Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Tidak Sesederhana yang Dibayangkan


__ADS_3

Kejadian hari ini membuat pemuda ini tidak enak. Ia jadi ingin tahu banyak mengenai keluarga ini sekarang.


Pikirannya setelah melihat betapa khasnya dekorasi rumah secara interior maupun eksterior menandakan identitas pemilik rumah yang tidak sesederhana kebanyakan masyarakat sekitar. Hari ini pun sama halnya ada suatu dorongan untuk pergi ke rumah wanita paruh baya itu.


Pemuda itu memandang secara intens seorang gadis yang terlihat sangat sederhana secara sekilas. Yasna yang merasa diperhatikan merasa tidak nyaman hingga ia melemparkan sebuah tatapan yang begitu tajam pada seorang pemuda yang sekarang berada di rumahnya sekarang.


Daffa pun menyadari tatapan yang sangat mengerikan itu seperti ingin menerkamnya hidup-hidup. Pada saat itu kedua mata meraka saling menajam seakan akan terjadi perang dunia kembali.


Pemuda itu melihat banyak hal yang disembunyikan dari Yasna saat melihat ke dalam bola matanya yang begitu indah. Pada akhirnya Daffa pun menundukkan kepalanya tak berani melihat dibalik keindahan bola mata gadis yang ada di hadapannya itu.


Pemuda itu merasa dalam bola mata yang indah itu tersimpan sebuah penderitaan. Hal itu hanya disembunyikannya sendiri, dipikulnya sendiri dan tak ingin orang lain tahu tentang semua masalah yang dialaminya.


Daffa hanya menduga masalah gadis itu tidak sesederhana kelihatannya, sama seperti identitasnya yang tidak sesederhana yang orang pikir.


"Maaf Tante boleh saya berkenalan dengan anak gadis tante?" Tanya Daffa setelah menegakkan kepalanya melihat Bunda Azka.


"Iya terserah anak gadis tante saja, hanya saja saya sebagai Bunda cuma mengharap segala sesuatu yang terbaik buatnya." Jawab Bunda Azka.


Bunda pun melihat ke arah Yasna dengan tatapan yang berharap lebih darinya. Gadis itu tahu maksut dari tatapan sang Bunda.


"Semakin banyak teman semakin baik." Kata Bunda.


"Banyak yang akan membantu kita jika kita dalam kesulitan." Lanjutnya.


"Tapi tidak untuk dia." Kata Yasna membuka suara sambil berdiri segera dan melangkahkan kaki menuju taman tanpa berkata apa-apa.


"Maaf tante saya jadi tidak enak." Pinta Daffa yang merasa salah waktu berkunjung.


"Daffa harusnya tante yang minta maaf atas kelakuan anak gadis tante." Balas Bunda Azka.


"Kalau begitu saya pamit dulu Tan." Kata Pemuda itu sambil berdiri kemudian melangkahkan kaki keluar dari rumah itu.

__ADS_1


"Baiklah tante tunggu kedatangan mu lagi di gubuk tante." Kata Bunda Azka saat Pemuda yang hendak meninggalkan rumahnya mencium punggung tangan sang Bunda.


"Gubuk? Tante bilang tadi gubuk? Yang benar saja. Mungkin buat yang tidak tahu mengenai arsitek atau disain rumah itu memang rumah yang bisa dan sangat sederhana, tapi buat yang tahu mengenai sebuah disain itu terlalu mewah. Kalau dijual pun sudah milyaran." Batin Daffa saat perjalanan pulang.


Sejak ikut mengurus seorang gadis yang sedang sakit dalam Villanya itu Daffa memang sengaja menghindar dari Kakak sulungnya. Ledekan yang dia katakan membuatnya harus menghindar.


Pemuda yang tidak tahu harus kemana harus menghindar akhirnya pergi mengendarai motor menuju rumah seorang wanita paruh baya yang diantar pulang oleh dirinya kemarin ternyata adalah orang tua Yasna. Gadis cantik yang saat itu kebetulan bertemu di taman.


Pemuda itu tidak tahu kalau Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu adalah orang tua dari gadis yang sempat sedikit di gombalin olehnya waktu di taman sore itu. Daffa pun sangat terkejut melihat gadis itu di sana tapi ia berusaha untuk menyembunyikannya.


