Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Motor Buntut Sistemnya Eror


__ADS_3

Ketiga pemuda itu kini dalam kondisi yang sama walaupun berbeda tempat. Beda-beda tipis lah ya wajah yang berbeda dengan tetapi sama tampannya. Wajah yang berbeda tetapi mereka kembar alias kembar tidak identik.


Sifat dingin bagaikan kutub es Utara dimiliki oleh Axel dan Garda. Sang adik yaitu Daffa lebih enjoy tetapi dia bisa lebih dingin dari kedua kakaknya.


Tuuuut


Tuuuut


Tuuuut


Seorang pemuda yang sedang berada di apartemen yang cukup luas dan mewah itu sedang menghubungi Sang Adik. Saat panggilan itu berlangsung hanya ada tulisan berdering.


"Kemana ini anak?" Tanya Kak Axel lirih merasa sangat khawatir saat menghubungi Garda yang sejak tadi telp tidak tersambung.


"Aku harus meninggalkan gadis ini atau mencari tahu keadaan Garda saat ini." Lanjutnya.


"Ahhh ..... Kenapa aku bisa seceroboh ini pada gadis ini hingga aku harus bertanggung jawab atas keadaannya sekarang." Katanya sambil mengacak rambutnya yang sangat hitam dan tebal itu.


Pemuda itu sangat bimbang hingga pada akhirnya dia mengambil motor yang ada di garasi apartemen itu. Semua orang tidak akan pernah menyangka kalau apartemen itu bagaikan sebuah penjara yang indah.


Tap


Tap


Tap


Langkah kaki yang sangat cepat dan lebar itu melewati sebuah kamar yang tertutup tetapi tidak terkunci. Pemuda itu sudah memegang handle pintu tetapi tidak dibukanya.


"Aku percaya pada mu." Kata Axel perlahan tetapi pada saat yang bersamaan gadis yang ada di dalam sudah tepat berada di balik pintu hingga dia bisa mendengar kata-kata pemuda itu baru saja walaupun lirih.


Bella masih berada di balik pintu itu menunggu kepergian Sang Pemilik Apartemen. Dia ingin menghirup segarnya udara di luar.


"Aku akan menunggu mu." Balas Bella dengan intonasi yang sangat kecil.


Saat Axel sudah menyalakan mesin motor miliknya gadis itu segera pergi ke taman. Dia melihat ada beberapa buah yang masak saat mendongokkan kepalanya.


"Rasanya pasti manis." Kata Bella.


Merasa perutnya sedikit lapar setelah melihat buah yang masih ada di atas pohon dia segera pergi mencari dapur yang ada di tempat itu. Dilihat di dapur itu ada beberapa buah yang bisa dimakannya.

__ADS_1


"Sejak kejadian kemarin kenapa aku jadi teringat dia terus." Batin Bella saat memotong buah yang telah dicucinya.


"Ahhh." Katanya meringis sambil menahan perih pada jarinya.


Bella tidak fokus saat memotong buah itu hingga jarinya terkena pisau. Lukanya cukup dalam dia tidak berani untuk menangis.


Sang Papa selalu mengajarinya dengan sebuah ketegasan. Dia selalu diberi penjelasan kalau dia adalah anak pertama atau anak tertua harus bisa menjadi panutan.


Menangis akan membuatnya terlihat lemah siapa saja akan dengan mudah menjatuhkannya. Pesan itu selalu ada dalam ingatan gadis itu hingga sekarang tangisan menjadi hal yang dilarang untuk dirinya sendiri.


Bella langsung mencoba mengingat-ingat dimana kotak obat kemarin ditaruh oleh orang yang menyekapnya itu. Dia langsung kembali ke kamarnya untuk mengobati luka yang ada di jarinya itu.


"Buat apa aku sedih hingga menangis hanya karena luka sekecil ini." Kata Bella berusaha menguatkan dirinya.


"Sejak dulu pun aku sudah sendirian, tak ada yang perduli aku hidup atau mati." Lanjutnya.


"Keluarga mana ada." Keluhnya dengan tersenyum getir hingga pertolongan pertama pada lukanya selesai.


