
Seorang pemuda sedang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi menuju pantai tempat dia selalu menenangkan diri. Saat ini sepasang mata sedang melihat dia secara sekilas karena kecepatan yang dia gunakan sangatlah cepat.
Pikirannya kini sedang kalut, hatinya diporak-porandakan oleh seseorang. Dia tidak tahu mengenai hati dan pikirannya sendiri.
Kedua saudaranya memang sudah yakin tidak akan terjadi apapun pada adik bungsunya. Sang adik memang selalu terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Pemuda itu selalu saja punya jalan keluar walaupun memiliki sifat seperti itu. Daffa mengambil semua. Semua yang dia dapatkan selalu menjadikan dia pelajaran.
Di sebuah pantai Dia menatap luas lautan lepas yang ada di depannya. Angin kencang yang menerpa tubuhnya seakan memberikan sebuah ketenangan.
Sayang waktu terlalu singkat, malam mulai menjelang. Daffa masih saja berada pada tempatnya.
Pemuda itu memiliki perkiraan yang sangat akurat. Malam ini air laut tidak terlalu pasang seperti terakhir waktu dua bersama seorang gadis.
Hai apa kabar gadis itu sekarang?
Tubuhnya basah kuyup sampai dingin yang seharusnya dirasakan sama sekali tidak terasa. Lewat tengah malam baru dia menuju villa miliknya sendiri.
Wajah Pemuda itu terlihat pucat, bibirnya sudah biru. Seorang Asisten rumah tangga yang dulu menyambutnya tidak berbeda dengan sekarang.
"Tuan kenapa begini?" Tanya asisten rumah tangga itu.
__ADS_1
"Biarkan aku masuk, jangan menghalang ku." Pinta Daffa.
"Biar aku bawakan minuman untuk anda." Kata Titin.
"Segera ganti baju anda nanti bisa masuk angin kalau pakai ini terus." Lanjutnya.
"Memangnya siapa kamu berani memerintah ku?" Tanya Pemuda itu ketus dan dingin.
Asisten Rumah Tangga itu kemudian menunduk tapi hatinya sangat sakit mendengar kata-kata dingin dari Pemilik Villa itu. Dia memang punya perasaan pada Daffa tapi apalah daya cinta tak bisa dipaksa.
Pemuda itu menuju kamarnya yang masih sangat rapi sejak ditinggalkannya kemarin. Dia selalu membersihkan dan merapikan kamarnya sendiri setiap akan pergi dari tempat itu.
Pemuda itu tidak lupa mengunci pintu kamarnya. Bagi dia apapun bisa berubah asal ada uang yang berlebih.
Ceklek
Suara knop pintu diputar setelah pemiliknya mengeluarkan kunci kamar dan memasukkan kunci itu pada knop pintu. Pemuda itu segera masuk dan mengambil handuk kimono miliknya setelah mengunci pintu kamar itu dari dalam.
Daffa segera menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya biarpun badannya sudah merasa menggigil. Backtub itu diisi dengan air hangat dengan sangat penuh, bahkan sampai meluap.
Pemuda itu berada di samping backtub tetapi air bisa-bisanya meluap. Dipikirannya kini hanya satu orang gadis.
__ADS_1
Daffa berusaha menepis pikiran itu, bahkan apa yang dia rasakan. Selama ini dia tidak pernah menganggap seorang gadis karena gadis-gadis itu selalu yang mengejarnya.
"Selama ini aku yang paling tampan dan selalu dikejar oleh para gadis bahkan aku sampai kencan dengan mereka tanpa ada ikatan walaupun ikatan kekasih tapi kenapa gadis ini acuh." Kata Daffa dalam hati.
Crucuk Crucuk Crucuk
Suara alunan musik dari bactub yang akan dipakainya untuk berendam terdengar dan mengenai kakinya. Pemuda itu akhirnya tersadar dari pikirannya itu.
"Bodoh." Kata pemuda itu merutuki kebodohannya sendiri setelah masuk ke dalam backtub yang berisi air hangat.
"Banyak wanita diluaran sana yang dengan mudahnya aku jadikan kekasih kenapa juga aku mengharapkannya." Lanjutnya.
Pemuda itu memejamkan mata untuk mengurangi semua kebimbangan yang melandanya saat ini. Mempertimbangkan Sang Kakak yang dulunya sangat perhatian saat gadis itu sakit.
Daffa tidak ingin merebut gadis yang disukai dan dicintai Sang Kakak. Mereka bertiga memang tidak mau bertengkar hanya gara-gara seorang gadis.
Axel sang kakak sudah pernah menjalin cinta dengan seorang gadis begitu juga Garda. Cinta mereka kandas ditengah jalan sebelum janur kuning itu melengkung.
Kisah cinta mereka tidak pernah ada yang tahu antara saudara kembar. Mereka hanya bisa saling menebak dari gelagat mereka saudara mereka.
Seorang Pemuda salah satu diantara mereka berbeda halnya yang sering jalan dengan banyak gadis. Daffa tidak pernah mengumbar kata cintanya pada semua gadis.
__ADS_1
Pemuda itu hanya ingin mengungkapkan pada gadis yang benar-benar dicintainya dan menerima semua kekurangan yang ada padanya. Daffa untuk kali ini untuk pertama kali dia merasa kacau ketika melihatnya ada di villa itu.