
Pemuda itu bangga dengan apa yang diucapkan Hafsa baru saja. Gadis itu sekarang sudah berani berbicara dengannya dengan intonasi yang sedikit tinggi.
"Mau tahu hukuman bagi orang yang sudah berani masuk ke kamar adik ku?" Tanya Seorang pemuda yang berusaha menggertak Hafsa.
"Antar kan aku sekarang kembali atau akan terjadi hal besar yang tidak akan kamu tahu." Kata Hafsa tegas.
"Tidak akan terjadi apapun, tenang saja." Kata Axel membawa pergi teh hangat dan beberapa makanan yang baru saja di buat oleh Hafsa.
Gadis itu membersihkan semua peralatan yang digunakannya untuk memasak. Dapur itu kini juga sudah bersih seperti sedia kala.
Pemuda itu bukannya tidak bisa masak tetapi dia ingin gadis yang dibuatnya pingsan tadi bisa makan dengan banyak. Hafsa memiliki ketrampilan memasak yang cukup baik hingga ide itu muncul begitu saja tanpa memikirkan orang lain.
Dreeeeet
Dreeeeet
Dreeeeet
Benda pipih yang ada di saku piyama milik seorang Pemuda yang melakukan penculikan kini bergetar tanda ada panggilan masuk. Ponsel itu bergetar bukan di saat yang tepat menurut Axel.
Ceklek
Suara Knop pintu diputar hingga pintu itu dibuka oleh seseorang. Pemuda itu melihat seorang gadis yang masih terbaring di tempat tidurnya.
"Kenapa aku tidak menyadarkan dia dulu tadi?" Kata Seorang Pemuda merutuki kebodohannya sendiri.
"Aku malah bertengkar dengan gadis calon pacar adik ku." Lanjutnya berjalan menaruh semua makanan dan minuman yang dibawanya di atas nakas.
Pemuda itu mencari minyak gosok untuk menyadarkan Bella yang tertidur seperti seorang putri. Minyak itu digosokkan pada telapak kakinya kemudian beralih pada perutnya.
"Maaf aku tidak bermaksud melecehkan mu." Ucapnya perlahan sebelum menggosok minyak itu pada perut Bella.
Perut Bella sedikit hangat setelah mendapat sentuhan tangan pemuda itu. Axel menatap wajah gadis itu ingin membaukan pada hidungnya tetapi apalah daya matanya juga tidak bisa menghindar dari bibir merah ceri yang menjadi santapannya tadi.
Rasanya ingin sekali dia menerkamnya kembali. Dia sadar ini bukan waktu yang tepat.
Bella mendengar ucapan pemuda yang sedang merawatnya kini secara samar-samar tetapi cukup jelas terdengar di telinga gadis itu perlahan. Perlahan gadis itu membuka matanya tanpa sepengetahuan Axel.
"Sudah sadar?" Tanya Pemuda itu.
"Minumlah, mumpung masih hangat." Lanjutnya.
__ADS_1
Gadis itu kini duduk di tempat tidurnya dengan menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur dengan dibantu oleh Axel. Dia tidak menyangka kalau Pemuda itu akan kembali dengan memakai pakaian tidurnya.
"Makanlah ini yang memasak calon ipar ku baru saja." Kata Axel tanpa sadar keluar dari mulutnya.
"Calon ipar? Apa aku sudah minta persetujuan padanya." Batin Pemuda itu merasa bersalah.
Pemuda itu membiarkan Bella memakan makanan yang dibuat oleh seorang gadis yang menjadi tawanannya itu. Dia keluar dari kamar dan menuju taman untuk menelpon kembali saudaranya.
"Tidak tahu kah kamu sekarang ini sudah tengah malam?" Tanya Axel pada saudaranya itu.
"Aku tahu." Jawab Garda singkat.
"Lalu kenapa kamu menelpon ku?" Tanya Sang Kakak.
"Aku sudah cerita dengan mu semuanya, tapi kenapa kamu malah menyulut api dengan saudara mu sendiri." Jelas Sang Adik yang tahu malam ini Kak Axel membawa seorang gadis yang baru saja tinggal di villa.
"Maaf aku membawanya karena gadis yang kemarin itu ternyata sedang tidak enak badan." Jelas Sang Kakak dengan penyesalan.
