Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Aku Membuat Mu Lelah, Aku Akan Bertanggung Jawab


__ADS_3

Gadis itu diam mematung mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Garda. Dia sebenarnya tidak mengharapkan imbalan apapun sebelumnya.


Krek


Suara yang berasal dari lantai yang halus terdengar karena sekarang di kaki gadis itu terasa kasar. Tepat di depan sebuah kursi yang diduduki oleh Garda.


"Apa ini?" Batin Yasna tadi sudah aku bersihkan kan lantainya.


Gadis itu berjongkok ingin tahu yang baru saja diinjaknya. Dia menggelengkan kepala perlahan setelah jari-jari lentiknya meraba benda itu.


"Mampus deh bos, gadis ini pasti marah besar." Batin Tino yang sudah tahu sebenarnya sudah tahu kalau mulai tumbuh bibit-bibit cinta diantara keduanya.


"Sebaiknya aku melarikan diri saja." Lanjutnya.


Tino mulai terlihat gusar melihat nasib sahabatnya. Berbeda dengan Garda yang tenang saat ini.


"Kami sudah memanggilkan dokter untuk mu, agar kamu segera pulih." Kata Yasna dengan intonasi yang sedikit tinggi.


"Aku sudah mengorbankan perasaan ku saat bertemu dengan dokter itu tapi apa balasannya?" Lanjutnya lagi dengan intonasi yang semakin meninggi.


Deg


"Ternyata benar ada masalah keluarga." Batin Garda merasa semakin tidak enak.


Pemuda itu berusaha mengendalikan perasaannya itu. Garda ingin pergi dari tempat itu untuk menemui pacarnya tetapi hatinya terasa sangat berat ketika melihat gadis yang ada di depannya.


Pemuda itu mengambil dua ponsel yang ada di meja dan mengganti sim cart di ponsel yang baru. Salah satu ponsel dengan sim cart miliknya sendiri dan yang satu adalah ponsel milik Yasna.


"Atas dasar apa dia berani mengganti sim cart ku di ponsel baru?" Batin gadis itu dengan memicingkan matanya.


"Aku terima atau tidak ponsel itu apa dia sudah bertanya pada ku." Lanjutnya dalam hati.


Pemuda itu tampak mengotak-atik kedua ponsel itu. Sahabatnya Tino yang tahu apa yang dilakukan oleh Sang Bos.


"Ini milik mu." Kata Garda singkat.


"Apa aku sudah menyetujuinya untuk menggunakan ponsel mu." Kata Yasna ketus.


"Aku akan membuat mu menyetujuinya saat ini juga." Kata Pemuda itu dengan dingin.

__ADS_1


"Terserah pada mu, hari ini aku sangat lelah." Kata gadis itu dengan intonasi yang sedikit tinggi.


"Aku yang membuat mu lelah, aku juga akan bertanggung jawab atas keadaan mu." Kata Garda dengan muka datar.


Pemuda itu jarang sekali atau hampir tidak pernah menunjukkan rasa bahagianya pada siapapun, kecuali pada pacarnya. Dia juga tidak suka berhutang budi pada orang lain.


Ucapan pemuda itu tak pernah disangka akan meluncur begitu saja dari mulutnya sendiri. Dia sendiri tidak tahu maksut dari ucapannya.


Kedua orang yang sedang beradu mulut itu akhirnya hanya saling tatap. Keduanya merasa sangat teduh dalam hati mereka masing-masing.


"Maaf Bos sebaiknya aku pergi." Kata Tino perlahan setelah dirasa cukup lama melihat kedua orang yang bersamanya itu selalu berdebat tidak ada manis-manisnya sama sekali.


"Takutnya mobil itu akan marah lagi pada ku." Lanjutnya agar keduanya bisa mencerna perkataan atas keterlambatannya tadi dalam membeli obat. Sahabatnya sendiri paling tahu alasan lain dari lamanya dia pergi.


Bruuuuk


Suara sebuah badan yang ideal itu jatuh di atas pangkuan seorang pemuda yang badannya penuh luka. Tino sengaja mendorong gadis itu hingga jatuh pada pangkuan Sang Bos.


"Maaf Nona aku tidak sengaja karena terburu-buru." Kata Tino yang sebenarnya.


"Sahabatku itu tidak butuh obat semacam itu, dia itu sebenarnya hanya butuh seseorang yang tulus seperti mu." Katanya menjelaskan sebuah kebenaran.


"Lihatlah dia itu sangat kuat." Lanjutnya lagi.


