
Tino berhenti di sebuah restoran ternama satu-satunya di pinggiran kota itu. Dia sangat lapar bahkan kelaparan karena melewati jam makan siang.
Melihat mobil yang dipakai oleh Tino pelayan memandang rendah dirinya. Itu sangat terlihat saat dia masuk ke dalam restoran itu.
Pemuda itu memanggil seorang pramusaji untuk meminta daftar menu terbaik di restoran itu. Seorang pramusaji memberikan menu yang biasa padanya.
"Ini menu terbaik kalian?" Tanya Tino dengan menahan rasa amarah yang sejak tadi disimpannya.
"Hanya biasa-biasa seperti ini?" Lanjutnya lagi hingga membuat kedua pramusaji itu saling tatap.
"Panggil atasan kalian." Kata Pemuda itu memerintahkan kedua pramusaji itu.
"Siapa yang ingin meminta bertemu dengan ku?" Tanya seorang pemuda dengan suara baritonnya hingga kedua pramusaji itu bergeser dari tempatnya berdiri.
"Keluarkan semua menu terbaik kalian dia bisa membayarnya lebih." Kata seorang pemuda pemilik restoran itu.
Kedua pramusaji itu segera menghidangkan makanan andalan di restoran ini. Mereka tidak mengerti dengan jalan pikiran bos mereka.
Tino dan sahabatnya itu saling berpelukan setelah sekian lama mereka tidak bertemu. Keduanya sama-sama humoris tidak pernah berpikiran serius terhadap segala hal.
"Berubah selera sekarang?" Tanya Sang Sahabat.
"Maksut mu?" Tanya Tino singkat.
"Tu." Kata Dika menunjuk dengan dagunya.
"Itu harta yang paling berharga." Kata Tino menjelaskan.
"Gimana kabar si muka tembok?" Tanya Dika.
"Masih pacaran dengan Kristin?" Tanyanya lagi.
Pemuda itu tidak menjawab pertanyaan sahabatnya hingga dia bisa mengambil kesimpulannya sendiri. Dika pun menggelengkan kepala yang bertanda tidak percaya kalau Garda si muka tembok bisa menutup mata dan telinganya karena gadis itu.
Dika dan Tino pernah melihat dengan kepala mata mereka sendiri tentang perselingkuhan pacar sahabatnya. Itu bukan hanya sekali tetapi sudah beberapa kali.
"Aku pergi dulu lain kali kita lanjut." Pamit seorang pemuda yang merasa sudah cukup lama dia berbincang dengan sahabatnya itu.
"Ok. Aku tunggu kabar mu." Kata Dika berjalan mengantarkan sahabatnya sampai mobil.
Mreeem
Mreeem
Mreeem
__ADS_1
Suara mesin mobil dinyalakan dan pedal gas diinjak berkali-kali hingga menimbulkan suara yang sangat kasar. Knalpot juga menghasilkan asap yang sangat tebal.
"Mau-maunya aja kamu pakai mobil kayak gini." Kata Dika sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Demi calon cewek si Bos." Jawab Tino.
"Baguslah kalau sudah ada yang lain." Kata Dika.
"Ini cewek kayak susah banget." Kata seorang pemuda menjelaskan.
"Sudahlah ngobrol sama kamu gak ada habisnya." Kata Tino dengan kedua tangannya sudah berada di atas setir.
"Minggir aku mau berpetualang." Lanjutnya dengan kaki yang sudah siap menginjak pedal gasnya.
Pemuda itu sudah menjalankan mobil menuju apotik untuk menebus obat yang diminta oleh Sang Dokter. Dika segera masuk ke dalam restoran dan segera membayar semua tagihan yang dihidangkan tadi.
Mereka bertiga yang bersahabat itu selalu membedakan antara kepentingan pribadi dengan kepentingan perusahaan sehingga mereka bisa sukses. Mereka tidak pernah mengandalkan modal orang tua mereka begitu saja.
Dika masuk ke dalam ruang kerjanya seperti biasa. Karyawan yang secara tidak langsung bersalah itu tidak dipedulikannya hanya saja Dia cukup berharap ada sebuah perbaikan pada diri mereka.
Pemuda itu sudah sampai di apotik, dia segera memberikan secarik kertas itu pada apoteker yang sedang bertugas. Obat itu sudah didapatkannya dia pun segera kembali ke desa tepatnya di rumah Yasna.
"Assalamualaikum." Kata Tino mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Garda yang dari tadi jenuh menunggu obatnya datang.
