Beda-Beda Tipis

Beda-Beda Tipis
Salah Kamar


__ADS_3

Gadis itu menundukkan kepala tidak mau orang lain tahu apa yang ada dipikirannya. Hafsa bingung dengan perasaannya saat ini.


Perasaan terhadap pemuda tampan yang ada dihadapannya sekarang semakin terasa jelas. Bagaimana dengan perjodohan yang diputuskan oleh orang tuanya.


"Sejak kapan kamu di sini?" Tanya Hafsa dengan kepala tertunduk.


"Sejak tadi sayang." Jawab Pemuda itu.


"Sedih ya tidak jadi makan siang bersama ku seorang." Ledek Daffa berusaha mencairkan hati gadis itu yang sepertinya sedang banyak pikiran.


"Tidak apa kan kalau kita tunda dulu, melatih rasa sabar kita sayang hingga jenjang yang lebih dari yang kita nantikan." Kata Pemuda itu hingga bisa membuat gadis itu menatapnya wajah tampan yang ada dihadapannya dengan tajam setajam silet.


"Ayo kita makan." Kata Daffa mengajak gadis itu dengan merangkul pundaknya untuk makan siang bersama dengan Sang Kakak.


Pemuda itu langsung merangkul Hafsa yang berarti tidak mau ada penolakan terhadapnya. Gadis itu merasa malu diperlukan seperti itu olehnya dihadapan Axel.


Hafsa ingin memberikan penjelasan tetapi dia takut. Dia tidak mau memberikan sebuah harapan yang membuat orang pemuda itu kecewa.


Sang Kakak melihat adegan yang diperbuat adiknya dari dapur sampai ruang makan. Dia berpikir kalau Sang Adik memang pandai merayu seorang gadis.


Daffa kali ini memiliki tujuan lain yaitu hanya untuk membuat gadis itu terhibur. Sang Kakak tidak memperdulikan kedatangan kedua orang yang sedang berjalan ke tempatnya.


Sreeeet


Daffa menarik kursi kebelakang agar gadis itu bisa duduk. Sang Kakak tidak memiliki ekspresi apapun diwajahnya melihat semua perlakuan Daffa pada gadis itu.


"Duduklah." Kata Kak Axel singkat saat melihat gadis itu tidak segera duduk.


"Terimakasih." Kata Hafsa sebelum dia menghempaskan bokongnya.


"Makan saja apa yang kamu inginkan." Lanjutnya.


Mereka bertiga akhirnya makan walaupun salah satu dari mereka masih sangat sungkan. Kakak beradik itu memperhatikan cara makan Hafsa tanpa ada yang terlewatkan.


"Cara mengambil makanan dan cara makannya cukup anggun." Batin Axel.


"Seperti dari keluarga yang berkelas." Lanjutnya.


"Mereka yang sudah lama menjadi figur publik saja tidak sebaik itu." Lanjutnya yang sangat panjang sekali.

__ADS_1


Sang Kakak menang sering menghadiri setiap perjamuan antar perusahaan hingga dia tahu cara gerak dan perilaku mereka yang menunjukkan tingkatan kelasnya. Axel yakin sekali bahwa gadis ini berasal dari dunia dari tingkatan kelas atas.


Axel mencoba membuka sebuah percakapan tetapi susah lidahnya untuk berkata. Pemuda itu memang tidak banyak bicara pada orang lain tidak seperti Sang Adik.


Gadis itu hendak berdiri dan membereskan meja makan tetapi tangannya dicekal oleh Daffa untuk kesekian kali. Daffa justru melarangnya untuk melakukan itu semua.


"Tugas mu mulai sekarang hanya melayani ku." Kata Daffa perlahan sambil menutup matanya sesaat.


"Pergilah ke kamar mu sekarang." Lanjutnya.


Daffa tahu hati gadis itu juga sedang dalam keadaan yang tidak baik sejak beberapa hari ini. Dia semakin yakin akan hal itu setelah melihatnya melamun di dapur sebelum makan siang tadi.


Gadis itu menganggukkan kepala perlahan yang berarti dia mengerti. Hafsa berjalan menuju kamar lamanya tanpa dia sadari.


"Mau kemana?" Tanya Daffa yang sudah menghentikan langkah gadis yang hampir tersesat.


"Kata mu aku harus pergi ke kamar." Jawab Hafsa bingung.


