
Hafsa duduk agak jauh dari pemuda itu karena takut perasaannya yang semakin campur aduk. Daffa sendiri takut memulai sebuah pembicaraan yang akan menyinggungnya.
Daffa kini mulai memejamkan matanya yang tidak mengantuk. Merasakan dinginnya malam dengan hembusan angin yang perlahan.
"Selama kamu tinggal di tempat kami pastinya banyak hal yang kamu tahukan?" Tanya Daffa saat memejamkan matanya.
"Apa yang kamu tahu tidak semua orang tahu bahkan orang-orang yang pernah datang ke tempat kami." Katanya.
Hafsa tidak memberikan balasan atas semua yang sudah keluar dari mulut pemuda itu baru saja. Dia duduk meluruskan kedua kakinya itu menatap jauh ke depan.
Hening
Hening
Hening
Daffa tidak bergerak sama sekali begitu juga dengan gadis yang datang ke taman itu. Mereka berdua terlarut dalam pikiran mereka masing-masing.
Street
Telinga seorang pemuda yang sedang memejamkan matanya itu mendengar sebuah pergerakan kecil didekatnya.
"Kamu kedinginan?" Tanya Daffa setelah membuka mata dan melihat seorang baru saja memeluk kedua kakinya.
"Tidak." Jawab Hafsa singkat.
"Jangan membohongi diri mu sendiri." Kata Daffa yang rasanya ingin memeluk gadis itu.
"Maaf atas kejadian tadi sore." Katanya lagi.
"Aku akan bertanggungjawab kapan pun." Lanjutnya lagi hingga gadis itu menatap wajah Daffa.
"Tidak mungkin dan itu tidak perlu." Kata Hafsa berusaha menolak walaupun ada rasa sedih.
"Jadi kamu menolak ku?" Tanya Daffa yang merasa sakit dalam hatinya karena sebuah penolakan dari seorang gadis untuk pertama kali.
"Tidak." Jawab gadis itu singkat.
"Lalu?" Tanya Daffa menatap hitamnya langit dengan bertaburan bintang-bintang.
__ADS_1
"Aku tahu banyak gadis yang mengharapkan mu." Jawab Hafsa yang masih menyembunyikan kebenaran itu.
"Banyak gadis yang lebih cantik dan bahkan di kota bukan?" Tanya Hafsa yang tidak membutuhkan sebuah jawaban.
"Aku tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka." Lanjutnya.
Daffa hanya diam mendengar semua perkataan gadis yang ada di dekatnya itu. Dia tahu ada alasan lain yang tidak ingin dikatakannya walaupun tidak tahu alasan sebenarnya.
Air mata itu sudah mengalir perlahan tanpa disadarinya. Dia segera mengalihkan pandangan dan menghapus jejak yang ditinggalkan oleh butiran bening itu.
"Apa itu juga baru pertama untuknya." Batinnya Daffa saat melirik gadis itu.
"Jika benar aku..." Lanjutnya terputus karena merasa sangat senang sekaligus merasa bersalah.
Merasa diperhatikan Hafsa memberanikan diri melihat pemuda itu. Dia berharap bisa meyakinkan dirinya dan pemuda itu jika tidak ada perasaan apapun juga.
Daffa mendudukkan dirinya setelah berbaring. Dia perlahan mendekati Hafsa dan mencoba kembali untuk meyakinkan gadis itu tentang kesungguhannya.
"Ajak aku bertemu orang tua mu besuk." Kata Daffa dengan intonasi sedikit tinggi.
"Tidak bisa." Kata Hafsa menolak.
"Kalau kamu tidak mengantarkan ku, aku sendiri akan datang ke rumah mu." Kata Daffa mengancam gadis itu.
Daffa menyetujui syarat yang diajukan oleh Hafsa dengan sangat yakin dan semakin yakinnya. Pemuda itu sudah menganggap gadis yang dimaksut Hafsa sebagai adik hingga dia dengan mudah menyetujuinya.
"Ayo kembali." Kata Daffa sambil berdiri karena memang waktu sudah menjelang tengah malam.
"Akh." Pekik seorang gadis saat Daffa membantunya berdiri dengan tarikan yang terlalu keras hingga dia tidak sadar telah mengalungkan kedua tangannya karena takut terjatuh sedangkan Daffa berhasil menangkap gadis itu dengan kedua tangannya dengan memeluk pada bagian pinggang.
