Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Galau


__ADS_3

Sang Kakak tersadar dari lamunannya melihat tinggal secuil kue yang tersisa. Hal ini membuat sedikit kecewa pada hatinya tidak bisa makan kue yang seenak buatan sang mama.


"Ini buat gue!" Kata Axel dengan menyahut kue kemudian berlari menuju kamarnya.


"Yang buat elu itu kuenya atau orang yang membuatnya?" Kata Garda yang saat itu sudah berada di depan pintu menyandarkan tubuhnya pada daun pintu tersebut sambil bersedekap.


Hafsa memiliki usia yang jauh dibawahnya. Ia baru saja lulus SMA sedangkan ketiga pemuda ini sudah hampir lulus S3.


Kakak sulung ini lah yang memiliki tanggung jawab paling besar diantara kedua adiknya. Untuk itulah ia memiliki sikap yang ektra dingin dibandingkan dengan kedua adiknya.


Sikap dingin bak kutup es berlaku untuk siapa saja termasuk seorang gadis. Akan tetapi hal itulah yang sangat disukai kebanyakan gadis.


"Ngapain berdiri di situ? gak capek apa?" tanya Daffa yang berlari menerobos masuk tanpa permisi.


Melihat Kakak sulungnya itu duduk di sofa adiknya Daffa yang sering kali bertingkah langsung saja merebahkan tubuhnya di tempat tidur itu melihat pada atap kamar Sang Kakak. Garuda pun berjalan masuk mulai bergabung.


Waktu semakin larut tak terasa rasa ngantuk menyerang Daffa yang saat itu sedang rebahan di tempat tidur Sang Kakak. Axel berjalan menuju balkon sedangkan Garda yang yang dari tadi memainkan benda pipih miliknya sempat melirik Sang Kakak.


Berdiri melihat bintang-bintang yang bertaburan Axel menengadahkan kepalanya. Ia merasa ada sedikit rasa tenang ketika melakukan itu.


Tak


Tak


Tak


Sebuah derap langkah yang ringan menghampiri Sang Kakak. Sama halnya yang ia lakukan menikmati damai malam bertabur bintang.


"Langit malam yang indah." Sebuah suara memecahkan keheningan malam mereka berdua.


"Mungkin itulah yang diharapkan Papa dan Mama." Lanjut Garda yang masih menengadahkan kepalanya.


Hening


Hening


Hening

__ADS_1


"Dua pilihan yang mereka tujukan untuk mu." Kata Garda lagi.


"Mungkin." Sahut Axel.


"Tapi selama ini kan demi kebaikan kita juga kan?" Tanya Garda.


"Hem." Jawab Sang kakak singkat.


"Gimana ya menurut kakak kita jika ia tahu?" Tanya Garda yang tahu selama ini sangat memperhatikan Sang Kakak secara berlebihan dari pada Dia dan Daffa.


Sang kakak hanya mengendikkan bahunya sebab selama ini Kakak Perempuannya itu juga banyak mendukung semua keputusan kedua orang tuanya. Keputusan yang diambil Kedua orang tua buat Sang Kakak perempuannya itu tidaklah salah.


Garda dan Daffa yang sangat tahu kakak perempuannya itu sedikit berlebih memberikan kasih sayang pada Sang Kakak Sulung pasti punya sebuah alasan tersendiri. Kedua adiknya sangat lah paham sehingga tidak menimbulkan suatu kesenjangan diantara mereka.


Daffa yang sudah sejak tadi terjaga sedikit banyak mendengar percakapan kedua kakaknya. Suara langkah kaki yang sangatlah ringan hampir tidak menimbulkan suara menuju arah balkon.


"Da." Bentak Daffa seraya kedua kakaknya tersentak dengan kedua telapak tangannya menyentuh bahu kedua kakaknya sedangkan dia sendiri berada di tengah-tengah.


"Sedang ngrumpi in apa'an kalian ini?" Tanya Daffa kemudian.


"Apa-apa an sih elu?" Bentak Sang kakak Sulungnya.


"Sebenarnya kalian menyusulku ke sini pasti ada alasannya kan? Tanya Daffa pada sang sulungnya dengan menyenggolkan bahunya beberapa kali.


"Biasanya kalian menyusul kesini tidak bersamaan tapi kali ini beda." Tebak Daffa.


"Nasib kedua kakak ku ini kurang lebih sama kan, sampai-sampai merasa galau juga berdua." Lanjutnya dengan tertawa renyah.


"Elu itu adik paling tahu akhlak ya!" Kata Garda sedikit geram mendengar ledekan adik kandungnya itu.


Ketiga kakak beradik setelah itu terjadi aksi saling kejar-kejaran. Daffa dibuat kualahan oleh kedua kakaknya itu.


Teriakan ketiga pemuda itu untung saja tidak sampai keluar ruangan. Sebab kelakuan mereka saat itu sudah seperti anak-anak.


Seperti biasa saat mereka berkumpul ada-ada saja kelakuannya hingga semua masalah seakan hilang entah kemana. Perasaan bahagia yang tercipta diantara mereka.


"Ok ok aku nyerah!" Teriak Daffa saat merebahkan tubuhnya di tempat tidur milik sang kakak. Hal tersebut diikuti juga oleh kedua kakaknya.

__ADS_1


"Makanya jadi anak kecil jangan kepo sama urusan orang dewasa." Ledek Axel.


Saat ini mereka bertiga sedang merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur. Mata mereka masih sempat melihat langit-langit kamar.


Mereka merencanakan segala sesuatu setiap menjelang tidur. Entah itu di ruang kerja, taman atau dimanapun yang mereka anggap saat itu nyaman.


Waktu pagi hari hampir tiba. Mata mereka hampir tidak bisa diajak bernegosiasi.


Di Kamar belakang adalah kamar semua ART


Seorang gadis masih sama terjaganya dengan Ketiga pemuda itu. Ia merasa bimbang dengan keputusan yang sekarang ia buat.


Bukan karena ia tidak mau menderita tapi ada alasan lain yang sangat mengganjal dihati. Apalagi ia telah membohongi beberapa orang yang telah dibahonginya.


"Belum tidur Nduk?" Tanya Sang Bibi pada Hafsa yang sedang melamun hingga beberapa saat.


"Yang sudah ya sudah ndak usah dipikirkan?" Kata Bibi dengan logat jawanya. Saat itu Bibi menghampiri Hafsa dan memegang pundak gadis itu hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Bibi." Kata Hafsa terhenyak.


"Apa tidak biasa tidur dengan orang lain sekamar?" Tanya Bibi.


"Bukan seperti itu Bi." Jawab Hafsa tahu apa yang dimaksut Wanita Paruh Baya itu.


Hafsa merasa sangat akrab dengan panggilan dari wanita paruh baya yang tidur bersamanya saat ini. Ia yang biasa dipanggil dengan sebutan "Nona" merasakan ada jarak yang sangat jauh.


Gadis ini pun tertidur meringkuk seperti bayi di samping wanita paruh baya itu. Wanita itu merasa ada yang aneh dengan gadis yang ada disampingnya itu.


💕💕💕💕💕💕💕💕


Maaf tidak bisa Up date setiap hari dikarenakan kondisi.


Author lagi sering drop sikonnya harap pembaca setia saya memakluminya.


Semoga kita semua diberi kesehatan selalu.


Amin.

__ADS_1


Salam Sehat.


__ADS_2