Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Makanan Bisa Sedingin Kamu Pagi Ini


__ADS_3

Ayam jantan mulai berkokok membangunkan semua orang yang sedang terlelap dalam mimpinya. Suara Azan subuh menyusul suara jantan hingga membangunkan banyak orang.


Ketiga orang pemuda yang berada di villa mewah itu sudah terbangun sejak mendengar kedua suara itu dan sudah siap untuk melaksanakan kewajibannya setelah membersihkan diri. Mereka tidak merasakan lelah sama sekali walaupun semalam mereka telah bekerja keras.


Usaha mereka sepadan dengan apa yang mereka nikmati semalam. Tubuh yang sehat dan terlihat sangat bagus yang mereka dapatkan.


Di kamar belakang seorang gadis kesiangan karena badan yang kurang sehat sebelumnya. Dia mengerjapkan mata beberapa kali untuk memperoleh kesadarannya.


"Sudah pukul berapa sekarang?" Gumam sang gadis saat melihat jam wekker yang ada di atas nakas.


"Bibi juga tidak membangunkan ku." Lanjutnya.


Gadis itu mencari sosok seorang wanita yang menjadi teman tidur sekamarnya selama beberapa hari ini. Tubuh yang sedikit merasa lemas itu dipaksa untuk melangkah.


Bugh


"Tuan Muda." Kata Hafsa tatkala menabrak seorang pemuda yang berjalan menuju Dapur.


"Maaf." Lanjutnya sambil menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya yang masih pucat.


"Kalau badan mu tidak sehat istirahat saja di kamar!" Titah Daffa dengan dingan berlalu menuju ruang makan hendak sarapan.


"Tumben pagi-pagi udah marah-marah sama cewek." Kata Axel.


"Hem, gak biasanya juga kamu marah pada cewek." Kata Garda.


"Apa jangan-jangan adik kita kali ini sudah berubah." Kata Axel.


"Berubah jadi apa maksut kedua kakak ku ini?" Tanya Daffa.


"Berubah jadi Satria Baja Hitam atau power renger?" Tanya Daffa.


"Kalau hitam sih enggak ya." Kata Axel.


"Orang dia selalu memperhatikan penampilannya." Lanjutnya.


"Udah jangan banyak omong entar makanan jadi dingin." Kata Daffa.

__ADS_1


"Bener-bener-bener bisa sedingin kamu pagi ini." Ledek Axel.


Pagi ini mereka sarapan bertiga hanya menghabiskan sedikit makanan yang tersaji di meja makan seperti tadi malam. Konsumsi makan tadi malam membuat mereka harus menguras tenaga untuk membakar lemak yang masuk.


"Kalian tidak ingin jalan-jalan?" Tanya Daffa setelah menghabiskan sepiring sarapannya.


"Mumpung kita masih liburan." Lanjutnya.


"Liburan dari mana?" Kata Axel.


"Dari moyang kamu?" Lanjutnya.


"Lalu kalian nyusul ke sini mau ngapain kalau bukan buat liburan?" Tanya Daffa.


"Melarikan diri." Jawab Axel Sang Kakak singkat.


"Dasar gak bertanggung jawab." Tegur Daffa.


"Emang aku ngehamilin anak orang harus tanggung jawab." Tanya Sang Kakak.


"Sudah-sudah kalian itu adu mulut dari tadi." Kata Garda yang sejak tadi diam mendengar ocehan kedua saudaranya.


"Rugi jauh-jauh sampai sini cuma dikandang saja." Lanjutnya.


Kedua saudaranya seperti terhipnotis langsung saja mengikuti Garda yang sudah berjalan di depan mereka. Intinya dari mereka adalah sebuah kepercayaan.


Garda sendiri yang menjadi pemimpin di depan mereka sebenarnya belum memiliki rencana apapun. Ketiganya naik mobil tidak memungkinkan naik motor masing-masing yang akan membuat jarak diantara mereka.


