
Adrean yang memperlakukan mereka seperti anggota keluarga sendiri juga mengingat dahulu kala. Seorang Tuan Besar yang banyak berjasa pada keluarganya hingga ia bisa begitu suksesnya seperti sekarang walaupun dengan jerih payahnya sendiri tetapi juga berkat dukungan dan arahan dari Almarhum Tuan Richat.
Mesin kendaraan bermotor meraung-raung di garasi. Sejak dua hari terakhir mesin kendaraan itu tidak dipanasi.
Sepeda motor itu cukup lama meraung-raung di sana. Akhirnya kendaraan bermotor itu melaju dengan cepat.
Salah satu saudaranya melemparkan sebuah jaket kulit miliknya. Ia pun segera memakai kacamata hitam yang baru saja dibersihkannya.
Pemuda itu lebih memilih memakai sepeda motor agar lebih cepat sampai di apotik. Ia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang tetapi kalau di desa itu sudah sangat cepat.
Bagaikan seperti seorang pembalap tanpa helm. Semua orang bisa melihat betapa tampannya pemuda itu hingga banyak menarik perhatian semua orang.
Chiiiiiit
Terdengar sebuah gesekan ban motor dengan aspal sangat nyaring di telinga ketika Axel hendak sampai pada tujuannya. Seorang anak yang sedang bermain lepas dari pengawasan orang tuanya melintas di jalan.
Pemuda dengan gayanya yang Cool turun dari motor dan melihat ke sekeliling tak terlihat seorang pun orang ada di sana. Akan tetapi disebuah rumah dibalik jendela ada sepasang mata sedang mengintainya tanpa sengaja sejak tadi.
Pemuda itu pun berjongkok memegang pundak anak yang sedang tertunduk. Ada dua kemungkinan karena takut kena motor atau takut kena marah oleh pemilik motor itu.
"Siapa nama mu?" Tanya Pemuda itu pada seorang anak dengan suara yang lirih sambil melepas kacamata hitam yang ia kenakan.
Anak itu pun tak menjawab sama sekali. Kepala anak itu terus saja menunduk.
Ada rasa takut dalam hati anak laki-laki tersebut hingga tak berani menjawab pertanyaan Axel. Pemuda itu pun terus saja mengedarkan pandangan mencari orang tua dari anak tersebut.
Menunggu jawaban anak itu sangat lama akhirnya ia pun mengganti beberapa pertanyaan yang berbeda-beda. Akan tetapi tetap sama saja tak terdengar satu kata pun.
__ADS_1
Axel akhirnya memutuskan untuk mengajak anak itu pergi ke apotik bersamanya. Dinaikkan tubuh kecil itu ke atas motornya.
"Tunggu." Pinta seorang gadis dengan suara yang tidak begitu keras juga tidak terlalu kecil.
"Ada apa Nona?" Tanya Axel dingin.
"Mau dibawa kemana itu anak?" Tanya gadis itu.
"Memangnya Nona kenal?" Tanya Axel tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.
"Enggak sih, mana tau elu mau nyulik." Cerca gadis itu yang memang sudah lama ia tidak berada di desa itu. Bahkan jika ia berada di desa itu pun ia jarang sekali keluar rumah.
"Kalau sudah gak ada hal penting lagi maaf Nona segera menyingkir saya tergesa-gesa." Jelas Axel.
Anak laki-laki itu masih berada di atas motor hanya diam menyaksikan pergulatan kedua orang yang beradu mulut itu. Anak itu malah mengagumi ketampanan dan kecantikan kedua orang itu.
Pemuda itu dan Yasna menoleh pada anak kecil yang sedang berusaha memberanikan diri untuk menghentikan perdebatan mereka. Keduanya berhenti berdebat.
Tidak lama mereka berhenti dalam beradu mulut datang seorang Laki-laki Paruhbaya yang sepertinya sangat mengenal anak itu. Laki-laki itu datang dari rumah yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
"Anak nakal ayo turun!" Perintah Laki-laki itu.
"Kamu naik motor siapa?" Tanyanya lagi.
"Aku dinaikkan ke motor ini, bukannya aku naik sendiri." Jelas anak itu.
"Maaf Den, ini cucu saya memang nakal." Kata Laki-laki itu sambil menurunkan cucunya dari atas motor.
__ADS_1
Keduanya lantas pulang menuju rumah sedangkan Axel segera menyalakan motornya kembali dan segera pergi tanpa berpamitan pada gadis itu. Sadar ia berlaku tidak sopan ia pun menoleh untuk melihat gadis itu lagi berniat meminta maaf tapi ternyata gadis itu sudah tidak ada ditempat.
"Cepet banget ngilangnya." Batin Axel.
Sudah tahu gadis itu tidak ditempatnya lagi Axel pun langsung bergegas menuju apotik untuk menebus resep obat dari Dokter Mawar. Tujuannya sudah tidak terlalu jauh.
Chiiiiiit
Terdengar ban bergesekan dengan jalan aspal di depan apotik. Suaranya cukup memekikkan telinga.
Turun dari motor seorang apoteker langsung menghampiri Axel yang terlihat sangat tergesa-gesa. Pemuda itu pun langsung menyerahkan resep obat yang tertulis di selembar kertas kecil.
Ketar ketir hatinya dibuat menunggu seorang apoteker mencarikan resep obat tersebut. Terasa sungguh sangat lama ia menunggu, mungkin karena rasa khawatir pada gadis itu.
Apoteker tersebut keluar dari ruang obat dengan membawa beberapa jenis obat. Hati pemuda itu sedikit merasa tenang karena semua resep obat sudah didapatkannya.
Pemuda itu mengira bahwa apotik yang terletak di desa itu tidak menyediakan cukup obat dalam hal kesehatan. Ia pun tidak tahu kenapa ia merasa sangat khawatir pada gadis yang kini tinggal di Villanya.
Pemuda itu membawa pulang sejumlah obat tanpa hambatan sama sekali. Ia sungguh bersyukur bisa lekas sampai di villa miliknya.
Turun dari motor itu dengan membawa plastik berisi obat Axel segera berlari menuju kamar belakang. Bungkusan plastik itu segera diberikan kepada wanita paruhbaya pemilik kamar belakang itu sekarang.
Wanita itu mengucapkan terimakasih kepada Axel. Pemuda itupun hanya menganggukkan kepalanya kemudian segera beranjak pergi dari kamar itu.
Selepas kepergian Axel, Bibi segera memberikan obat itu pada Hafsa yang sedang merintih merasakan sakit. Gadis itu duduk dengan dibantu oleh Bibi, dengan mata terpejam ia meminum obat itu.
Axel yang keluar dari kamar pasien disaksikan oleh kedua saudaranya. Mereka berdua saling pandang dan saling melemparkan senyum.
__ADS_1