Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Tiga Tuan Muda Galak


__ADS_3

Daffa sedikit berlari menghampiri sang kakak, begitu juga juga kakak Axel. Berpelukan ala seorang Pemuda seperti lama tidak bertemu.


Kedua pemuda itu berjalan menuju ruang kerja yang memang sengaja di sediakan di Villa itu. Ruang baca bagaikan sebuah perpustakaan juga ada di dalam villa itu.


Villa itu bisa dikatakan memiliki fasilitas villa terlengkap di desa itu. Semua kebutuhan yang tidak ada di villa dan hanya bisa didapatkan di luar pun dengan mudah mereka mendapatkannya karena letak villa itu yang sangat strategis.


Ada seorang makhluk yang tertinggal di dalam mobil. Ia tidak segera keluar dari sana karena memang ia tertidur akibat kelelahan yang berlebihan.


Makhluk itu juga anggota dari cinta segitiga dari kedua pemuda yang baru masuk ke ruang kerja. Cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan lho ya.


Lengkap sudah di villa itu seperti yang diharapkan oleh almarhum pemiliknya dulu dan sekarang diteruskan oleh anak-anaknya. Sebuah harta dan kekayaan serta yang paling mereka harapkan adalah kebahagiaan dan cinta diantara penghuninya.


Kedua bersaudara itu bersenda gurau di dalam ruang kerja. Tak ada yang tahu kalau mereka sedang tertawa lepas di dalam ruang kerja itu.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


Suara pintu ruang kerja diketuk beberapa kali hingga orang yang ada di dalam ruangan itu pun terdiam sesaat. Keduanya memperbaiki keadaan mereka masing-masing yang sangat berantakan karena bersenda gurau.


"Masuk." Perintah Axel yang posisinya sebagai anak laki-laki tertua di dalam keluarganya.


Ceklek


Bibi masuk ke dalam ruangan itu setelah diperintahkan oleh seorang pemuda yang ada di dalam ruang kerja itu. Wanita paruh baya itu masuk sambil menundukkan wajahnya sebagai tanda hormat.


"Mau minum apa Den?" Tanya Bibi lirih tapi masih bisa didengar oleh kedua pemuda yang ada di hadapannya sekarang.


"Seperti biasa Bi." Jawab Axel tegas.


Bibi segera keluar dari dalam ruang kerja dan menuju dapur. Ia juga tidak lupa menutup pintu ruangan itu kembali.


Kedua pemuda itu duduk di atas sofa yang masih terasa sangat nyaman setelah Bibi keluar dari ruangan itu. Suasana hati yang sekarang sudah sedikit membaik membuatnya lupa dengan masalahnya bahkan lupa dengan Adiknya Garda yang tertinggal di mobil.


Bibi menuju dapur dan membuatkan minuman kesukaan kedua orang yang ada di ruang kerja. Ia melihat gadis yang tadi tangannya terluka saat membersihkan pecahan kaca tadi.

__ADS_1


"Bibi. Ada yang bisa aku bantu?" Tanya gadis itu lirih seakan masih merasa bersalah karena kejadian tadi.


"Tidak Nduk." Jawabnya menolak halus tawaran gadis itu.


Bibi jadi tahu saat mengobati luka gadis itu. Gadis yang tidak pernah melakukan sebuah pekerjaan rumah akan sangat berbeda.


Kulit yang sangat halus tanpa sebuah goresan hari ini terluka. Hal itu lah yang membuat Wanita Paruh baya itu sekarang sangat canggung untuk meminta bantuannya.


"Biar aku antar Bi kasih tahu saja letak ruangannya." Pinta gadis itu.


"Jangan Nduk, biar Bibi saja. Tangan mu kan masih sakit." Tolak Sang Bibi.


Bibi segera menuju ruang kerja selesai membuatkan minuman untuk kedua pemuda yang baru bercengkrama di ruangan itu. Dilihat sebuah kue di meja dapur dan dipotong-potong menjadi beberapa bagian hingga memenuhi piring yang biasa untuk menyajikan kue.


