
Pemuda itu mengambil kopi yang baru saja diletakkan di atas meja. Dia sangat penasaran dengan rasa kopi itu.
Aroma kopi yang tidak asing baginya itu ingin segera dicicipi. Disesapnya perlahan dengan menutup mata.
Pemuda itu jadi teringat dengan kedai kopi yang ada di ibu kota tempat dia selalu datang ke sana. Garda melihat wajah gadis yang ada di dekatnya setelah menyesap sedikit kopinya.
Garda tidak tahu harus berkomentar apa pada rasa kopi yang sangat familiar itu. Dia melihat dengan lekat wajah itu membuatnya semakin penasaran hingga rasa sakit itu terlupakan.
"Kopi itu apa kurang enak rasanya?" Tanya Yasna menyadari tatapan pemuda yang bersamanya saat ini.
"Oh, tidak ini cukup enak." Jawab Garda.
"Ya karena ini dibuat gratis untuk ku." Lanjutnya saat melihat gadis itu tersenyum bangga hingga ada rasa ingin mengerjai dia.
"Kalau begitu kamu harus bayar dengan ....." Kata Yasna terputus karena mendapat tatapan tajam dari Sang Bunda.
"Kalian sudah lama kenal sepertinya?" Tanya Sang Bunda sekalian menebak.
"Tidak Tante kami belum kenal." Kata Garda menjelaskan.
"Saya belum tahu namanya mana bisa dikatakan kenal." Lanjutnya.
"Tante boleh tahu siapa nama Tante?" Tanya Garda penasaran dan juga pertanyaan yang sebenarnya untuk mengetahui nama seorang gadis.
"Saya Bunda Azka orang yang telah melahirkan seorang gadis yang bernama Yasna." Jawab Sang Bunda secara lengkap karena tahu arah pembicaraan Pemuda itu.
"Saya Garda, Tante." Kata Pemuda itu memperkenalkan dirinya.
"Boleh saya juga memanggil Bunda?" Tanya Garda sopan.
Sang Bunda hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Pemuda itu dengan mudahnya bisa menangkap kode yang diberikan oleh wanita paruh baya itu.
Sang Bunda merasa harus memberikan kesempatan pada kedua orang yang ada didekatnya untuk bicara. Wanita paruh baya itu yakin jika mereka berdua belum sempat berkenalan karena kondisi yang tidak memungkinkan.
"Kalian berbincang dulu saja." Kata Bunda.
"Saya akan memasak untuk makan siang buat kita." Lanjutnya.
Sang Bunda beranjak dari tempatnya duduk menuju dapur. Wanita itu memasak dengan mahirnya sedangkan Sang Kakek mencuci buah-buahan yang baru saja dipetik dari kebun.
__ADS_1
"Kenapa lihat-lihat?" Tanya Yasna saat mendapati dirinya ada yang menatap.
"Aku punya mata dan harus digunakan dengan baik." Jawab Garda dengan dingin.
"Baiklah itu hak mu." Kata Yasna terputus.
"Sedangkan ini rumah ku, sekarang keadaan mu kan sudah lebih baik sebaiknya kamu segera angkat kaki dari sini!" Lanjutnya.
"Jadi kamu mengusir ku?” Tanya Garda dengan muka temboknya.
Keduanya akhirnya terdiam saat ketika seorang laki-laki yang sudah tua mengantarkan sebuah makanan ringan. Kue kering yang nikmat jika ada kopinya.
"Garda namanya?" Batin gadis itu sambil melihat Sang Kakek yang sedang meletakkan sepiring kue di meja.
"Cakep juga jika tersenyum, sayangnya dia lebih dingin dari kutub Utara." Lanjutnya.
Kakek melihat kedua orang yang kondisi keduanya sedang tidak begitu baik secara bergantian. Dia mengerti kondisi mereka saat ini hingga ingin segera pergi dari sana memberikan kedua orang itu kesempatan.
"Silahkan Nak." Kata Sang Kakek.
"Terimakasih Kek." Kata pemuda itu setelah Sang Kakek meletakkan piring yang berisi kue kering di atas meja.