Dia kembali ke dapur mengambil buah yang telah selesai dipotongnya tadi. Gadis itu membawa buah yang telah dipotong-potong tadi ke taman.


Bella dan Yasna hari ini juga merasakan hal yang sama tidak mengenakkan walaupun kronologi kejadiannya berbeda. Hati mereka sama-sama merasakan sebuah kesedihan seperti sebelumnya.


Kedua gadis ini sebenarnya selalu bersama dalam satu wilayah hanya saja mereka tidak mengetahui hubungan darah antara mereka. Salah satu gadis hidup di kota, gadis lainnya akan mengikuti begitu juga sebaliknya.


Pertemuan demi pertemuan walaupun singkat dan dalam situasi yang tidak menyenangkan tetapi pada akhirnya menimbulkan rasa bersalah dan rasa rindu dalam hati keduanya. Yasna yang selalu bersama Sang Bunda ketika bertemu dengan Sang Kakak merasa sangat familiar dengan wajah itu.


Di Sebuah Rumah Kontrakan


Seorang gadis yang sedang berada di sebuah rumah kontrakan yang cukup mewah tersenyum-senyum sendiri. Dia seakan sudah memenangkan babak barunya dalam sebuah perpisahan dengan kekasihnya.


Gadis ini sedang menyusun sebuah kata-kata agar dirinya bisa putus dari pacarnya. Alasan yang cukup masuk akal adalah sebuah persetujuan dari kedua orang tua mereka masing-masing.


Tuuuut


Tuuuut


Tuuuut


Gadis ini sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya. Dia sedang menghubungi orang tuanya yang sedang berada di luar kota. memberitahukan rencananya.

__ADS_1


Percakapan di Ponsel


"Hallo, Ayah." Sapa seorang gadis yang bernama Kristin.


"Ya, ada apa sayang?" Tanya Sang Ayah.


"Ayah benar, sepertinya dia dari rakyat jelata." Kata gadis itu.


"Dari mana kamu tahu?" Tanya Sang Ayah.


"Terakhir yang aku tahu dia pulang ke desa sampai sore ini belum balik juga pastinya naik motor buntutnya hingga terjebak macet sistem motor eror." Kata Kristin menjelaskan.


"Lalu?" Tanya Sang Ayah singkat.


"Aku akan memutuskan hubungan ku dengannya secepat mungkin." Jawab gadis itu.


"Baiklah kalau yang itu aku akan mendukung keputusan mu sayang." Kata Sang Ayah.


"Sudah dulu ya, jaga diri mu baik-baik." Kata Sang Ayah memberi pesan pada anak perempuannya.


"Jangan sampai salah bergaul hingga kesucian mu hilang." Lanjutnya sebelum mengakhiri percakapan itu.


"Baik lah ayah. Aku akan menunggu kepulangan mu." Jawab Kristin dengan gelisah.


Percakapan dalam ponsel itu akhirnya ditutup setelah Kristin mengatakan keinginannya itu. Perasaannya juga justru malah semakin tidak enak setelah menghubungi Sang Ayah.


"Bagaimana ini aku sendiri sudah melakukannya dengan orang lain." Batin


gadis itu cemas.


"Bahkan hubungan ku dengan laki-laki miskin hanya untuk menutupi hubungan ku dengannya." Lanjutnya.


"Bahkan aku sekarang memutuskannya karena janjinya untuk menikah dengan ku." Lanjutnya yang semakin panjang.


"Kata Ayah yang penting laki-laki kaya kan?" Tanyanya dalam hati.


"Pasti tidak apa-apa dia kan kaya." Kata Kristin yang semakin optimis dengan pilihannya itu.


Gadis itu menyanding ponselnya menunggu seorang pemuda yang akan menemuinya malam ini. Dia memainkan ponsel itu hingga tertidur larut malam.

__ADS_1


"Pasti dia pakai motor butut itu lagi, sistemnya lagi-lagi eror tidak bisa diajak kompromi." Batin Kristin yang baru bangun tidur di tengah malam melihat tidak ada pesan masuk atau panggilan masuk.


Gadis itu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena badannya terasa sangat lengket. Sore hari sebelum tertidur dia belum sempat untuk mandi.


__ADS_2