Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Narsis Amat


__ADS_3

Pemuda yang ditunggu kabarnya sekarang ini terluka. Dia juga tidak bisa menghubungi kekasihnya karena ponsel dan dompet miliknya menghilang karena terlempar entah kemana.


"Dompet itu padahal baru beberapa hari yang lalu ditemukan sekarang sudah hilang lagi." Batin Garda saat menunggu pertolongan lebih lanjut di rumah Bunda Azka.


"Sebenarnya ada bertanda apa?" Lanjutnya.


Pemuda itu sebenarnya tidak merasakan sakit yang berlebihan. Rasa penasaran yang ada tentang kehidupan keluarga ini membuatnya harus berpura-pura.


"Bagaimana baiknya saya nurut saja Tante." Kata Garda untuk mengulur waktu.


"Untuk ponsel mu ini, aku tadi sudah bilang akan mengganti seperti yang kamu mau dan kamu sudah menyetujuinya."


"Benar tadi kamu bilang seperti itu pada Nak Garda?" Tanya Sang Bunda pada putrinya yang sudah bersiap untuk meminta ponselnya yang baru saja diletakkan di atas meja oleh Garda.


"Benar Bunda, tapi tidak untuk mengganti ponsel milik ku." Jawab Yasna dengan menundukkan kepala.


"Menolong orang itu harus sampai tuntas sayang." Kata Bunda sambil mengelus perlahan punggung Sang Putri.


"Bunda, tapi ponsel ku harus tetap menjadi milik ku, Bunda kan tahu sifat ku." Kata Yasna mengingatkan.


Dreeeeet


Dreeeeet


Dreeeeet


Ponsel yang baru saja diletakkan di atas meja itu bergetar hingga mencuri pandangan setiap orang yang ada di sana. Pemuda itu tidak bergerak dari posisinya saat ini hingga panggilan itu terputus.


"Kek tolong hubungi dokter keluarga ya?" Pinta Bunda Azka yang membuat mata sang putri membulat sempurna tak percaya.


"Baik Nak." Balas Kakek.


"Bunda yang benar saja, kalau dokter itu datang bagaimana dengan nasib ku?" Tanya Yasna.


"Memangnya kenapa?" Tanya Sang Bunda.


"Bunda, Ayah saja belum pernah datang beberapa bulan ini, kenapa tidak minta ayah saja yang datang buat memeriksanya." Kata Yasna dengan emosi.


"Ayah mu masih sibuk." Kata Sang Bunda berdiri meninggalkan ruang tamu untuk menghindari masalah keluarganya didengar oleh orang asing.


Pemuda itu semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan pada keluarga ini pada anak mereka. Bunda menanggapi semua perkataan putrinya terlihat sangat santai.


Garda pun meraih benda pipih yang baru saja berisik yang ada di meja. Dia mengirimkan pesan pada asistennya itu karena takut ada yang mendengar jika dia melakukan panggilan.


Pemuda itu takut identitasnya terbongkar hingga harus menerima perlakuan yang tidak dia suka. Yasna kembali duduk di kursi ruang tamu melihat semua yang dilakukan oleh pemuda itu.


"Tidak jadi pergi?" Tanya Garda pada seorang gadis yang baru saja menghempaskan bokongnya di kursi.

__ADS_1


"Aku menunggu ponsel ku, aku tidak mau yang baru." Jawab Yasna.


"Aku akan tetap setia dengan ponsel ku itu, walaupun kamu menggantinya dengan yang lebih mahal." Lanjutnya dengan intonasi yang sedikit tinggi.


"Masih ada alasan lainnya kamu masih setia menemaniku." Kata pemuda itu menebak dari setiap tingkah gadis itu dari tadi.


Garda menatap ke dalam mata gadis itu ingin tahu jawaban yang sebenarnya. Merasa ditatap lama gadis itu menjadi salah tingkah.


"Apa lihat-lihat?" Tanya gadis itu bangga untuk menutupi groginya itu.


"Baru tahu kalau aku cantik?" Tanyanya lagi.


"Narsis amat." Jawab Garda.


"Apa gak salah, bukannya kamu sendiri yang mau menemaniku yang ganteng ini?" Tanya Garda yang juga jadi narsis.


Pada saat yang sama Kakek mengambil ponselnya menghubungi Dokter Hendra. Sang Bunda meminta kakek untuk menghubungi dokter itu untuk menjaga perasaan putri satu-satunya saat ini.


