


"Ada apa?" Tanya Daffa yang sejak tadi menunggu di kamar itu tapi tak ada sebuah permintaan dari dalam kamar mandi.


"E........ e......." Kata Yasna yang masih sungkan ingin mengatakan permintaannya.


"Kamu mau mati kedinginan di dalam atau aku hangatkan tubuh mu dengan badan ku kalau kamu masih lama berada di dalam sana." Cerocos Daffa yang sudah takut kalau berlama-lama lagi di dalam sana gadis itu bisa sakit.


"Bisa aku pinjam handuk?" Tanya Yasna.


"Keluar dari dalam dan ambil sendiri." Canda Pemuda itu.


"Apa kamu gila?" Tanya Yasna.


"Tidak." Jawab Daffa singkat.


"Kalau aku gila aku lebih suka tergila-gila pada mu." Celetuknya.


Pemuda itu bisa menghargai Yasna sebagai seorang wanita. Ia selalu teringat dengan pesan dari kedua wanita tercantik yang ada dihatinya.


Pemuda itu mengambil handuk yang ada di lemari pakaian di kamar tersebut secara cepat. Dia takut gadis yang sekarang berendam dan basah kuyup di dalam kedinginan.


"Ini aku ambilkan tapi ada Imbalannya." Kata Daffa ringan.

__ADS_1


"Sudah keluar dari dalam backtub dan ambil handuk ini." Lanjutnya.


"Atau kamu memang sengaja membuat mu berlama-lama kedinginan di dalam air hingga gak enak badan." Lanjutnya lagi.


Hachuuh


Akhirnya Gadis itu pun bersin setelah apa yang dikatakan Daffa baru saja. Lama kelamaan tubuhnya menggigil kedinginan.


Gadis itu masih diam saja dan tidak bergerak sama sekali. Bagaimana bisa keluar sekarang walaupun pintunya tertutup tapi cuma terhalang hanya dengan kaca acit yang masih bisa tembus pandang.


"Cepat ambil, atau kamu memang mau keluar dari sana dengan telanjang?" Tanya Daffa dengan senyum smirk.


Pemuda itu mengerjai Yasna yang tidak segera beranjak dari tempatnya berendam. Terus saja Daffa masih berdiri pada tempatnya yang hanya dibatasi oleh kaca buram.


Hachuuh


Suara seorang gadis yang ada di dalam kamar mandi itu yang bersin. Daffa memutuskan untuk masuk ke dalam tanpa aba-aba.


Gadis itu berteriak meminta Daffa keluar dari kamar mandi itu dengan sangat keras. Dia pun menyerahkan handuk itu dengan segera tanpa menutup mata sehingga terlihat pemandangan yang cukup indah tertutup dengan putihnya busa.


"Cepat keluar!" Teriak seorang gadis merasa ketakutan jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan.


"Baiklah jika kamu ingin aku segera keluar." Kata Daffa setelah menggantungkan handuk itu.


"Pemandangan indah merupakan anugerah kenapa harus dilewatkan." Lanjutnya dan berbalik meninggalkan kamar mandi itu bahkan Dia keluar dan menutup pintu kamar.


Pemuda itu memiliki wajah yang cukup tampan semua gadis pasti akan memberikan apa yang dia mau tapi jika dilihat biarpun memiliki kesempatan dalam kelonggaran seperti itu tadi dia malah melepaskan kesempatan itu. Yasna satu-satu-nya gadis yang menolak pemuda itu walau hanya dengan tatapan saja.


Gadis itu tidak ingin apa yang dikatakan orang lain menjadi sebuah kebenaran. Dia selalu menjaga kesuciannya untuk melindungi orang yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Pemuda yang ada didekatnya sekarang mungkin tahu apa yang dirasakannya, hingga Dia tak mau berulah dengan kesempatan itu. Jika laki-laki lain bisa saja dalam kondisi seperti tadi bisa melakukan hal lebih tapi tidak dengan Daffa.


Daffa sejak dini sudah ditanamkan untuk menghormati seorang wanita. Tidak pernah sekalipun Dia melampaui batasannya walaupun dia seorang cassanova sejati.


"Untung saja dia segera pergi." Gumam gadis itu.


"Akhirnya aku bisa membilas badan ku." Lanjutnya.


Gadis itu segera berdiri dan segera membilas badannya yang masih dipenuhi dengan banyak busa. Dinginnya air membuat dia tidak berlama-lama di kamar mandi itu.


Badan sudah terasa segar walaupun badan terasa dingin. Handuk yang tergantung di tempatnya segera diambil.


Gadis itu pun segera mengeringkan badannya untuk mengurangi rasa dingin air yang baru saja mengguyur tubuhnya yang indah. Tubuh yang indah itu kini dibalut dengan sehelai handuk dan sekarang menuju tempat tidur untuk mengambil sebuah kaos yang menurutnya pas di badannya yang indah dan langsing.

__ADS_1


Gadis itu melihat semua ukuran kaos sama hingga dia pun hanya memilih salah satu kaos yang diberikan Daffa tadi. Kaos itu kini sudah melekat di tubuhnya yang indah.


Tubuhnya yang terlalu langsing atau kaosnya yang kebesaran? Walaupun sedikit kebesaran hingga menutupi tubuh langsingnya tapi Yasna merasa nyaman.


Gadis itu merapikan penampilannya sebelum keluar dari kamar itu. Walaupun natural wajahnya tetap terlihat cantik.


Yasna sudah merasa yakin dengan dirinya yang sekarang tanpa make-up. Penampilan kesehariannya juga natural seperti sekarang, tetapi memiliki aura tersendiri yang mampu memikat orang lain.


Kebiasaan ini menurun dari Sang Bunda yang tampil apa adanya. Tidak berbeda juga dengan Bella yang selalu natural dalam merias dirinya walaupun Mammynya selalu memakai make-up berlebih.


Daffa menunggu di depan kamar yang sekarang ditempati oleh Yasna. Dia menyandarkan punggungnya di pintu yang tertutup rapat.


"Ah." Teriak Daffa saat pintu kamar dibuka dari dalam oleh seorang gadis dengan penampilannya yang natural.


"Maaf, aku tidak tahu kalau kau ada di depan pintu." Jelasnya.


"Cantik." Puji Daffa sambil berusaha berdiri.


"Terimakasih, aku memang cantik dari dulu." Ucap Yasna mengulurkan tangan membantu pemuda itu berdiri.


"Tapi tidak lebih cantik dari kedua wanita yang ada di hati ku." Jelas Daffa.


"Yah, kalau sudah di hati pastilah dia yang paling oke." Balas Yasna.


"Berarti kamu itu seorang cassanova dong?" Tanya gadis itu.


"Tidak salah dengan ucapan mu." Jawab Daffa santai.


Hening


Hening


Hening


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang tamu. Keduanya hanya diam membisu tanpa ada sebuah kata.


"Apa maksudnya kedua wanita?" Batin Yasna.


"Apa mereka berdua tahu kalau mereka sama-sama diduakan?" Lanjutnya.


"Sungguh teganya-teganya laki-laki ini menduakan kedua wanita itu."


"Tapi bukan urusan ku juga kali. Mungkin aku juga tidak lebih baik dari dia. Sampai sekarang saja aku masih sering dibully oleh orang-orang."

__ADS_1


Banyak sekali argumen yang ada dikepala gadis ini sekarang. Rasa penasaran hinggap dalam pikiran dan hatinya.


Daffa apa arti nama itu sebenarnya hingga bisa memiliki banyak kekasih. Wajahnya yang tampan memungkinkan untuk semua itu.


__ADS_2