
Kedua pemuda itu hanya memperhatikan kepergian seorang wanita paruh baya yang sedang melanjutkan belanjanya. Dia tidak perduli dengan berbagai macam nyanyian para emak-emak yang didengarnya.
"Gara-gara kakak tidak mau bayar itu tukang sayur aku jadi berhutang budi kan sama dia." Kata Garda dengan intonasi yang cukup rendah.
"Itu kan masalah kamu." Kata Axel.
"Lha trus tadi siapa yang ngajakin masuk pasar?" Tanya Garda.
"Gak ada." Jawab Axel berjalan menyusuri pasar dengan tergesa-gesa dan berbincang dengan adiknya yang mengikutinya dibelakang hingga sesekali harus menoleh.
Bugh
"Maaf Bu." Kata Axel yang telah menabrak seorang wanita paruh baya dengan tekstur tubuh yang gendut.
"Tidak apa lah ya." Jawab wanita itu.
"Mau kok ditabrak lagi." Lanjutnya dengan genit.
"Apa lagi sampai tambah gemuk ini perut dan kalau sampai seperti itu kamu juga harus bertanggung jawab Tampan." Lanjutnya lagi.
"Lha kan ada suaminya yang tiap malam tunggang langgang sama ibu, jadi suaminya yang harusnya tanggung jawab bukannya saya. Saya tadi cuma tidak sengaja menabrak ibu, tidak berbuat sesuatu yang melanggar etika atau norma pelecehan." Jelas Axel yang sangat panjang dengan gayanya yang cool hingga semakin menambah ketampanannya dan membuat para wanita di pasar itu semakin terpesona dibuatnya.
Pemuda itu hanya tak menyangka atas jawaban yang diberikan oleh wanita itu. Wanita itu tadi salah satu yang memberikan sumbangan nyanyian terhadap wanita yang membantu sang adik. Axel sendiri jadi merinding dibuatnya.
Sang Adik yang melihat adegan itu meluncurkan aksi sama dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Axel saat terjadi dengan tukang sayur baru saja. Garda hanya berdiri dengan kedua tangan melipat di depan dadanya.
"Jika wanita ini tadi mengatai wanita lain barusan apa pantas, sedangkan kelakuannya sendiri tidak lebih baik darinya." Batin Garda yang sedang menyaksikan perbincangan Sang Kakak dengan wanita gemuk itu.
__ADS_1
"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi kan Bu? Kalau begitu kita permisi." Pamit Axel menarik tangan sang Adik yang dari tadi masih dilipat di depan dada.
"Pelan-pelan Kanapa sih?" Tanya Sang Adik saat tangannya ditarik dengan paksa.
"Sakit tahu." Protesnya biarpun tidak merasakan hal itu.
Mereka berdua teringat dengan sang adik bungsu yang belum menyusulnya. Kedua pemuda itu tertawa geli mengingat kejadian baru saja.
"Kenapa tersenyum-senyum seperti itu?" Tanya Axel yang sudah tahu dengan pikiran adiknya.
"Ada bahan berbincang seru nanti sepertinya." Jawab Garda.
"Sepertinya ada beberapa hal menarik yang barusan terjadi?" Tanya Seorang pemuda dari belakang yang membuat mereka terkejut. Suara yang sangat di kenal kedua pemuda itu.
"Huuuf." Kedua pemuda itu menoleh ke belakang dan membuang nafasnya secara kasar.
"Kami menunggu mu khawatir di dalam pasar hingga terjadi sesuatu pada kami berdua." Lanjut Garda.
"Siapa suruh masuk pasar hingga menabrak bantal empuk." Ledek Daffa hingga membuatnya tertawa renyah setelah mendengar cerita kedua kakaknya.
Mendengar tawa sang adik kedua pemuda itu merasa lega. Daffa kali ini sungguh sangat berbeda, dia yang biasanya cuek terhadap masalah seorang gadis tetapi kali ini sangat sensitif.
Kedua kakaknya menjadi perpikiran lain terhadap perubahan Daffa. Sang Adik telah menautkan hati pada seorang gadis rasa senang ada pada kedua kakaknya itu.
"Iya bener empuk banget seperti bantal nenek lampir." Kata Garda yang memperjelas semuanya.
"Jadi kamu pernah ngerasainnya juga?" Tanya Axel pada kedua adiknya dengan geram karena diledek habis-habisan oleh mereka.
__ADS_1
"Kalian masih mau disini mau cari emak-emak?" Tanya Daffa pada kedua kakaknya berjalan keluar dari pasar.
"Itu lihat baik dari gadis sampai emak-emak melihat betapa kagetnya kalian. Kalian tinggal pilih." Lanjutnya yang sangat panjang.
Sang adik bungsu melangkahkan kaki keluar dari pasar diikuti dengan kedua kakaknya. Mereka tidak bisa membayangkan kalau pemuda seperti mereka masuk ke dalam pasar tradisional.
"Oh tidak." Teriak Axel merasa geli dengan apa yang baru saja dilihatnya.
"Kenapa?" Tanya Garda singkat.
"Mereka ini merusak pemandangan." Lanjut Axel.
"Kalian ini memang bener-bener ya!" Kata Daffa
"Ini bukan mall kakak ku sayang, yang semuanya di jajar rapi pada tempatnya." Kata Daffa yang sudah pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya.
Sang adik melihat penampilan kedua kakaknya yang ekstra berantakan atau super berantakan. Di mata emak-emak dan gadis yang ada di sana masih saja terlihat keren dengan tubuh atletisnya itu.
Apa kata duniaaaaa? Apa lagi mereka seorang laki-laki muda, sedangkan didalam pasar itu mayoritas adalah seorang wanita paruh baya sampai wanita yang sudah lanjut usia.
💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗💗
Terimakasih yang sudah baca Novel: Beda-beda Tipis.
Dukung terus dengan Like & Votenya.
Selamat Berakrivitas.
__ADS_1
🙏🙏🙏🙏