"Aku akan segera mengantarkannya pulang." Lanjutnya.
Pemuda itu segera menutup telponnya tanpa salam seperti biasanya yang dengan salam. Dia langsung menuju dapur dan minta maaf pada tindakannya yang tanpa berpikir panjang.
Gadis itu paham maksut baik untuk gadis itu, tapi disisi lain cara yang dipakainya salah. Axel juga sudah menjelaskan alasannya untuk menutup mata saat menuju ke apartemen miliknya itu.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi karena waktu memang sudah tengah malam. Pada waktu tersebut jalanan sangat sepi hampir tidak ada pengendara yang lalu lalang seperti di kota.
Hening
Hening
Hening
Mereka berdua hanya saling diam dalam perjalanan itu. Axel menang seorang pemuda yang tidak banyak bicara.
"Bersiaplah untuk menjalani hukuman mu yang sebenarnya suatu saat." Kata Axel sebelum mereka berdua sampai di villa.
Pemuda itu merasa gadis yang ada di sampingnya itu pantas untuk sang adik. Adiknya yang buaya darat sepertinya cocok dengan Hafsa yang begitu tegas menurutnya.
Si kembar saat ini sedang berbincang di kamar Daffa. Pemilik kamar sedang mengotak atik ponselnya sejak tadi.
Garda yang sejak tadi memperhatikan gerak gerik Sang adik hanya bisa menerka saja. Dia hanya bisa meminta Kak Axel untuk segera membawa kembali koki mereka kembali.
__ADS_1
Kedua orang itu sudah sampai di villa dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Hafsa segera menuju kamar Sang Bibi takut menjadi bahan perbincangan.
Hal pertama yang dilakukan oleh gadis itu mencari ponselnya. Entah kenapa dia hanya ingin mencari ponselnya ketika sampai di kamar itu.
Gadis itu terkejut melihat banyak pesan dan juga panggilan tak terjawab dari seseorang. Hafsa segera menjawab pesan itu dan meminta maaf karena kelalaiannya.
Seorang pemuda dengan wajahnya yang masih pucat pasi tersenyum-senyum sendiri setelah mendapat balasan dari Hafsa. Pesan itu pun belum juga di buka sudah membuatnya seperti orang gila.
Seorang pemuda yang sekarang sedang berbincang dengannya hanya dengan melihat ekspresi saudara kembarnya itu sudah tahu apa yang terjadi dengan adiknya itu. Dia pun ikut merasa senang dengan perubahan sikap Daffa yang sekarang.
"Siapa?" Tanya singkat Saudara kembarnya itu walaupun dia sudah mengetahuinya.
"Koki kita." Jawab Daffa singkat.
"Jadi adikku ini sudah bertukar nomer ponsel juga rupanya." Kata Garda senang melihat perkembangan hubungan keduanya.
Tap
Tap
Tap
Suara langkah kaki seorang pemuda yang baru datang dengan cepat menuju kamar saudaranya yang berada di tengah. Dia terlihat sedikit cemas dengan gadis yang ditinggalkan di apartemen miliknya.
"Maaf membuat kedua saudara ku ini kelaparan." Kata Axel dengan tertunduk.
"Bisa dimaafkan?" Tanya Garda menatap pada saudara kembarnya.
"Lain kali kalau bawa gadis ku bilang dulu." Kata Daffa.
"Kamu telah menculik koki kita jadi harus ada hukumannya." Kata Garda yang mempunyai niat terselubung.
"Ya karena kamu telah membuat perut kita menderita." Lanjutnya.
"Baiklah aku akan menerima apapun tetapi itu harus berdasarkan logika kemanusiaan." Jawab Axel terlihat kusut.
"Jadi sebenarnya Daffa memang mencintai gadis itu." Batin Kak Axel setelah mendengar kata yang terucap dari mulut adiknya itu.
Sang Kakak sulung merasa rencananya semakin mudah. Hukuman untuk koki mereka jadi bisa semakin dipercepat.
Koki ketiga pemuda itu sedang berkutat di dapur setelah membaca pasan dari Daffa. Hafsa membuatkan makan malam yang cukup terlambat itu sesuai dengan pesanan dari seorang pemuda yang mengirim pesan tadi.
__ADS_1