
Menarik nafas dalam sambil memejamkan mata merasakan harumnya masakan dari dapur mereka. Sejak gadis itu datang setiap hari di meja makan tersedia berbagai macam menu makan lezat.
Ketiga Tuan Muda itu dapat dipastikan akan mengalami kenaikan berat badan saat kembali ke kota. Makanan lezat setiap hari mereka makan.
"Bersiaplah makan malam." Ajak Axel.
"Tidak, aku mulai sekarang lebih baik menahan diri sebelum orang lain marah pada ku." Kata Garda hingga membuat Sang Kakak semakin penasaran.
"Maksud mu?" Tanya Kak Axel memicingkan kedua matanya.
"Sudahlah, tunggu tanggal mainnya saja." Jelas Sang Adik yang membuat Kak Axel semakin penasaran.
Garda semakin tidak berani berhadapan dengan gadis yang telah menemukan dompetnya. Axel juga semakin penasaran jika Sang Adik sekarang berusaha menghindari gadis itu.
Daffa yang berada di kamarnya sedang mandi bersiap untuk jalan-jalan dengan menggunakan motor kesayangannya itu. Keluar dari kamar dia juga mendapati sama seperti kedua saudaranya itu.
Rasanya setelah mencium bau harum itu dia enggan untuk keluar dari villa. Pikiran dan hati Daffa semakin terdorong untuk pergi walaupun rasanya enggan keluar dari sangkar.
Tok Tok Tok
Pemuda itu mengetuk pintu kamar Sang Kakak. Kamar Sang Kakak yang terletak dipaling ujung.
Jalan menuju tangga melewati kamar Kak Axel kenapa harus kamar Kak Garda yang semakin jauh dari tangga. Pemuda itu belum tahu kabar dari Kak Axel yang sedang patah hati masih butuh waktu sendiri atau tidak hingga dia memutuskan untuk mengajak Saudara kembarnya itu.
"Mau kemana rapi begitu?" Tanya Kak Garda.
"Keluar cari angin." Jawab Daffa singkat.
"Ikut tidak?" Tanya Daffa.
"Gak ajak Kak Axel, tadi Dia ngajak keluar juga." Jelas Kak Garda.
"Udah baikan dia?" Tanya Daffa ingin mengetahui kondisi Sang Kakak yang sekarang ini.
"Sangat baik." Jelas Kak Garda.
"Tadi aja udah keluar dari sarangnya kok." Lanjutnya.
__ADS_1
"Jadi kalian tadi sudah pergi jalan-jalan?" Tanya Daffa.
"Kenapa gak ajak-ajak sih?" Lanjutnya.
Garda menceritakan kejadian saat mereka bisa keluar dari sarang bersama-sama. Jika Daffa tahu pasti akan ikut mereka pergi tadi, tapi apalah daya dia tadi sedang sibuk di sarangnya hingga lupa dengan segala sesuatunya.
Garda memutuskan untuk bersama keluar bersama Sang Adik. Dia masih menghindari gadis yang baru muncul di villa milik mereka.
Mereka kini berjalan menuju garasi hendak mengambil motor kesayangan Daffa. Dibagasi mereka terkejut karena barang yang hendak mereka pakai tidak ada ditempat.
Daffa merasa kebingungan karena itu adalah motor kesayangannya. Rasa panik membuatnya lupa akan sesuatu yang paling penting yang bisa menemukan motornya itu.
"Kemarin aku kehilangan dompet ku, sekarang kamu kehilangan motor mu." Kata Garda yang membuat Sang Adik mondar-mandir berhenti menatap pemuda yang bersamanya saat ini.
"Sejak kapan Kakak kehilangan dompet?" Tanya Daffa.
"Kemarin." Jawab Garda singkat.
"Kenapa aku tidak tahu?" Kata Daffa.
"Kamunya saja yang terlalu sibuk dengan diri mu sendiri." Kata Sang Kakak.
Mereka berdua pergi dengan menggunakan mobil Sang Kakak Sulungnya. Seorang gadis melihat mereka pergi hingga membuatnya tidak yakin akan makan di rumah.
"Tidak jadi masak Neng?" Tanya Bibi setelah menghampiri Hafsa yang menaruh bahan makanan itu ke dalam lemari pendingin kembali.
