
Ditinggalkan seorang gadis hingga tidak jelas status hubungan mereka berdua. Daffa masih melihat sebuah harapan untuk bersama gadis itu di wajah kakaknya.
"Seorang Axel keluarga yang sangat kaya dan terpandang hanya memikirkan gadis yang tidak jelas seperti itu." Kata Daffa dingin.
”Kamu menghinanya?" Tanya Sang Kakak dengan intonasi tinggi.
"Banyak gadis diluaran sana seperti dia, masih kah kamu yang sangat terhormat mengharapkannya?” Tanya Sang Adik Bungsu.
"Demi gadis itu Kakak sekarang membentukku.” Kata Daffa menggelengkan kepala perlahan.
Pemuda itu sudah tidak ingin lagi beradu mulut dengan Sang Kakak hingga kini tangan kanannya mulai meraih benda pipih yang ada di saku celananya. Daffa membuka segel keramat yang bisa membuka kunci pada benda itu.
Zet Zet Zet
Tangan Pemuda itu dengan cepat dan lincah membuka segel benda pipih itu. Cahaya yang semakin terang muncul ketika segel itu terbuka.
Pemuda itu mencari sesuatu dengan menggerakkan jari-jarinya di atas layar sebuah benda. Foto seorang gadis kini terpampang jelas pada salah satu sosmed.
Pemuda itu menunjukkan informasi yang tertera pada sosmed itu pada sang kakak. Axel terkejut tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat dan dibacanya.
"Benarkan gadis itu sama dengan yang ada difoto itu?” Tanya Daffa pada sang kakak saat dia melihat semua sudah terpampang jelas di matanya dengan menundukkan kepala.
"Hanya demi gadis seperti dia Kakak marah pada ku?" Tanyanya lanjut.
"Ia kalau dia masih gadis kalau tidak dia cuma bisa disebut wanita murahan." Katanya kini sudah bertubi-tubi.
"Seorang wanita bukan seorang gadis!” Tegasnya lagi.
Mendengar semua perkataan Sang Adik hatinya seakan terasa semakin hancur berkeping-keping bagaikan sebuah puingan yang tidak berwujud lagi. Dia menatap layar benda pipih itu dan adiknya Daffa secara bergantian karena merasa masih tak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.
"Jangan menangis sayang." Ledek Sang Adik sambil bernyanyi dengan menepuk pundak Axel sekali kemudian berjalan meninggalkan kamar itu dengan langkah secepat kilat.
Pemuda itu meninggalkan Sang Kakak sendiri di kamar tidak lupa menutup pintu kamar itu kembali. Dia tahu Sang Kakak pasti membutuhkan waktu untuk sendiri.
__ADS_1
Daffa sudah merasa lega setelah memberitahukan semua kebenaran pada Sang Kakak hingga dia tidak berharap pada wanita itu. Dia pun segera beranjak menuju kamarnya sendiri karena sedang menunggu pesanannya datang.
Ceklek
Pemuda itu memutar Knop pintu kamar segera masuk dan menutup pintu itu kembali. Dia baru menyadarinya ada sesuatu yang hilang dari dirinya.
"Haduh kekasih terang ku masih dibawa Kakak." Kata Pemuda itu sambil membuang nafas kasar.
Pemuda itu hendak kembali ke kamar Sang Kakak tapi di depan pintu kamar setelah membukanya di depan terlihat seorang gadis membawakan sepiring kue yang dimintanya tadi. Jantungnya berdegup begitu kencang saat melihat gadis itu. (Mungkin itu kali ya yang dikatakan dari mata turun ke hati).
"Bawa masuk taruh di meja!" Titah Pemuda itu dingin dan langsung melangkahkan kaki lebar menuju kamar Sang Kakak.
"Baik Tuan." Jawab Seorang gadis.
"Jangan lupa tutup pintunya lagi." Pesan pemilik kamar saat sudah memegang knop pintu kamar Sang Kakak hendak membukanya.
Orang lain yang baru pertama kali masuk ke kamar milik Daffa adalah Hafsa. Sahabatnya Bram pun tidak diperbolehkan untuk menginjakkan kakinya di dalam sana.
Daffa segera membuka pintu kamar Sang Kakak tanpa permisi seperti tadi. Dia segera mengambil kekasihnya yang tergeletak di meja depan sang Kakak.
