
Garda memutuskan untuk meminjam ponsel gadis itu, tetapi dia melihat Yasna tidak membawa apapun saat ini. Pikirannya kini hanya bisa menemukan jalan keluar lain selain meminta tolong pada kedua saudara ya itu.
"Bisa pesankan aku ojek atau mengantarkan ku kembali ke rumah?" Tanya Garda seperti sebuah bariton yang membuat gadis itu terkejut.
"Aku akan menunggu di sini." Lanjutnya dengan dingin.
Satu langkah
Dua langkah
Tiga langkah
Gadis itu mulai berdiri melangkahkan kakinya perlahan sangat pelan seakan menghitung setiap langkahnya yang akan ditukar dengan uang (Author baru matre tanggal satu udah kelewat nunggu tanggal setelah tanggal 15).
"Jika kamu pergi urusan motor mu yang rusak parah?" Tanya Yasna setelah membalikkan badan dan menunjuk pada motor milik pemuda yang sedang terluka itu.
"Disini sangat tidak aman." Jelasnya lagi.
"Lupakan motor itu." Kata Garda tegas hingga membuat gadis itu bergidik ngeri melihat orang itu mengatakannya sambil meringis menahan sakitnya.
"Aku carikan taksi saja untuk mengantarmu pulang." Kata Yasna.
"Tidak aku tidak pulang ke rumah lagi, aku harus ke kota." Kata Garda.
"Tidak mungkin luka mu cukup serius." Kata Yasna memberikan sebuah perhatian kecil walaupun ada rasa takut karena muka dinginnya pemuda itu.
"Kenapa tidak kembali saja, perjalanan dari sini ke kota masih lumayan jauh sedangkan lukamu harus segera diobati." Lanjutnya setelah duduk di samping Garda.
"Di rumah ku dekat sini aku tidak mungkin kembali ke sana jika aku kembali maka misi ku akan gagal." Kata Garda menjelaskan.
"Baiklah aku akan memapahmu sampai di jalan depan." Kata Yasna.
"Semoga saja ada taksi lewat." Lanjutnya.
"Tidak mungkin dong aku memapah mu sampai tempat yang kamu inginkan." Katanya lagi saat sudah merangkulkan tangan kokoh Pemuda itu pada pundaknya.
Kedua orang itu berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi. Di desa itu walaupun sudah berada di jalan raya masih sedikit sekali taksi yang beroperasi.
Gadis itu mulanya memang takut pada muka tembok Garda yang ekstra dingin dan terlihat garang hingga dia berencana melarikan diri pada saat menghitung langkah tadi. Yasna akhirnya merasa kasihan padanya dengan luka yang ada di tubuhnya.
"Aku kenapa sebodoh ini hari ini, pergi tanpa membawa ponsel." Kata Yasna lirih.
"Apa tadi kamu bilang?" Tanya Garda yang sedang dipapah sambil menahan rasa sakit.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak bilang apa-apa." Jawab Yasna.
"Memangnya kamu pintar?" Tanya Garda.
"Kalau aku tidak pintar mana mungkin aku bisa sekolah di kota." Jawab gadis itu membuat Garda tercengang dan menghentikan langkahnya.
"Beasiswa?" Tanya Garda semakin penasaran.
"Hem." Jawab gadis itu singkat sambil mendudukkan diri di atas kursi yang panjang yang terbuat dari bambu yang ada di pinggir jalan raya.
"Bunda mana ijinkan aku sekolah ke sana kalau tidak ada beasiswa ke sana." Lanjutnya.
Kedua orang itu mengedarkan pandangan mencari sebuah taksi, tetapi tidak segera ditemukannya. Gadis itu memiliki alternatif menggunakan ojek tapi jika ke rumah sakit dia sangat alergi dengan dokter dan obat.
"Ojek Bang." Tukang ojek yang lewat dipanggil gadis itu dan berhenti di depannya.
"Bisa antar dia ke rumah sakit?" Tanya Tukang ojek.
"Habis dipukuli massa ya Neng, karena berbuat....?" Tanya Tukang ojek terputus pada gadis yang sudah dikenalnya sedikit.
