
Ruang kedap suara selain di setiap kamar yang ada di villa itu juga ada di ruang depan dekat ruang tamu dimana ruang itu sering digunakan oleh kerabat mereka yang menginap. Kamar hanya boleh digunakan oleh Sang Pemilik sendiri kecuali oleh orang-orang kepercayaan keluarganya.
Pemuda yang sedang duduk di ruang makan ini merasa frustasi. Perasaanya tidak enak, karena biasanya ketika ditelpon Bram langsung menjawab tapi tidak kali ini.
Seorang ART yang baru saja pulang dari pasar langsung meletakkan belanjaannya di dapur. Melihat belanjaan yang begitu banyak membuatnya semakin penasaran.
Biasanya Sang Bibi tidak pernah berbelanja sebanyak itu walaupun untuk beberapa hari ke depan. Daffa menghampiri ART yang baru saja tiba itu hendak menanyakan sahabatnya tadi pagi.
Pada malam hari memang semua ART diatas pukul 21.00 mereka dibebas tugaskan. Mereka tidak diijinkan melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan pekerjaan rumah terkecuali memang mendesak seperti ada anggota rumah yang sakit atau hamil yang membutuhkan sesuatu.
Semua itu untuk mendisiplinkan dari anggota keluarga ataupun untuk semua ART. Hal ini juga agar semua anggota keluarga ketika datang ke Villa itu tidak semena-mena menyuruh para ART dan mereka pun bisa istirahat pada waktunya.
Semua anggota keluarga Adrean dididik untuk menghormati dan menghargai orang lain biarpun mereka dari kalangan menengah ke bawah. Memberikan waktu untuk privasi mereka sendiri merupakan salah satu bentuknya sehingga mereka bisa mempererat persahabatan mereka dengan orang lain.
Sahabatnya memang datang sudah larut malam malam sehingga semua ART tidak banyak yang mengetahui kedatangannya kecuali satpam yang sedang bertugas. Kalau sudah selarut itu memang pemiliknya sendiri yang harus menyiapkan jamuan.
Semua anggota keluarga mereka memang sudah terlatih untuk mandiri. Untuk hal seperti perjamuan mereka sudah terbiasa melakukannya sendiri. ART hanya membantu menyelesaikan tugas mereka.
"Bibi baru pulang dari pasar?" Tanya Daffa dengan sopan.
"Iya Den." Jawab Bibi yang baru saja menaruh belanjaannya tadi.
"Ada yang bisa saya bantu Den?" Tanya Sang Bibi.
"Gak Bi?" Jawab Daffa.
"Bibi lihat teman saya yang tadi pagi?" Tanyanya lanjut.
"Maaf saya gak tahu Den." Jawab Sang Bibi.
"Tadi saya tinggal ke pasar buat belanja." Jelasnya.
"Ngomong-ngomong Bibi tumben belanja banyak lebih dari biasanya." Kata Daffa.
"Lho Den. Memangnya Aden gak tahu?" Tanya Bibi.
__ADS_1
"Gak." Jawab Daffa singkat dengan menggelengkan kepalanya.
"Bukannya ada tamu?" Tanya Bibi singkat.
Pemuda yang sedang sangat geram sekali dengan sahabatnya yang tidak segera mengangkat telponnya itu langsung memutar badan. Ia tidak mau tahu lagi tentang sahabatnya itu.
"Kemana ini anak datang gak diundang sekarang pergi juga bagai ditelan bumi." Batin Daffa menuju ruang depan yang terletak berdekatan dengan ruang tamu.
Ia pun berjalan perlahan sambil memainkan benda pipih miliknya. Ia ingin memastikan kondisi ruang depan tepat dimana sekarang Bram dan seorang gadis beradu mulut.
"Bi, aku ke ruang depan dulu." Pamit Daffa.
"Tunggu Den!" Cegah Bibi ingin bertanya pada Daffa hingga pemuda ini menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.
"Lha itu mau memantau kamar ruang depan kan." Kata Bibi tidak segera bertanya mengenai seorang gadis yang mulai tadi malam tidur di Villa milik keluarga Adrean ini.
