
Di dalam perjalanan yang tak tahu arah mata salah seorang pemuda menangkap seorang gadis yang sedang berjalan agak cepat. Rasanya dia pernah melihat wajah yang seperti gadis itu namun usianya relatif jauh seperti seorang ibu dan anak.
"Apakah mereka semirip itu?" Tanya Garda dalam hati sekejap melupakan dompetnya yang entah kemana.
Mereka memutuskan hanya jalan-jalan mengitari desa merasakan damainya tempat itu yang jauh dari bisingnya perkotaan. Sesekali mereka menghentikan mobil di pinggir sebuah sawah yang terbentang luas.
Setiap kali mereka menghentikan mobil yang mereka tumpangi itu berada di tempat yang hanya ada mereka bertiga. Ketiga pemuda itu saat ini ingin terbebas dari hiruk pikuknya keramaian dengan berbagai macam aktivitas mereka.
"Pulang." Pinta Garda yang memang waktu sudah hampir sore.
"Kenapa secepat ini." Kata Axel.
"Bener, kangen dengan bini di rumah kali." Ledek Daffa yang sejak tadi melihat Garda mukanya kusut.
"Bini dari mana?" Tanya Garda.
"Itu yang sekarang sering masak di tempat kita." Jelas Daffa.
"Ok, ok. Kalau begitu kita meluncur pulang." Kata Axel yang memang sedang memegang kemudi.
Mobil yang ditumpangi oleh tiga orang pemuda itu perlahan menuju sebuah villa besar dengan halaman yang luas. Entah kenapa perasaan salah seorang pemuda di sana terasa sangat senang, entah karena lapar atau karena merindukan seseorang.
__ADS_1
Beberapa hari ini memang makanan terasa enak. Merekapun bisa makan dengan lahap hampir menghabiskan semua yang ada di meja.
Thiiiiin
Thiiiiin
Thiiiiin
Suara klakson mobil ketiga orang pemuda itu baru sampai di depan gerbang. Seorang penjaga gerbang itu segera membukakan pintu karena memang saat itu dia tidak ditempatnya sedangkan suara mesin mobil sangat halus hingga tidak terdengar.
Sreeeeet
Pintu gerbang dibuka dengan segera oleh seseorang laki-laki yang sudah lumayan lanjut usia. Dia sudah bekerja di villa sudah cukup lama dan menjadi kepercayaan di tempat itu.
"Kami bisa tuli kalau kamu berteriak sekeras itu!" Keluh Axel setelah menghentikan mobil secara mendadak.
"Brisik." Balas Sang Adik Bungsu keluar dari mobil secara tergesa-gesa seperti orang kesetanan.
Sang sopir segera memarkirkan mobilnya dibagasi. Sesekali dia melihat sang adik dari kaca spion dalam yang terlihat sedikit berbeda jika bersama.
Hari ini bukan hanya Garda yang berbeda tetapi kedua saudaranya hari ini sikapnya sungguh berbeda. Kesambet peri dari mana ya? Apa hati mereka sudah diobrak-abrik hingga belum apa-apa sudah kepikiran.
__ADS_1
Braaaaak
Suara pintu mobil ditutup secara kasar oleh sang kakak hingga menyadarkan sang adik yang masih ada di kursi penumpang. Pintu rusak tidak masalah dong mereka kan pandai cari duit. Eh salah gak ada yang buang duit kok cari ya gak ada lah ya. ( Maaf ini ya kakak-kakak pembaca Author otaknya kongslet).
Sang Adik Bungsu melangkahkan kaki dengan cepat dan lebar menuju dapur. Berharap bertemu dengan seseorang yang sebenarnya ingin dihindarinya.
"Mungkin kah dia disini?" Tanya Daffa dalam hati berpura-pura mengambil segelas air dingin dan membawanya ke ruang makan.
Pemuda itu duduk di ruang makan bukan karena lapar ataupun haus tetapi karena wajah seorang gadis dengan kelihaian memasaknya. Daffa juga tidak tahu perasaan apa yang kini ada dihatinya.
Perasaan cinta selalu saja ditepisnya karena suatu alasan. Gadis-gadis yang bersamanya tidak pernah tulus terhadapnya. Daffa hingga tidak sadar menjadi seorang pleboy yang selalu saja mempermainkan seorang gadis.
Seorang Cassanova sejati itu pantas panggilan untuk dia. Sebenarnya tidak salah karena dia tidak mengobral kata C-I-N-T-A pada siapapun.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Terimakasih telah setia dan mendukung pada karya saya,
Judul Novel: Beda-beda Tipis
Jangan lupa Like & Vote
__ADS_1
Komentar & Saran ditunggu oleh Authornya ya. 🙏