Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Jumpa Kembali


__ADS_3

Gadis itu terkejut ketika tahu pintu ruang itu telah terkunci. Bram meminta pesanannya tadi hingga dalam otaknya memiliki rencana terselubung yang bisa mengakibatkan perang dunia antara Dia, sahabatnya serta gadis yang bersamanya sekarang.


Pemuda itu kini sedang duduk di sofa sudut ruangan itu duduk dengan meletakkan salah satu betisnya di paha yang lain. Ia menarik tangan seorang gadis muda cantik yang membawakan air mineral dingin di tangannya.


Bugh


Gadis itu kini jatuh di atas pangkuan Bram yang memang sengaja melakukan itu. Wajah memerah pada gadis itu kini mulai terlihat.


"Akhh." Teriak seorang gadis.


"Hati-hati." Kata Bram memeluk punggung gadis itu yang memang tidak ingin segera melepaskannya.


"Maaf Den." Kata seorang gadis sambil menundukkan kepalanya dan mendorong tubuh Bram agar melepaskannya.


Gadis itu merasa ada yang tidak wajar dari perilaku sahabat dari pemilik Villa itu. Ia merasakan ada sebuah tatapan aneh dari matanya serta perilakunya baru saja.


Tatapan yang ingin menghakimi bukan tatapan penuh hasrat pada seorang pemuda pada umumnya. Gadis itu akhirnya menatap tajam pada Bram seperti sebuah busur panah yang melesat hendak mengenai jantungnya.


Perlahan gadis itu pun dilepaskan dari pelukannya. Ia pun berdiri dari pangkuan Bram.


"Aku tak pernah melihat mu." Kata Bram memandang mata gadis itu dengan tatapan ingin mencari tahu kebenaran dari matanya.


"Saya?" Tanya Gadis itu pada Bram dengan menunjuk pada dirinya sendiri.


"Memang disini masih ada siapa lagi selain dirimu?" Tanya Bram tanpa menjawab pertanyaan gadis itu.


Bram selalu memandang mata gadis ini saat berbicara. Ia ingin mengetahui sebuah kebenaran dari matanya.


Mata kedua orang ini bertemu tapi tidak ditemukan apa pun dari sorot matanya yang tajam. Bram selalu berpikiran kalau orang desa itu sangat polos hingga ia tidak akan pernah bisa berbohong dari sorot matanya.


Setiap gerakan dari sorot mata gadis di depannya yang tajam tak pernah lolos, tidak ditemukan apapun dari jawaban yang sesuai dari pikirannya yang semula. Siapa sangka ternyata gadis ini bukan lah gadis desa yang sembarangan.


Di dalam Villa masih terjadi interogasi yang sangat sengit antara seorang pemuda dengan seorang gadis. Bram yang tidak pernah melihat gadis itu sifat keponya muncul.


Gadis ini memang belum lama bekerja di sini. Daffa pun belum tahu kalau ada gadis yang bekerja di Villanya.


Daffa baru dua hari menginap di Villa karena waktu kuliah memang sudah libur. Baru juga dua hari banyak teman ceweknya yang VC, telepon, dan juga chat di nomornya.

__ADS_1


Para gadis itu kelimpungan ingin mengajaknya berlibur. Semua pesan yang masuk bahkan VC para gadis itu tak pernah digubrisnya.


Benda pipih itu hanya dilihatnya saja hanya ingin tahu siapa saja yang menghubunginya. Sebuah ketenangan jauh dari kesibukan hiruk pikuknya Ibu kota.


Daffa saat ini hanya ingin menghabiskan liburannya di Villa bersama dengan orang-orang di sekitar Villa. Dimanapun keberadaannya ia hanya fokus di tempatnya yang sekarang.


Pemuda yang sedang joging di taman sekarang sedang mengistirahatkan badannya di sebuah kursi taman tepat dimana gadis yang kemarin terkena bolanya itu duduk. Ia sedang mengamati setiap aktivitas yang ada di sana.


Adem hatinya terasa melihat semua orang sedang mengisi hari liburnya di sana. Daffa terlihat menarik bibirnya tersenyum.


Matahari sudah beranjak naik belum juga pemuda ini makan pagi hanya segelas air putih hangat yang ia santap. Daffa pun pergi dari taman itu menuju Villa karena hari memang sudah sangat siang.