Mereka berdua mematung dibuatnya karena pandangan mereka terkunci melihat betapa indahnya sepasang mata dihadapan mereka. Perlahan gadis itu melepaskan kedua tangannya yang melingkar pada leher Daffa.
"Maaf." Kata Hafsa.
"Aku yang seharusnya minta maaf." Kata Daffa mengakui semuanya yang tanpa sengaja tapi membawa berkah.
"Sudahlah ayo kita pulang." Ajak Daffa.
"Jika lama-lama di sini takutnya aku akan lebih khilaf lagi." Lanjutnya dengan berbisik perlahan tepat di dekat telinga Hafsa hingga bulu kuduknya berdiri.
__ADS_1
Hafsa segera berlari mengejar pemuda yang sedang menuju motornya. Daffa segera menyalakan mesin motor dan segera pergi menuju villa milik keluarganya setelah gadis itu naik.
Perjalanan menuju villa tidak jauh dari taman hingga mereka tidak butuh waktu lama untuk sampai pada tempat tujuan mereka. Satpam yang berjaga segera segera membukakan pintu setelah klakson itu dibunyikan.
"Apa sudah ada perkembangan ya hubungan Tuan Daffa dan Neng Hafsa?" Tanya Satpam itu lirih pada dirinya sendiri.
"Semoga saja." Kata Bibi yang baru saja datang dengan membawakan kopi hangat untuk Pak Satpam yang bertugas malam ini.
"Eh, Bibi." Sapa Pak Satpam.
"Kapan Bibi datang?" Tanya Pak Satpam Lanjut.
"Baru saja." Jawab Sang Bibi saat meletakkan kopi itu di atas meja Satpam.
Bibi merupakan orang kepercayaan mereka sehingga untuk berbicara semua yang bekerja di villa itu sangat berhati-hati. Mereka juga sangat menghormati beliau karena dia lebih tua dari mereka yang bekerja di tempat itu.
Semua perilaku Sang Bibi juga sangat baik yang lebih mengherankan buat mereka dia hemat bicara. Kebanyakan wanita sangat cerewet tetapi tidak dengannya.
Satpam itu merasa tidak enak hati karena membicarakan Tuannya walaupun itu dia berbicara dengan dirinya sendiri. Apalagi Bibi baru saja mendengar semua kata-kata yang baru saja diucapkan.
Kedua orang yang baru saja sampai di villa itu langsung menuju ke kamar mereka masing-masing. Mereka langsung membersihkan diri mereka dengan air hangat.
Daffa satu hari yang lalu sudah mengetahui semua tentang identitas gadis yang saat ini bersemayam di hatinya. Gadis ini sudah masuk ke dalam hatinya sebelum Daffa tahu segalanya tentang Hafsa.
Adrean Sang Papa jangan ditanya lagi segala informasi mengenai ketiga putranya pasti sudah tahu semua kejadian yang menimpa mereka. Papa selalu meminta seseorang handal dan terpercaya untuk menjadi mata-matanya.
Papa Adrean merasa sangat senang dengan ketiga putranya yang selalu berprestasi sama seperti dirinya. Mereka bertiga mendapatkan itu semua karena perjuangan mereka sendiri tanpa campur tangan dirinya.
Ketiga putranya juga tahu sebenarnya banyak orang suruhan Sang Papa yang selalu mengawasi mereka. Ketiga bersaudara itu sengaja mendiamkan saja setiap gerak gerik mereka.
Ketiga saudara kembar itu tahu niatan Sang Papa sebenarnya juga demi kebaikan mereka juga. Semua perilaku ketiga putranya dibiarkan begitu saja asalkan tidak menyimpang dari perilaku dan bisa membahayakan nyawa mereka sendiri.
"Jadi mereka sudah tinggal dalam satu atap di villa milik keluarga ku?" Tanya Adrean pada salah satu anak buahnya yang melihat Daffa berboncengan dengan gadis yang baru saja tinggal dan masuk ke dalam villa milik keluarganya.
"Benar Tuan Besar." Jawab Orang yang ada disebrang telp.
"Bagus kalau begitu." Kata Tuan Adrean.
"Lanjutkan tugas mu." Lanjutnya.
__ADS_1
"Baik Tuan." Jawabnya seorang yang menjadi suruhan Adrean.
Panggilan itu ditutup segera oleh laki-laki yang selalu mengikuti ketiga bersaudara itu saat mereka berada di villa. Dia segera menutupnya untuk berjaga-jaga kalau ada orang lain yang mendengar percakapan mereka.