"Kamu gak lihat mobil tua itu." Kata Tino.
"Mogok maksut mu." Kata Garda menebak.
Yasna yang ada di dalam menemani Sang Paman mendengar sedikit percakapan kedua pemuda itu. Dia semakin tidak mengerti karena sangat bertolak belakang antara mobil dengan ponsel.
Garda yang merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu berpura-pura tidur mendengarkan semua percakapan gadis itu dengan pamannya. Pemuda itu merasa bersalah telah melakukan semua itu tetapi dia sendiri juga tidak tahu ada hal yang mendorongnya untuk melakukannya.
Pemuda itu berpikir kalau Bunda Azka memang sengaja menghindar saat ini. Dia tahu Wanita Paruh baya itu berusaha mengurangi masalah yang akan timbul.
Dokter Hendra lebih banyak diam setelah memeriksa Garda. Yasna juga tidak banyak bertanya.
"Ponsel mu kenapa belum di buka?" Tanya Tino dengan sedikit tersenyum.
"Mana tahu ada pesan masuk dari gadis itu." Kata asistennya lagi dengan menaik turunkan kedua alisnya dan dengan suara yang sangat kecil.
"Tidak aku tidak mau mendahuluinya." Kata Garda perlahan.
"Ponselnya sama jadi aku juga ingin segel dibuka bersama." Lanjutnya.
__ADS_1
"Benar juga, biar seimbang." Kata Tino.
"Ya ponsel couple jadi bisa bersamaan." Kata Garda menjelaskan keinginannya.
"Sudah itu segera minum itu obat." Kata Tino memberikan obat yang baru saja dibelinya di apotik.
"Aku gak butuh obat macam itu, kamu sendiri tahu." Kata Garda berbisik ditelinga asistennya.
Pemuda itu berpura-pura membuka obat yang baru saja didapatnya. Dia memang tidak pernah minum obat jika tidak terlalu mendesak untuk kesehatannya.
Waktu semakin cepat berlalu hingga mereka melupakan makan siang mereka karena situasi yang sedikit tegang. Yasna yang saat itu berada di ruang makan mengantarkan cemilan ke ruang tamu.
"Maaf saat ini cuma ada makanan ringan ini, semoga bisa mengganjal perut kalian." Kata Seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari ruang makan.
"Terimakasih." Kata Garda sopan.
"Paman tidak ada kerjaan?" Tanya Yasna mencoba mengusir dengan halus.
"Salam buat Bunda mu ya." Kata Sang Paman.
Dokter itu berdiri dari tempat duduknya dia segera melangkahkan kaki pergi ke luar. Dia hanya melirik kedua pemuda yang ada di ruang tamu.
"Hati-hati di rumah, jaga Bunda." Kata Sang Paman setelah gadis itu mencium punggung tangannya di depan pintu masuk.
"Hem." Jawab gadis itu singkat.
Paman segera pergi dengan mobilnya dan menuju jalan raya. Pikirannya masih tertuju pada kedua pemuda itu.
Bunda keluar dari kamar setelah adik iparnya itu pergi. Wanita Paruh Baya dibantu oleh anak gadisnya menghangatkan sayur yang tadi dimasaknya sebelum adiknya datang.
"Niat hati sebenarnya ingin bertemu Bunda kan?" Tanya Seorang gadis dalam hati merasa senang karena berhasil membuat pamannya itu pergi.
Yasna memanggil semua orang tanpa kecuali untuk makan bersama. Kakek juga ikut bergabung dengan mereka.
Pemuda dengan luka ditubuhnya itu berjalan kembali menuju ruang tamu dengan dibantu Tino dan seorang gadis. Garda sudah dalam posisi duduk di tempatnya semula.
"Tunggu, kenapa terburu-buru." Kata Seorang Pemuda pada Yasna dengan mencekal tangannya ketika gadis itu akan melangkah pergi.
"Kenapa?" Tanya seorang gadis.
"Ini salah satu untuk mu. Maaf aku hanya bisa memberikan ini saja." Kata Garda merendahkan diri sendiri.
"Kamu harus menggunakannya jika tidak aku tidak sanggup untuk membelikan yang lebih mahal dari ini." Lanjutnya.
"Ponsel couple." Kata gadis itu menatap mata Garda mencari sebuah ketulusan dari dalam sana.
__ADS_1
Gadis itu tidak yakin dengan ponsel yang baru saja diterimanya itu. Dia tidak menyangka akan mendapatkan ponsel yang harganya tidak dapat dibayangkan oleh semua orang karena sangat mahalnya.