Tino berjalan menuju pintu belakang bukan pintu utama. Dia mencari sosok seorang wanita Paruh Baya dan seorang laki-laki yang sudah lanjut usianya itu.


Tino merasa sangat terhormat bisa bertamu di keluarga ini. Mereka tampak sangat tulus tidak seperti keluarga yang lain.


Pemuda ini yang biasanya berperilaku sedikit sembrono tidak memperhatikan etika tapi di tempat ini berbeda. Tino sendiri merasa hatinya sejuk berada di sini.


"Permisi." Kata Seorang Pemuda yang hendak berpamitan.


"Kemarilah, ada yang Mas butuhkan?" Tanya Seorang Laki-laki yang dicarinya.


"Tidak Kek, panggil nama ku saja sepertinya lebih enak didengar." Pinta Tino berjalan mendekati Sang Kakek.


"Aku cuma mau pamit saja." Lanjutnya.


"Tante ada?" Lanjutnya bertanya.

__ADS_1


"Sebentar Kakek panggilkan." Kata Sang Kakek tanpa menjawab pertanyaan Pemuda itu.


Kakek menuju sebuah ruangan yang ada di dekat taman. Ruangan itu cukup tertutup tetapi ketika Wanita Paruh Baya itu membuka sedikit Tino langsung bisa menangkap semua barang yang ada di dalam ruangan itu.


Semua benda yang ada di sana sama persis tidak kurang dan tidak lebih dengan sebuah ruang kantor miliknya dan juga milik sahabatnya. Ruangan seorang direktur atau Ceo lainnya.


Ruangan milik wanita ini didesain sangat unik setelah Tino perhatikan dengan baik. Dia jadi bingung mana yang merupakan pintu masuk yang sebenarnya.


Pintu yang digunakan baru saja merupakan pintu biasa tetapi disekelilingnya lebih banyak di dominasi dengan kaca dibandingkan dengan tembok pembatasnya. Kaca transparan itu menghadap pada taman bunga dan sebuah kolam ikan.


Wanita Paruh Baya itu berjalan bersama dengan Kakek. Wanita yang terlihat elegan itu sangat menghormati laki-laki yang sudah lanjut itu.


"Benar kalau gadis itu sangat menghormatinya, Bundanya saja sangat menghormati Kakek itu." Batin Tino.


Kedua orang yang lebih tua dari Tino itu berjalan semakin dekat. Pandangan pemuda itu masih takjub dengan desain yang begitu sempurna itu.


"Kamu mau pulang sekarang?" Tanya Wanita itu.


"Iya, Tante." Jawab Tino.


"Maaf Tante kalau kami merepotkan." Lanjutnya.


"Saya nitip teman saya Tante, sebab sepertinya dia belum siap untuk perjalanan jauh dengan mobil itu." Lanjutnya lagi dengan menunjuk mobil yang terparkir di depan.


"Saya akan berusaha menjaganya semampu saya." Kata Wanita Paruh Baya itu merendahkan diri.


"Terimakasih Tante." Kata Tino.


"Saya pamit dulu." Lanjutnya.


Tino mencium punggung tangan kedua orang yang ada dihadapannya itu. Dia mulai membalikkan badan dan melangkahkan kakinya dengan cepat.


Tino berjalan menuju halaman depan menuju mobil sewaan itu lewat samping rumah. Dia tidak mau mengganggu momen Sang Bos bersama seorang gadis di ruang tamu.


Suara mesin mobil itu sedikit keras tetapi tidak mengganggu kedua orang yang ada di dalam ruang tamu. Mereka sudah tenggelam dalam pikirannya masing-masing.


Bunda Azka sendiri merasa sangat senang jika pemuda yang terluka itu masih tinggal di sana. Bunda bisa melihat pemuda itu bisa merubah hati anaknya yang sangat keras itu.


Pemuda itu juga lebih sering terlihat dingin. Mukanya juga terlihat garang dan bermuka datar. (Maaf Authornya juga lagi bereksplorasi membayangkan wajah sang suami, 🤭🤭🤭).

__ADS_1


Bunda Azka tahu temperamen pemuda yang saat ini bersama putrinya itu. Dia bisa melihat pemuda itu walaupun keras tetapi akan setia pada wanita yang dicintainya.


Bunda Azka segera kembali ke ruang kerjanya itu setelah kepergian sahabat dari Garda. Wanita itu juga memberikan kesempatan untuk keduanya saling kenal saat ini.


__ADS_2