Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Terus Terus Terus Ledekin Terus


__ADS_3

Gadis yang masih tertidur dengan nyenyak karena memang semalam tidak bisa memejamkan mata tidak mendengar sebuah motor yang baru saja meninggalkan villa itu. Baru kali ini juga gadis itu bangun kesiangan selama tinggal di villa keluarga Adrean kecuali dia sakit.


Tok


Tok


Tok


Ketukan pintu dari luar sebuah kamar terdengar perlahan. Kamar yang baru saja dihuni oleh seorang gadis yang terlihat sederhana.


Gadis yang ada dalam selimut itu mulai menggeliat. Dia pun mengerjapkan mata berulang kali.


"Hah kesiangan." Pekik seorang gadis setelah mendongokkan kepala melihat ke arah jam dinding itu terpasang.


"Maaf Bibi." Kata Hafsa merasa sangat bersalah setelah membuka pintu kamar barunya.


"Tidak apa Nduk." Kata Bibi saat melihat gadis yang ada dihadapannya merasa bersalah.


"Kamu baik-baik saja bukan?" Tanya Bibi merasa sangat khawatir sebab baru kali ini Hafsa bangun kesiangan.


"Tidak, aku hanya kecapean karena semalam aku tidak bisa tidur." Jawab Hafsa jujur.


"Ya sudah kalau begitu bibi ke belakang dulu." Kata Wanita yang sudah hampir menjelang usia yang lanjut.


"Baik, nanti aku nyusul." Kata Hafsa.


Gadis itu menutup pintu kamarnya setelah melihat Bibi menghilang dari pandangan matanya. Dia segera membersihkan diri seperti biasanya.


Hafsa segera pergi ke dapur setelah selesai mandi. Rambut panjangnya selalu di ikat ekor kuda saat membantu Sang Bibi agar tidak mengganggu aktifitasnya.


Mata gadis itu mulai melihat pada segala penjuru tetapi tidak menemukan sosok yang beberapa hari ini mengisi hari-harinya. Dia sebenarnya juga ingin menghindari tetapi hatinya berkata lain.


"Apa yang aku pikirkan dan aku inginkan sebenarnya?" Kata hati Hafsa dalam hati.


Hafsa mulai bingung apa yang harus diperbuatnya saat ini. Hatinya berkata lain takut akan melukai orang yang telah sedikit mengambil hatinya.


"Mencari siapa Nduk?" Tanya Bibi ketika melihat Hafsa yang seakan mencari seseorang.


"Tidak mencari siapapun Bi." Jawab gadis itu berbohong.


"Mencari Tuan?" Tanya Bibi singkat.


"Tidak, aku bingung untuk masakan hari ini yang mau dibuat." Jawab Hafsa dengan memperhatikan bahan sayuran segar yang ada di atas meja untuk menutupi kebenaran dari wajahnya.

__ADS_1


"Masaklah makanan yang kamu suka, Bibi juga pasti menyukainya." Kata Wanita Paruh baya itu.


"Makanan yang aku suka Bibi juga menyukainya tetapi orang lain belum tentu suka bukan?" Kata Hafsa menjelaskan seakan ada beban di hatinya.


"Kalau begitu buat sedikit saja untuk sarapan kita." Kata Wanita Paruh Baya itu.


Bibi mengurangi semua bahan sayuran dan lauk yang ada di atas meja dapur sebelum diolah menjadi bahan makanan dengan segera. Gadis yang ada bersamanya itu melihat tindakan yang dilakukan oleh wanita paruh baya itu dengan mengerutkan kening.


Hafsa tidak yakin akan cukup dengan semua bahan makanan yang akan dimasak. Banyak pertanyaan didalam pikirannya sekarang.


Sepi sungguh sangat dirasakan gadis ini. Tidak seperti biasanya walaupun sepi tetapi masih terdengar derap langkah seseorang.


Bibi akhirnya memberi tahu pada gadis yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Hafsa merasa sangat kehilangan seseorang.


Dia akhirnya hanya memasak sedikit untuk semua penghuni villa walaupun mereka bukan pemiliknya. Hafsa memutuskan hanya sarapan dengan segelas susu yang dibuatnya setelah memasak sarapan untuk semua orang.