"Kamar siapa yang kamu tuju?" Tanya Daffa lagi.


"Kamaaaaar." Jawab Gadis itu merasa sudah linglung.


"Aduh maaf jadi salah kamar." Kata Hafsa merasa tidak enak.


"Baru juga hari ini aku pindahnya, jadi aku lupa letak kamar ku." Lanjutnya untuk menjelaskan.


Gadis itu akhirnya berputar haluan menuju kamar yang baru saja ditempati. Dia berjalan dengan menundukkan kepala karena ada Axel.


Daffa sendiri kembali pada tempatnya semula duduk bersama dengan Sang Kakak. Pemuda itu ingin menanyakan sesuatu tetapi bukan perihal Kakaknya Garda tetapi mengenai seorang gadis.


"Sepertinya kau ingin menanyakan sesuatu?" Tanya Sang Kakak.


"Benar." Jawab Daffa singkat.


"Yang aku tahu kamu tidak akan menanyakan perihal tentang seorang laki-laki." Kata Sang Kakak dengan tebakannya itu.


"Ya iya lah, masak aku seorang laki-laki menanyakan laki-laki." Kata Daffa.


"Di iklan itu masak jeruk makan jeruk." Lanjutnya.

__ADS_1


"Aku baru ingat kalau gadis yang akan menjadi percobaan korban pemb." Kata Daffa yang terputus karena mulutnya sudah dibungkam oleh tangan Sang Kakak.


"Jangan berbicara itu di sini." Kata Kak Axel mengingatkan.


Daffa terdiam kemudian setelah mendapat peringatan dari Sang Kakak. Dia baru sadar kalau akibatnya akan fatal jika ada yang bocor walaupun itu bukan salah mereka tetapi orang lain bisa saja yang kena imbasnya.


Pada saat yang sama pula Axel merasa diingatkan dengan seorang gadis yang pernah dipaksanya. Dia berubah lesu lebih lesu dari ditinggalkan kekasihnya tanpa kejelasan.


Kediaman Bunda Azka


Pemuda itu tidak bisa istirahat sama sekali karena memikirkan sesuatu dalam otaknya itu. Dia ingin segera meninggalkan desa itu menuju kota tetapi mengingat kondisinya yang sekarang rasanya tidak mungkin.


"Aku tidak enak harus berada di sini lama." Batin Garda menatap taman bunga yang ada di samping rumah Bunda Azka.


"Di sini nyaman bisa membuat lupa dengan semua masalah." Lanjutnya.


"Jika aku kembali ke villa kedua saudara ku yang jelas tidak akan mengijinkan ku pergi menemuinya.


Garda memandangi taman bunga itu cukup lama. Dia tidak sadar jika ada yang melihatnya saat itu.


Pemuda itu belum sempat membuka ponsel barunya yang tergeletak di meja samping tempat dia duduk. Sesekali dia mengamati benda pipih itu berharap ada pesan atau panggilan yang masuk.


Angin semakin sore semakin kencang, udara juga semakin dingin. Seseorang ingin memintanya untuk masuk ke dalam tetapi sejak pertama mereka bertemu tidak pernah ada manis-manisnya hingga dia mencoba untuk cuek terhadapnya.


Plak


Sebuah pukulan ringan mendarat pada pundak seorang pemuda yang sedang duduk di taman bunga samping rumah. Dia mendongokkan kepalanya ingin tahu yang telah memukulnya itu.


"Masuk lah di sini dingin." Kata seorang laki-laki yang sudah lanjut usia.


"Kakek." Kata Garda dengan ramah.


"Mau Kakek antar pulang?" Tanya Kakek.


"Aku tidak bisa pulang sekarang ini." Jawab Garda.


"Jika aku pulang aku tidak akan bisa pergi lagi." Lanjutnya.


"Bukan karena luka ku, tapi...." Kata Garda lagi yang terputus setelah tahu ada seseorang yang mengintipnya dari dalam.

__ADS_1


Garda yang memutuskan kalimat yang akan diucapkannya itu membuat Kakek sadar kalau ada orang lain di dekat mereka. Kakek mengajak pemuda itu untuk masuk ke dalam rumah takut dia akan masuk angin.


Pemuda itu berjalan layaknya orang yang sehat walaupun tubuhnya banyak luka lecet. Dia duduk di sofa memandang benda pipih yang sejak tadi anteng alias tidak rewel seperti biasanya.


__ADS_2