Berada dalam satu mobil bagaikan berada dalam satu ruangan dan semua rencana akan mudah direncanakan. Pembicaraan di dalam mobil yang sedang berjalan itu sangat menguntungkan hingga sang sopir menghentikan mobilnya di sebuah tempat yang sangat ramai.


Di tempat keramaian dan sangat ramai bahkan terkesan bagi mereka yang sangat jarang datang ke tempat itu terkesan kumuh. Ibu-ibu sering setiap hari datang ke tempat itu.


Ketiga pemuda itu turun dari dalam mobil setelah mereka taruh di tempat parkir. Jika dari kebanyakan kelas atas tidak aman tapi berbeda dengan mereka bertiga berpikir sebaliknya.


Perasaan mereka saat ini sangat senang karena sangat jarang mereka bisa datang di tempat seperti itu. Mereka langsung melangkahkan kaki mereka bersamaan seakan tanpa beban.


Di lain tempat kedua gadis yang semalam menikmati indahnya malam di balkon yang berbeda hingga larut sedang bersiap-siap menuju pusat perbelanjaan yang tidak jauh dari desa. Pusat perbelanjaan itu relatif sangat lengkap. (Pusat perbelanjaan di sini pasar tradisional ya kak bukan Mall).

__ADS_1


Yasna maupun Bella pergi ke pasar dengan jalan kaki. Jarak yang mereka tempuh tidak terlalu jauh.


Kedua gadis ini terbiasa hidup di kota sehingga terlihat sangat asing di mata penduduk sekitar. Masyarakat sudah mengenal keduanya sangat berbeda status apalagi kaum wanita yang suka bergosip.


Yasna sangat direndahkan karena kehidupannya yang tanpa memiliki ayah dari sekolah selalu dibully oleh teman sekolahnya. Setiap dia dekat dengan seorang laki-laki selalu saja dilecehkan seperti halnya gadis murahan dan sering juga dikatakan sebagai perebut laki-laki orang oleh kaum hawa.


Ketiga pemuda yang bersaudara itu langsung menangkap sosok Yasna yang pernah mereka lihat. Daffa yang mengenalnya lebih jauh malah berpura-pura tidak tahu untuk menghindari perkataan yang tidak seharusnya diucapkan oleh kedua saudaranya.


Ketiga pemuda itu sedang duduk di tempat pedagang keliling yang menjual batagor. Mereka memesan makanan itu tanpa ada rasa khawatir dengan kesehatan mereka.


Mereka makan di tempat seperti itu seakan mengingat masa sekolahnya dulu yang sering kali menikmati makanan itu pada saat jam istirahat. Gelak tawa diantara mereka terlihat sangat nyata sangat tulus.


"Hust hust." Kode dari Axel menyenggol lengan Garda dengan sikunya.


"Apaan sih?" tanya Garda.


"Lihat itu kan cewek yang bersama Kadal kita." Kata Axel menunjuk gadis yang dimaksud dengan dagunya.


"Kadal apa'an?" Balas Garda.


"Bukan kadal tapi kadal besar alias krokodail." Lanjut Garda.


"Kalian berdua ngomongin apa'an? Cepat makan kalau udah dingin gak enak ntar bisa jadi alot (bahasa jawa) ntar!" Titah Daffa agak menunduk menikmati makannya.


"Kalian ngomongin itu cewek?" Tanya Penjual batagor.


"Bapak kenal?" Tanya Axel penuh selidik.


"Iya, kalau kalian suka deketin aja, gadis gampangan itu katanya."


"Berapa Pak semuanya?" Tanya Daffa dengan nada tinggi beberapa oktaf.


Daffa membayar semua makanan itu tanpa menunggu jawaban dari penjualnya tadi. Padahal makanan yang dipesan kedua saudaranya itu tadi belum juga masuk ke mulut satu suap pun.


✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌✌


Dukung terus karya ini ya Kak hingga menang di Writer Season 7.

__ADS_1


Jangan lupa like, & vote. 🙏


__ADS_2