Suara Sang Kakek terdengar kecil saat menghubungi dokter itu. Suara dokter yang diseberang sana juga terdengar berbeda jika yang menghubunginya bukan Sang Bunda.


Hening


Hening


Hening


Garda sedang membalas pesan yang masuk dari Sang Asisten. Asistennya itu hanya menginformasikan tentang kondisi motornya sekarang dan dua benda yang terbang entah kemana.


Motor milik Garda sekarang sudah dalam perjalanan menuju bengkel. Kerusakan yang cukup parah membuat motornya tidak bisa diperbaiki di tempat.


Di lokasi kejadian dua benda itu juga ditemukan tetapi salah satu benda itu tidak bisa digunakan. Benda itu hancur seperti yang akan terjadi pada pemiliknya.


Tuuuut


Tuuuut


Tuuuut


Bunyi sebuah ponsel untuk menghubungi asistennya yang sedang dalam perjalanan kembali ke ibu kota. Bunyi itu terdengar setelah Pemuda itu mendeal nomor yang sama saat berkirim pesan.


"Assalamualaikum." Kata Garda menyapa seseorang yang di seberang telepon.


"Wa'alaikumsalam." Jawab orang yang ada diseberang.


"Kirimkan aku dua ponsel baru yang sama." Kata Pemuda yang ada bersama dengan Yasna saat ini.


"Baiklah ini aku akan segera sampai di tempatnya." Kata orang yang ada diseberang sana.

__ADS_1


"Baiklah aku tunggu secepatnya." Kata Garda dengan tegas.


"Wassalamu'alaikum." Kata Pemuda itu sebelum menutup telepon.


"Wa'alaikumsalam." Jawab orang yang ada diseberang.


Yasna yang duduk bersama dengan seorang pemuda yang baru saja mendengar percakapan baru saja terjadi merasa sangat kagum dengan Dia. Suaranya terdengar sangat berwibawa tidak seperti orang pada umumnya.


"Buat apa pesan dua ponsel?" Tanya seorang gadis yang mulanya menundukkan kepala kini melihat wajah Garda ingin tahu yang sebenarnya.


"Apa yang sudah aku katakan akan aku lakukan." Kata pemuda itu dengan wajah datarnya.


"Pemborosan." Kata gadis itu ketus.


"Demi kamu." Kata seorang pemuda tanpa sadar.


Gadis itu menatap Garda tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dia masih berpikir kalau semua laki-laki itu sama saja.


Sang Ayah yang dipanggilnya selama ini jarang sekali datang. Dia datang hanya sehari saja tidak pernah bermalam di rumah itu.


Yasna merasa sedih dengan semua itu walaupun Sang Ayah menghujaninya dengan kasih sayang yang berlebihan. Sang Ayah selalu memberikan semua keinginan gadis itu.


Saat Sang Kakek menelpon adik iparnya Yasna melihat jam yang tergantung di dinding. Dia sepertinya menandai jam itu hingga Dokter itu datang.


Perjalanan yang ditempuh dari rumah sakit tempat Sang Paman praktek lumayan jauh. Sang Paman tidak pernah pulang ke kediaman utama melainkan pulang ke apartemen yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit.


Asisten seorang pemuda yang sekarang berada di rumah Bunda Azka datang dengan menggunakan mobil keluaran paling lama itupun atas perintah atasannya. Dia memakai mobil itu sebenarnya menyewa dari seseorang yang ada di pinggiran kota.


"Permisi." Kata seorang tamu yang baru saja sampai dengan mobil bututnya.


"Ya, sebentar." Jawab Yasna segera berdiri menuju pintu depan.


"Mas cari siapa?" Tanya Yasna dengan sopan setelah melihat mobil yang ada di depan.


"Hallo." Kata Yasna lagi dengan melambaikan tangannya di depan pemuda itu karena pemuda itu tidak merespon.


"Iya, maaf-maaf Nona." Kata Sang Asisten tersadar dari rasa kagumnya.


"Saya mencari Mas Garda yang tadi memesan ini." Kata Sang Asisten.


"Oh." Katanya terputus.


"Masuk, dia ada di dalam." Lanjutnya.


"Terimakasih Nona." Kata Sang Asisten.


Gadis itu berjalan masuk terlebih dahulu yang diikuti oleh asistennya Garda. Pemuda itu dipersilahkan duduk oleh Yasna.

__ADS_1


__ADS_2