Pemuda itu segera meninggalkan kamar sang Kakak dengan segera. Daffa menuju kamarnya sendiri dengan tergesa-gesa.
Bruug
Kejadian tak terduga pun terjadi disaat Pemuda itu tergesa-gesa masuk ke kamarnya. Daffa merasakan ingin buang air kecil dan hendak menuju kamar mandi.
Pemuda itu menabrak seorang gadis hingga keduanya terjatuh di atas kursi sofa yang cukup lebar. Gadis itu sekarang berada di bawah kungkungan seorang pemuda hingga tatapan mata mereka bertemu cukup lama.
"Posisi yang menguntungkan." Gumam Seorang Pemuda tampan itu.
Gadis itu mendorong kuat tubuh Daffa yang sedikit berat. Berat bukan karena gemuk tapi memang badannya yang berotot.
Cukup lama mereka dalam posisi itu hingga Hafsa pun merasa kesulitan bernapas. Pemuda itu jadi melupakan niatnya untuk ke kamar mandi. (Apa akhirnya dia ngompol?).
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya tetangga sebelah yang menyadarkan mereka dan Pemuda itu pun bangun dari badan mungil itu.
"Sejak kapan Kakak di situ?" Tanya Daffa tanpa menjawab pertanyaan tetangga.
"Lain kali kalau melakukan itu pintunya di tutup." Kata Kak Garda.
Gadis itu membelalakkan mata sempurna mendengar semua ucapan Tuan Keduanya itu. Hafsa tahu apa yang dipikirkan oleh tuannya itu.
Pemuda yang sudah ketangkap basah di atas sofa (Waduh bener-bener ngompol itu Daffa gawat kalau begitu) tidak menggubris kata-kata Sang Kakak barusan. Dia mencoba mengingat-ingat masalah pintu itu tadi.
"Baiklah Kak lain kali akan aku tutup pintunya." Kata Daffa setelah kepalanya sedikit digerakkan ke samping melihat pada gadis itu dan matanya digerakkan ke arah pintu yang mengisyaratkan agar Hafsa segera meninggalkan kamarnya.
"Aku sejak tadi sudah memanggil mu, tapi sepertinya kamu sedang asik dengan gadis itu." Kata Garda setelah gadis itu pergi dan menutup pintu itu dengan rapat.
"Benarkah?" Tanya Daffa yang tidak meragukan penjelasan Sang Kakak.
"Lalu untuk apa kakak tiba-tiba mencari ku setelah tadi bersama Kak Axel?" Tanya Daffa setelah mengambil kue buatan seorang gadis.
"Heh taruh kue itu lagi!" Kata Sang Adik ketus.
"Aku tidak mau berbagi dengan mu kali ini." Candanya.
Garda dengan tatapan elangnya tidak menyangka Sang Adik akan berkata seperti itu. Dia tahu kalau pemuda yang ada di sampingnya itu hanya bercanda tetapi dia tetap meletakkan kembali kue itu di atas piringnya lagi.
Pemuda itu setelah mengatakan niatnya baru diperbolehkan makan sedangkan Daffa yang mendengar cerita Sang Kakak hanya manggut-manggut sambil memakan kue itu. Sang Kakak tidak tahu Daffa mengerti dan mendengar semua ceritanya atau manggut-manggut karena enak kuenya. (Kuenya bikin ngiler, inikan sudah waktunya makan siang buat kita.)
"Makan lah Kak." Kata Daffa kemudian setelah Sang Kakak selesai menceritakan keluh kesahnya.
"Pastinya kakak lapar setelah menghadapi semuanya berdua kan?" Tanya Sang Adik.
"Apalagi kalau cerita pasti juga butuh energi." Lanjutnya lagi.
"Belum lagi menghadapi semua persoalan yang terjadi kalau tidak diisi bisa-bisa nanti pingsan di tempat." Lanjutnya yang semakin panjang.
__ADS_1
”Kamu itu gak pernah berubah, selalu menganggap semua itu mudah." Kata Garda dengan tangannya mengambil sepotong kue.
Daffa tiba-tiba mengingatkan pada Sang Kakak untuk tidak menemui Kakak Sulungnya itu. Pemuda itu tidak menceritakan masalah Kakak yang satunya itu tapi bisa merasakan apa yang terjadi dengan kakaknya yang satu itu.