"Mereka kan baru saja keluar Bi, baru saja." Jelas gadis itu.
"Tidak mungkin juga kan mereka makan di rumah." Lanjutnya.
"Jangan salah Neng, mereka keluar pun pasti makan di rumah." Kata Bibi menjelaskan kebiasaan yang diajarkan oleh Tuan dan Nyonya Besar.
"Biarpun mereka sudah makan di luar pasti di rumah juga akan makan." Lanjutnya.
"Terkecuali mereka sudah berpesan atau melarang kita untuk menyiapkan makan untuk mereka." Jelasnya lagi.
Hafsa mengeluarkan kembali semua bahan yang hendak dimasaknya hari ini. Mencuci buah termasuk didalamnya.
__ADS_1
Sayur dan buah-buahan yang disajikan itu merupakan hasil ladang milik mereka sendiri. Hasil dari tanah yang ada di sekitar villa.
Gadis itu mulai memasak sayur-sayuran dengan sangat mahir. Buah-buahan yang akan disajikan pun hanya di cuci dengan bersih tanpa dikupas.
Axel yang pergi keluar tanpa sepengetahuan kedua saudaranya itu sekarang berada di jalanan. Kepergiannya itu tanpa arah dan tujuan.
Kepergiannya itu sebenarnya telah mengajak Adiknya Garda tetapi dia tidak tahu Sang Adik mau diajak atau tidak. Axel berada di sebuah minimarket yang tidak jauh dari pasar.
Pemuda itu turun dari motor dengan gagahnya. Axel masuk ke dalam minimarket hendak membeli sebotol minuman dingin.
Seorang penjaga kasir mencoba memperlambat pelayanannya itu saat Axel ingin membayar minuman yang telah diambilnya. Hatinya tiba-tiba merasa tidak tenang.
"Nona bisakah lebih cepat sedikit." Pinta Pemuda itu tepat setelah seorang yang mengantri dibelakangnya mengeluh.
"Maaf Tuan ini komputernya agak bermasalah sepertinya." Kata Petugas Kasir.
"Antrian dibelakang sudah panjang nona." Jelas Axel yang semakin tidak tenang berada disana.
"Ini, kembaliannya untuk anda." Lanjutnya sadar dengan apa yang dilihatnya sejak tadi bahwa komputernya tidak ada masalah.
"Maaf Tuan, ini kembaliannya." Kata Petugas Kasir memanggil Axel kembali karena Dia sudah berbalik dan pergi meninggalkan minimarket itu.
Pemuda itu segera pergi dari sana tanpa menghiraukan petugas kasir. Dia pergi mengikuti arah hati dan pikirannya itu.
Melewati sebuah masjid dilihat seorang pengemudi mobil berhenti yang sedikit mencurigakan gelagatnya. Pemuda itu akhirnya berhenti di tepi jalan berpura-pura menikmati langit sore hari sebelum matahari terbenam di pinggiran sawah.
Seseorang keluar dari mobil mengamati seorang gadis yang pernah dilihatnya beberapa hari lalu. Wajahnya tidak asing lagi baginya tetapi itu adalah seorang gadis atau wanita paruh baya yang pernah menolongnya waktu itu dia tidak begitu jelas karena jarak yang lumayan jauh juga.
Axel melihat sebuah pistol yang terselip di celana seseorang yang baru saja keluar dari mobil itu. Dia membulatkan mata tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Apa mungkin ini juga penyebab pikiran ku tidak bisa tenang?" Batin Pemuda itu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang." Lanjutnya bingung tindakan yang harus dilakukan sekarang.
Pemuda itu melihat ke sekeliling yang menang tempatnya sudah agak sepi. Axel sebenarnya tidak takut menghadapi mereka, tetapi dia takut salah mengambil tindakan.
Pikirannya terus berputar mempelajari situasi dan kondisi agar tidak ada korban jiwa. Axel terus menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri clingak-clinguk mencari-cari sebuah tempat yang sepi dan aman.
__ADS_1
Pemuda itu juga sempat memikirkan keselamatan motor kesayangan Sang Adik. Dia tidak ingin merusak motor kesayangan Daffa yang merupakan hasil kerja kerasnya selama ini.