Gadis yang mendengar percakapan Garda tadi seakan terasa hangat seperti ada sebuah hubungan kekeluargaan. Berbeda jauh dengan apa yang dialami oleh keluarganya itu selama ini.
Garda masih berpikir tentang kopi yang disuguhkan padanya. Ingin rasanya dia mengajukan banyak pertanyaan tapi tiba-tiba dia teringat dengan janji temu dengan kekasihnya.
"Bisakah aku pinjam ponsel mu?" Tanya Garda pada gadis yang sedang bersamanya sekarang masih dengan wajahnya yang datar- datar saja.
"Begitu kalau pinjam barang milik orang lain?" Tanya gadis itu ketus.
"Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Garda yang membuat gadis itu jadi salah tingkah.
"Tersenyum selalu pada mu?" Tanya pemuda itu lagi.
"Jika itu aku lakukan bisa-bisa kamu jatuh cinta pada ku." Kata Garda yang membuat gadis yang ada bersamanya itu membelalakkan mata sempurna.
"Atau merayu mu?" Tanya Garda yang semakin banyak.
"Bisa- bisa aku tambah babak belur sebelum keluar dari sini." Jawab pemuda itu yang membuat Yasna tidak menyangka kalau banyak sudah pertimbangan yang terpikirkan oleh orang yang bersamanya saat itu.
__ADS_1
"Kenapa babak belur?" Tanya Yasna dengan ketus.
"Siapa tahu pacar mu tiba- tiba datang." Jawab Garda singkat.
"Pulsa atau kuota tidak gratis!" Kata Yasna segera berdiri untuk mengambil ponselnya.
Sakit
Sakit
Sakit
Hati gadis itu saat ini sedang sensitif hingga setiap kata sangat berpengaruh padanya. Yasna sedikit berlari menuju kamar mengambil benda yang dicarinya.
Ceklek
Handle pintu sebuah kamar terbuka dan gadis itu segera menutupnya kembali dengan rapat. Tubuh itu bersandar pada daun pintu, sang pemilik berusaha menguatkan hatinya.
Ponsel yang tergeletak di atas nakas diambilnya secara perlahan untuk mengulur waktu hingga dia benar-benar kuat. Merasa dia sudah menguasai dirinya, Yasna keluar dari kamar miliknya itu.
Pemuda yang sedang menunggu di ruang tamu sejak kepergian Yasna sudah merasa ada sesuatu yang tidak beras dengan gadis itu. Garda memang sangat dingin terhadap orang yang baru saja dikenalnya terutama seorang wanita tapi dia juga sangat peka terhadap orang lain.
"Ini." Kata Yasna singkat.
"Terimakasih." Kata Garda dengan sedikit ramah saat menerima ponsel.
"Maaf jika menyinggung mu." Kata Pemuda itu lirih hampir tidak dapat terdengar.
"Aku akan mengganti biayanya." Kata Garda saat berusaha berdiri.
Pemuda itu berjalan dengan tertatih menuju teras yang terletak tepat di depan ruang tamu. Dia menghirup segarnya udara pedesaan yang masih asri.
Gadis itu menghilangkan kata sandi untuk membuka kunci ponselnya untuk sementara waktu. Garda langsung menekan beberapa angka hingga membentuk sebuah nomor yang akan dihubunginya setelah menarik nafasnya dalam.
Pemuda itu melakukan hal yang sama jika sedang mengingat-ingat sesuatu. Sebuah nomor sudah terangkai pada layar ponsel segera Garda mendeal layar itu.
Garda memberitahukan kepada seseorang kondisinya sekarang ini. Dia meminta orang tersebut untuk membantunya secepat mungkin.
Sambungan telpon segera dimatikannya karena merasa juga tidak enak dengan pemiliknya. Garda justru malah tidak menghubungi kekasihnya takut dia akan cemas.
__ADS_1
Pemuda itu berjalan masuk ke ruang tamu tetapi dia tidak menemukan sosok yang dicarinya. Garda merasa semakin tidak enak dengan gadis itu.
Garda mengedarkan pandangan di setiap sudut ruangan tetapi tidak mendapatkan bayangan gadis yang dicarinya. Berjalan perlahan menuju sebuah pintu lain yang menghubungkan dengan sebuah taman jalan satu-satunya gadis itu melarikan diri.