Nampan kini bukan hanya ada minuman dingin tetapi juga sepiring kue yang sempat di buat gadis yang sekarang jarinya terluka. Bibi pun hanya menebak bahwa itu kue yang dibeli oleh Tuan Daffa tadi waktu keluar joging.


"Tuan Daffa kan tidak suka kue seperti itu." Kata bibi dalam hati


"Untuk apa Tuan membeli kue itu kalau tidak menyukainya?" Tanyanya lagi dalam hati.


Tok tok tok


Tok tok tok


Tok tok tok


"Silahkan Den." Kata Bibi.


"Terimakasih Bi." Ucap Daffa dingin.


"Saya permisi dulu Den." Kata Bibi.


Bibi keluar dari dalam ruangan dengan sedikit cemas. Ia takut melakukan kesalahan walaupun kesalahan itu ringan.


Gadis yang melihat wajah cemas orang yang menolongnya tadi malam ikut merasa khawatir. Hal itu karena ia merasa berhutang budi padanya.


"Ada apa Bi? Tanya gadis itu mendekati Wanita Paruh Baya itu.

__ADS_1


"Apa mereka berdua memarahi mu Bi?" Tanya gadis itu lagi sebelum dijawab.


"Dasar Tuan Muda galak." Ketus gadis itu hingga mulut gadis itu dibungkam oleh Sang Bibi.


"Bukan hanya satu tapi semua Tuan Muda di sini galak." Ketusnya lagi belum sempat Bibi membungkam mulut gadis itu seorang pemuda satunya lagi datang.


"Apa kamu bilang?" Tanya seorang pemuda yang baru saja datang dari arah belakangnya.


"Maaf Den." Pinta Bibi sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.


"Sudahlah Bik." Balas Garda yang memang tidak mau memperpanjang dialognya.


"O....... Jadi di sini ada tiga tuan muda galak." Batin Sang Gadis saat Garda sudah berbalik berjalan menuju ruang kerja."


"Mereka bertiga memang terlihat galak Nduk tapi semua baik hati." Kata Bibi.


Pemuda itu pun tanpa bertanya langsung menuju ke ruang kerja. Mereka memang miliki sebuah ikatan batin yang cukup kuat. Bukan hanya cukup tapi sangat lah kuat.


Pemuda itu mampu membuat gadis ini terkesima padanya. Aura yang sangat tampan dengan penampilan yang elegan tidak ada yang tahu kalau pemuda yang satu itu baru bangun tidur.


Tatapan mata yang seperti anak busur panah yang melesat membuat jantung gadis ini menjadi bergetar. Akan tetapi gadis ini segera menipisnya.


Gadis ini tidak berani membalas karena takut yang akan menjadi imbasnya adalah seorang Wanita Paruh Baya yang telah menolong tadi malam. Gadis ini biasanya akan membalas dengan sebuah tatapan dan ucapan yang sangat tajam tetapi tidak kali ini. Ia harus mulai belajar mengendalikan semuanya.


"Mereka bertiga memang terlihat galak Nduk tapi semua baik hati." Kata Bibi.


"Bibi sepertinya paham betul tentang mereka." Kata gadis itu.


Wanita paruh baya itu hanya mengangguk seperti membenarkan ucapan gadis itu. Gadis itu pun langsung terdiam, tetapi banyak hal yang ingin diketahuinya.


Pemuda yang baru saja berjalan menuju ruang kerja itu tersenyum-senyum sendiri. Entah ia tersenyum karena akan bertemu kedua saudaranya atau bertemu dengan gadis cantik?


Ceklek


Pintu ruang kerja pun dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Kemungkinan karena pemuda yang baru datang merasa jengkel dalam hati akibat ditinggalkan sendiri di dalam mobil.


Raut wajah yang merah menandakan ia sedang marah, tetapi karena kedua saudaranya juga pintar menenangkan hati saudaranya yang lain amarahnya pun dapat terekam. Pemuda itu hanya berekting jika tidak hambar juga jika bertemu saudaranya yang lain. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka.

__ADS_1


Antara marah yang hanya akting dan marah sungguhan mereka bertiga sudah tahu bedanya. Lagi pula ketiganya bisa merasakan sesuatu dari saudaranya yang lain (Bukan dukun lho ya?)


__ADS_2