"Berarti akan ada tamu penting kan?" Tanya Bibi lagi.
"Kak Axel mau dateng mana tahu seperti biasa." Jawab Daffa yang hendak menuju kamar ruang depan.
"Den, Aden lihat seorang gadis kulit kuning langsat wajah lumayan rambut panjang hitam legam." Tanya Bibi yang menghentikan langkah Pemuda yang ada di depannya sekarang.
"Bukan Den itu gadis tadi malam...." Cerita Bibi terputus kemudian menundukkan kepalanya karena wanita paruh baya itu tahu bukan haknya untuk menceritakan masalah orang lain bahkan sampai mencampurinya.
"Aku baru pulang juga dari joging di taman Bi jadi...." Kata Daffa terputus kemudian mengendikkan kedua bahunya.
Daffa pun melangkahkan kaki menuju kamar depan dengan pikirannya yang tebak menebak terhadap sahabatnya tadi malam yang bersamanya. Pemuda itu menaruh keyakinan kalau Sang Bibi tidak akan memasukkan sembarang orang ke dalam lingkungan Villa milik keluarga mereka.
Ceklek
Pintu kamar depan terbuka perlahan. Kedua orang muda-mudi yang berada di dalam ruangan itu terkejut hingga menatap pada seorang pemuda yang baru saja membuka pintu secara bersamaan.
Tatapan yang sangat tajam seperti sebuah pedang seperti hendak menusuk pada jantung mereka berdua berasal dari seorang pemuda yang baru saja membuka pintu kamar depan. Keduanya dalam posisi yang tidak mereka harapkan.
Bram dan gadis ini langsung terperanjat karena terkejut dengan kedatangan sahabatnya itu secara tiba-tiba. Daffa berjalan mendekati keduanya dengan wajah yang sudah memerah.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya Seorang Pemuda dengan nada yang cukup tinggi karena marah.
"Apa hubungan mu dengan gadis ini?" Tanya Bram balik tanpa menjawab pertanyaan Daffa baru saja dan menunjuk gadis yang ada di sebelahnya menggunakan jari telunjuk.
"Oh. Aku tahu kau menyembunyikan gadis ini di villa kan?" Tanya Bram lagi.
"Aku tidak mengenalnya dan baru bertemu kalian para kadal hari ini!" Ketus seorang gadis yang ada di ruangan itu.
"Jangan bilang kau gadis pendatang tadi malam." Kata Daffa dengan nada yang tinggi.
"Jawab!" Bentak Daffa karena lama menunggu jawaban dari gadis itu.
"Dan kau mencoba merayunya?" Tanya Daffa sedikit menurunkan suaranya karena melihat gadis itu tak berani untuk menjawab.
"Kalau iya memang kenapa?" Tanya sahabatnya.
"Masalah buat elu?" Lanjut Bram.
"Iya, masalah buat gue." Jawab Daffa penuh emosi.
"Kalau masalah kenapa elu bawa ke sini?" Tanya Bram.
"Bahkan elu gak pernah cerita punya cewek yang elu bawa ke villa." Keluh Bram yang salah paham terhadap sahabatnya.
"Gue gak kenal sama itu cewek, dan yang jadi masalah buat gue kenapa elu ngrayu gadis yang belum elu kenal." Kata Daffa sambil mengacak rambutnya karena frustasi bagaimana menjelaskan pada sahabatnya itu menghargai seorang gadis.
"Gadis itu gadis pendatang, entah dari mana asalnya gue juga baru lihat siang ini." Jelas Daffa.
"Gadis itu yang ditemui Bibi tadi malam." Lanjutnya.
"Dari mana elu tahu?" Tanya Bram.
"Lha tahu lah tadi gue nyampe Bibi nanyain itu cewek." Jelas Daffa.
"Jelas sekarang kan?" Tanya gadis itu pada Bram dengan ketusnya.
__ADS_1
"Ya udah sana tadi di cariin Bibi di dapur tu." Kata Daffa memberitahukan pada gadis itu.
Gadis itu keluar dari kamar depan dengan emosi yang masih tertahankan. Ia menuju dapur setelah diberitahu Daffa kalau Bibi sedang mencarinya.