Di jalan ia menangkap sosok seorang wanita paruh baya yang sempat dilihatnya kemarin. Wanita dengan paras yang cantik seperti masih muda.


Bunda Azka yang pagi ini pulang dari pasar membawa berbagai macam belanjaan. Belanjaan yang tidak tidak sedikit seperti akan ada pesta.


Daffa menghampiri wanita paruh baya itu. Ia menawarkan bantuan kepadanya saat melihat wanita itu kesulitan membawa belanjaannya.


Melihat Bunda Azka yang kesulitan membawa semua belanjaannya itu Pemuda yang hendak pulang menyempatkan diri untuk membantunya.


"Terimakasih Nak." Kata Bunda.


"Sepertinya kamu bukan orang sini ya?" Tanya Bunda Azka kemudian sambil melihat perawakan Pemuda yang membantunya saat ini.


"Saya memang baru berlibur di sini Tante?" Jawab Daffa singkat karena sedang memperhatikan jalan yang ramai saat itu sedangkan mereka akan menyebrang jalan.


Saat memperhatikan jalan yang ramai itu di sebrang jalan keduanya melihat seorang gadis yang sangat mirip dengan Bunda Azka. Bunda yang mengetahui gadis itu hanya bisa menatapnya sangat lama.


Pemuda yang bersama Bunda Azka memperhatikan raut wajah wanita paruh baya itu secara intens. Pemuda ini merasa keduanya sangat mirip hingga dalam pikirannya muncul bahwa gadis itu adalah anak dari wanita yang sekarang bersamanya.


"Ayo jalan." Ajak Bunda Azka.


"Tante gadis yang di seberang jalan tadi?" Tanya Daffa terpotong karena Mereka sudah sampai di rumah Bunda Azka.


"Sudah sampai." Kata Bunda Azka.


"Mau mampir dulu?" Tawar Sang Bunda kemudian.

__ADS_1


"Tidak Tante. Terimakasih." Tolak Daffa.


"Tunggu." Panggil Bunda kemudian.


"Iya, Tan." Jawab Pemuda yang mengantar Bunda Azka.


"Gadis tadi Tante gak tahu." Kata Bunda Azka setelah Daffa membalikkan badannya.


"Cantik ya?" Tanya Bunda Azka.


Pemuda yang mengantar wanita Paruh Baya itu hanya tersenyum sebagai jawabannya. Kini ia melangkahkan kaki menuju Villa setelah berpamitan untuk kedua kalinya.


"Hari ini berjumpa lagi dengan gadis itu. Lain kali pasti akan berjumpa." Batin Pemuda yang kini sedang munuju Villa.


Pemuda itu masih penasaran dengan kedua wanita yang memiliki kemiripan itu. Akan tetapi pikiran tadi berusaha ditepisnya.


"Jika keduanya saling kenal dan gadis itu adalah anaknya semestinya ia membantu wanita tadi." Batin Daffa.


"Tadi Tante itu juga bilang tidak kenal." Lanjutnya.


Mengingat Sang Kakak akan datang menyusul Daffa mempercepat langkah kakinya. Dilihat mobil sahabatnya masih terparkir di tempat yang sama.


Ceklek


Pintu depan pun terbuka dan dengan segera Daffa menuju dapur hendak membuat air putih hangat seperti tadi pagi. Ia pun membawa air putih hangat menuju ruang makan dengan memindai setiap sudut ruang mencari sahabatnya itu.


"Ini orang kemana?" Batin Daffa.


"Menghilang tapi masih berjejak." Lanjutnya.


"Rumah juga sepi lagi." Tambahnya.


Pemuda itu duduk sendirian di ruang makan. Ia mengambil ponselnya yang terletak di atas meja tadi pagi.


Pemuda ini bukan merasa khawatir tetapi penasaran karena sahabatnya menghilang dengan meninggalkan jejak. Dicari Id sahabatnya pada benda pipih yang sedang ia pegang sekarang dan mendeal aikon hijau pada benda tersebut.


Panggilan dan chat yang masuk saat benda pipih itu ditinggal tak dipedulikan sama sekali. Panggilan pada sahabatnya yang berkali-kali itu tak diangkat membuatnya kesal.

__ADS_1


__ADS_2