
Pemuda di Villa sebelah justru membayangkan dua gadis yang dikenalnya dalam waktu yang bersamaan. Daffa senang karena sudah memiliki jawaban atas pertanyaan yang dulu pernah dia tanyakan pada seorang gadis.
"Apa kabar itu cicak?" Tanya Axel tiba-tiba hingga membuat keduanya saling menatap dalam diam seketika.
Hening
Hening
Hening
Tholelet Tholelet Tholelet
Suara panggilan telepon pada salah satu benda pipih milik kedua pemuda yang ada di kamar Garda. Keduanya tertawa terpingkal-pingkal hingga rasanya ingin buang air kecil.
Suasana yang hening karena sebuah pertanyaan yang buat mereka tidak perlu jawaban justru malah dijawab oleh sebuah panggilan dari kedua keponakan yang baru saja mereka bicarakan dengan nada dering es krim keliling.
"Wkwkwkwk." Kedua bersaudara kakak beradik itu tertawa lepas mendengar sebuah nada panggil yang baru saja mereka dengar.
"Kedua tuyul itu tahu telpon disaat yang tepat ternyata." Ucap Axel.
"Memangnya mereka punya indra keenam mungkin?" Tanya Garda.
"Tahu kalau kita berdua sedang merindukan mereka." Lanjutnya.
"Aku mau balikin dulu ini makanan ke bawah." Kata Axel.
"Makanan?" Tanya Garda.
"Kamu gak lihat apa cuma tinggal wadahnya doang." Lanjutnya.
"Kamu tu yang ngabisin sebegitu banyak." Ledek Axel.
"Gak salah?" Tanya Garda.
__ADS_1
"Memang perut mu itu karung, berapapun makanan pasti habis." Lanjutnya.
"Udah itu telepon angkat." Titah Garda.
"Ini tumben-tumbenan mereka Telp." Lanjutnya dengan mengambil benda pipih milik Garda.
"Hallo, Assalamualaikum." Sapa Axel setelah menggeser tombol terima pada ponsel itu.
"Wa'alaikumsalam." Jawab kedua keponakan kembarnya yang ada disebrang bersamaan.
"Kalian liburan berdua kenapa gak ajak-ajak kita sih!" Kata salah satu keponakannya dengan nada ketus.
"Pasti kalian bertiga kan?" Tanya mereka yang ada disebrang.
"Hayo ngaku?" Lanjutnya.
"Kita berdua gak tuli keponakan ku yang paling cantik dan ganteng." Balas Axel.
"Jadi kalau ngomong pakai intonasi dengan oktaf rendah saja ya?" Lanjutnya.
"Gitu-gitu juga paman ku yang paling ganteng." Balas Seorang gadis kecil.
"Banyak ceweknya." Tambahnya.
"Kalau kalian terus memuji itu Paman kecil kalian, aku mati'in ini telepon." Ancam Axel.
"Telepon saja itu Paman kecil kalian." Lanjutnya.
"Tapi bener kan Paman kecil tetep paling keren!" Kata Seorang anak laki yang sangat tampan sebelum telepon itu ditutup oleh yang punya benda tersebut.
Clik
Telepon itu ditutup karena apa yang kedua Pamannya katakan tidak dilakukannya. Kedua paman mereka sebenarnya masih sangat merindukan kedua keponakannya itu.
__ADS_1
Kedua Paman mereka memiliki sifat yang hampir semua sama. Sekali mereka bilang maka itu yang mereka lakukan, tidak ada negosiasi lagi.
Paman kecil lebih disukai oleh kedua keponakan kembarnya. Sifatnya yang tidak terlalu keras serta dia lebih suka suasana lingkungan luar membuat mereka betah bersama Paman kecilnya.
Kerja lapangan lebih disukai keduanya sama halnya dengan paman kecil mereka. Bekerja dalam suatu ruangan kantor membuat mereka lekas bosan suatu saat.
Sifat keduanya itu sudah mulai terlihat saat mereka sedang belajar ataupun mengerjakan sesuatu. Mereka selalu bilang belajar seperti itu terlihat monoton.
"Di mati'in Oma telponnya." Kata Si Kembar bersama.
"Kalian sih ngajak berantem mereka." Keluh Oma.
"Oma nyalahin kita?" Tanya gadis kecil yang sering kali dipanggil Fiona.
"Oma telpon aja sendiri!" Titah Arya yang sudah jenuh merasa dimanfaatkan oleh Sang Oma.
"Alah... alah cucu Oma kalau sedang marah tambah cakepnya deh." Puji Sang Oma pada Arya.
"Kalau marah nanti semakin cakep." Lanjutnya.
"Kalau itu udah lama Oma." Jawab Arya langsung berlalu meninggalkan Sang Oma pergi ke taman belakang karena merasa jengkel dengan Wanita lanjut itu.
Seorang gadis kecil yang sangat cantik berlari mengikuti Sang Kakak. Mereka meninggalkan Sang Oma sendirian di teras kediaman utama Alfian sambil membaca majalah.
Si kembar yang satu wajah ini bagaikan fotokopi tak ada perbedaan sama sekali. Mereka berdua sangat berbeda dengan ketiga pamannya yang kembar tak identik alias tidak memiliki kemiripan wajah.
Gadis kecil itu sering kali dipanggil Fiona sedangkan sang Kakak laki-lakinya dipanggil Arya. Mereka tidak ubah seperti tikus dan kucing yang selalu bertengkar tetapi jika ada yang menyinggung saudaranya keduanya sama-sama bisa saling kompak untuk melindungi.
Si kembar diminta tolong sama Oma untuk menelpon ketiga Pamannya. Mama Sinta sejak dulu tidak ingin jauh dari ketiga putranya.
Wanita yang sudah mulai lanjut usia dengan wajah yang masih terlihat sangat cantik itu merasa khawatir dengan ketiga anaknya yang kunjung tidak memperkenalkan seorang gadispun padanya. Usia mereka sudah selayaknya memiliki seorang kekasih tapi sampai sekarang apa yang ditunggu Sang Mama tidak kunjung tercapai.
Sang Suami jika sudah memutuskan segala sesuatu anak-anaknya harus menurutinya. Dia sebenarnya tidak salah dalam hal ini hanya saja caranya berbeda.
__ADS_1
Menurut suaminya itu berbeda halnya, laki-laki lebih bisa kapan saja memiliki pendamping hidup. Papa Adrean menikah harus segalanya sudah siap lahir batin agar tidak terjadi kendala sesudahnya.