Saat melewati taman siang ini Daffa menangkap sebuah bayangan seorang gadis yang tidak asing baginya. Gadis yang tadi marah tak jelas kini sedang duduk di sebuah kursi taman.


Hari ini memang cuaca sangat panas tapi taman terasa sedikit sejuk. Banyak pohon yang ditanam di sana dengan panasnya sinar matahari terhalang oleh ranting dan dedaunan.


Pemuda itu tiba-tiba berhenti di depan seorang gadis. Gadis yang tadi tanpa sengaja bertemu di rumah seorang wanita paruh baya yang diantarkannya kemarin siang.


Motor yang terlihat keren sekeren sang pemilik memancing perhatian banyak orang terutama gadis-gadis yang ada di sekitar taman. Motor itu sekarang terparkir tidak jauh dari pemiliknya.


"Wah sepertinya dia tidak jauh seperti Bunda-nya." Celetuk Ambar yang saat itu sedang lewat di depan mereka.


"Benar juga." Sahut Wanda teman dekatnya.


"Mungkin dengan alasan melanjutkan sekolah di kota Dia mengejar semua laki-laki kaya bisa juga lebih dari itu." Lanjut Wanda.


Kedua gadis yang baru saja lewat memang sengaja membicarakan Yasna karena merasa iri. Mereka ingin pemuda tampan yang kini sedang duduk bersamanya membencinya.


Pemuda yang baru saja duduk itu mendengar semua perkataan kedua gadis yang baru saja lewat tadi. Ia malah semakin santai dan menyandarkan punggungnya pada kursi dan mendongokkan kepalanya melihat ranting dan dahan yang bergoyang seakan menari sangat indah karena tertiup angin.


Gadis yang sedang duduk di samping Daffa berusaha menahan amarahnya. Hal ini sudah berlangsung sejak kecil.


"Pergilah!" Teriak gadis itu lirih berusaha menahan sesuatu amarah.

__ADS_1


"Kenapa aku harus pergi dari sini? Tanya Daffa yang masih menengadahkan kepalanya tanpa melihat gadis yang ada di sampingnya saat ini.


"Ini adalah tempat umum siapa saja boleh ke sini." Lanjutnya.


Hening


Hening


Hening


Beberapa saat tercipta sebuah kesunyian hingga Daffa akhirnya melihat ke wajah gadis yang ada di sampingnya. Wajah gadis itu sudah sangat merah karena marah tapi terlihat di matanya akan mengalir sebuah cairan bening.


Hati Pemuda itu menjadi terenyuh hingga akhirnya menangkupkan kedua telapak tangan pada wajah Yasna hingga wajah itu menghadapnya. Tidak tega melihat lebih lama ia pun melepaskan kedua telapak tangannya.


"Sudahlah aku tahu apa maksud mereka." Kata Daffa dengan menundukkan kepala seakan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan gadis itu.


"Apa yang kau tahu, kau bahkan tak tahu apa pun! Kata Yasna dengan marah-marah.


"Aku tahu masalah mu tidak sesederhana yang sedang ku pikirkan." Kata Daffa.


"Aku juga tahu kamu hanya memendamnya sendiri sudah lama." Lanjutnya.


"Kalau ingin menangis, menangislah jika itu membuat mu lebih baik." Kata Daffa terputus.


"Tapi jangan disini, aku akan membawamu ke suatu tempat agar kau bisa menangis sepuas mu." Nasehat Daffa.


"Jika kamu menangis di sini orang yang tidak menyukai mu tahu, suatu saat akan menundasmu lebih dari ini." Katanya lagi dan lagi.


Gadis yang terlihat menyedihkan itu sekarang sudah terhipnotis dengan apa yang dikatakan oleh Daffa baru saja. Semua yang dikatakan pemuda itu benar adanya.


Di dalam sebuah mobil yang baru kemarin tiba di desa ini terdapat dua orang pemuda yang sama tampannya sedang mengintai saudaranya sendiri. Mereka berdua sedang mencari Daffa karena sesuatu hal.

__ADS_1


Melihat pemandangan yang baru saja terjadi mereka berdua mengurungkan niatnya. Mereka pun kembali ke villa dengan bertangan hampa dsn berbagai macam pertanyaan.


__ADS_2