"Jaga mulut mu!" Kata Garda memperingatkan tukang ojek saat melihat Yasna yang sudah menundukkan kepala.
Gadis itu mencoba menahan air mata yang hendak meluncur. Matanya sudah terlihat sedikit merah.
"Kamu kuat juga berjalan memapah ku sejauh ini." Kata Pemuda itu memuji Yasna agar sedikit menghiburnya.
"Masih kuat jalan kan?" Tanya gadis itu untuk memastikan luka Garda.
"Kenapa tidak jadi ke rumah sakit?" Tanya Garda.
"Aku tidak suka dengan rumah sakit." Jelasnya.
"Jadi tadi kamu cuma minta aku ke rumah sakit sendirian?" Tanya Pemuda itu.
"Kenapa?" Tanyanya lanjut.
Hening
Hening
Hening
Pemuda itu tidak mendengarkan jawaban apapun dari mulut Yasna. Angin yang semilir menggerakkan daun dan ranting lah memberikan sebuah jawaban atas suara yang ditimbulkannya.
__ADS_1
Pemuda itu meminta Yasna meninggalkannya sendiri dalam keadaan terluka, tetapi gadis itu ketika hendak melangkahkan kaki seperti ada kekuatan yang menahannya. Garda diajaknya menuju rumah milik Sang Bunda dengan berjalan perlahan.
Garda tidak memaksa gadis itu untuk menjawab. Sadar dia saat ini bukanlah siapapun dalam kehidupan gadis itu.
Sesekali Garda menatap lekat wajah gadis yang menolongnya itu. Dia merasa gadis itu cukup cantik.
Kakek yang pulang dari pasar melihat keduanya seperti dalam kesulitan. Dia menghampiri kedua orang itu.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sang Kakek.
"Kecelakaan sedikit." Jawab Yasna dengan menatap pemuda yang sedang dipapahnya.
Kakek segera membantu Yasna memapah pemuda itu menuju rumah mereka. Dia tidak menyarankan untuk pergi ke rumah sakit karena pastinya tahu alasannya.
Pemuda itu langsung di bantu duduk di ruang tamu. Kakek melihat luka yang ada ditubuh Garda lumayan parah.
"Oh, ada tamu rupanya." Kata Bunda yang baru keluar dari dalam.
"Eh Tante." Kata Pemuda itu cukup terkejut bisa bertemu dengan wanita paruh baya yang membantunya di pasar.
"Jadi benar dunia ini memang sempit." Kata Garda dalam hati.
"Cepat buatkan minum sana." Kata Bunda pada anak gadisnya yang terkejut melihat Sang Bunda sudah mengenal Pemuda yang ditolongnya itu.
Gadis itu segera pergi ke dapur membuat secangkir kopi hangat untuk tamunya. Kakek sudah pergi mengambil kotak obat di lemari.
Aroma kopi hangat itu menyeruak ke seluruh ruangan. Pemuda itu tidak asing lagi dengan aroma kopi ini.
Bunda segera membersihkan luka-luka yang ada ditubuh Garda. Wanita itu tidak banyak bicara atau bertanya apapun.
"Selesai." Ucap Wanita Paruh Baya itu setelah selesai melakukan P3K.
"Apa tidak sebaiknya pergi ke rumah sakit?" Tanya Bunda.
"Tidak perlu Tante." Jawab Pemuda itu dengan melihat segelas kopi yang akan ditaruh di meja.
"Aku rasa dengan tangan Tante sudah cukup membuat luka ku lebih baik." Jawab Garda untuk pertama kali mengeluarkan jurusnya.
"Minumlah selagi hangat." Kata Bunda Azka.
"Terimakasih Tante." Kata Pemuda itu sopan.
Pemuda itu mengambil kopi yang baru saja diletakkan di atas meja. Dia sangat penasaran dengan rasa kopi itu.
__ADS_1
Aroma kopi yang tidak asing baginya itu ingin segera dicicipi. Disesapnya perlahan dengan menutup mata.
Pemuda itu jadi teringat dengan kedai kopi yang ada di ibu kota tempat dia selalu datang ke sana. Garda melihat wajah gadis yang ada di dekatnya setelah menyesap sedikit kopinya.