Hafsa membantu Bibi membersihkan seluruh tempat untuk mengalihkan pikirannya yang sedang kalut. Saat ini dia terpikirkan pada seorang pemuda yang baru saja pergi bersama bayangannya.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


"Apa sesibuk itu hingga tidak punya waktu untuk menjawab telepon ku." Gumamnya perlahan ketika sedang beristirahat di sebuah taman yang terletak di tengah kota.


"Apa aku tidak salah lihat?" Lanjutnya ketika matanya menangkap dua orang pemuda yang sedang duduk di atas rerumputan saling membelakangi.


Daffa seketika itu juga langsung meninggalkan motor yang dikendarainya di tempat parkir. Dia berjalan dengan begitu cepat menuju dua orang pemuda yang telah dilihatnya.


Tap


Tap


Tap


Langkahnya begitu mantap dan mampu mengguncang dunia. Kedua pemuda itu juga tidak sadar kalau adik bungsu mereka sudah berada di dekat keduanya.


"Apa kalian sekarang ini sudah jatuh miskin mendadak?" Tanya Seorang pemuda yang sedang memandangi kedua kakaknya secara bergantian.


"Hai hai hai, apa sekarang ini kalian bertambah jadi tuna rungu?" Lanjutnya ketika kedua kakaknya hanya melongo menatap dirinya itu.


"Apa uang kalian sudah ludes dirampok oleh gadis-gadis kalian itu?" Lanjutnya lagi.

__ADS_1


"Ayo sekarang pulang?" Ajak Sang Adik.


"Pulang kemana?" Tanya Kak Axel yang sudah malu dengan keputusannya dahulu.


"Jika aku pulang mereka pasti akan memaksa kita untuk melakukan semua kemauan mereka." Lanjutnya sesudah berdiri tegap dengan kedua kakinya yang tanpa alas kaki.


"Memangnya salah jika mereka meminta sesuatu dari kita?" Tanya Sang Adik Bungsu.


"Belum tentu permintaan mereka itu merugikan kita." Lanjutnya.


"Jangan lupa mereka bagaikan paranormal yang selalu tahu tentang kita." Lanjutnya yang diiringi dengan tertawa lepas.


"Terus terus terus." Kata Garda dengan menekan dan memperpanjang setiap intonasi katanya.


"Ledekin terus sampai puas." Lanjutnya.


"Maaf aku cuma ingin kalian itu sadar kalau kalian itu tidak lemah, kalian itu tidak sendiri." Kata Daffa mengingatkan kedua Kakaknya yang sedang frustasi dengan mantan kekasih mereka.


"Keluarga kita akan saling mendukung satu sama lain jika itu memang benar." Lanjutnya lagi.


"Percayalah Papa dan mama pasti akan mengerti keadaan kita, sekarang ayo kita kembali ke rumah kita." Tambahnya yang semakin panjang.


Ketiga orang pemuda tampan yang pagi ini sedang kusut tetapi masih terlihat keren saling diam di tempat mereka masing-masing. Ketiganya saling tatap secara bergantian.


"Ayolah kita pulang bertiga." Kata Daffa setelah berada di tengah dan merangkul kedua kakaknya.


"Jika kita pulang bertiga bersamaan jangan tanya lagi kejadian selanjutnya." Lanjutnya.


"Benar juga apa kata mu." Kata Axel yang sudah paham dengan kedua orang tuanya.


Ketiga pemuda itu memutuskan untuk kembali ke kediaman utama. Mereka berjalan perlahan tapi dengan langkah yang cukup lebar.


Suara gelak tawa yang lumayan cukup keras terdengar di setiap sudut taman kota itu. Perbuatan mereka itu berhasil memancing semua pengunjung yang ada di sana.


"Dasar anak muda." Kata salah seorang pengunjung yang sedang bersama dengan anak kecil.


"Memangnya mereka tidak punya kerjaan lain selain bersenang-senang?" Lanjutnya.


Bukan hanya satu dua orang yang berkata seperti itu. Ketiga pemuda itu bersikap cuek terhadap semua perkataan mereka.


Ketiga pemuda tampan itu paham apa yang dimaksudkan oleh semua orang yang ada di taman kota itu. Mereka beranggapan bahwa semua anak muda hanya tahu bersenang-senang saja.


Mereka memutuskan untuk mengendarai kendaraan masing-masing untuk kembali ke kediaman utama. Motor yang mereka tinggalkan di hotel tadi malam diambilnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2