
Pemuda tampan yang ada di villa pinggir pantai merebahkan tubuh di tempat tidurnya karena sekarang lebih baik kondisinya. Dia mencoba memejamkan mata untuk untuk menghilangkan rasa ngantuk yang menyerang.
Pikiran dia sekarang entah kemana hingga sudah cukup lama berbaring tidak juga mencapai alam mimpi. Diraih sebuah benda pipih yang terletak di atas nakas.
Keingintahuannya mengenai berita lain membuatnya membuka berbagai macam fitur sosmed yang ada diponsel. Informasi berita masa lalu itu muncul kembali.
"Oh My God." Pekiknya terkejut dan sangat tidak yakin dengan berita yang baru saja dilihatnya.
"Serius ini foto, Kakak gak pernah cerita." Lanjutnya lagi.
"Apa juga urusan gue masalah wanita bikin pusing tujuh keliling." Lanjutnya lagi.
Badan yang mulanya bersandar di kepala ranjang dengan santainya kini duduk dengan punggung tegap. Banyak hal sekarang yang membuat dia ingin segera bisa kembali ke villa desa itu.
Tok Tok Tok
Terdengar sebuah ketukan pintu dari luar kamar milik Daffa. Sang pemilik tidak berniat membukakan pintu hingga tidak dipedulikan siapapun yang datang.
Pemuda itu tidak suka diganggu saat berada di kamar pribadinya. Dia punya aturan sendiri ditempatnya itu.
"Lama banget menunggu datangnya Mentari pagi." Keluhnya saat berada di kamar.
"Eh.... Nama kakak tercantikku jadi tersebutkan." Lanjutnya terjeda.
"Haduh jadi kangen juga ini sama keponakan-keponakan ku yang jahil itu." Katanya lagi dengan memejamkan mata dan membayangkan wajah mereka dan kelakuan si kembar.
Seorang Asisten Rumah Tangga yang sejak tadi berdiri menunggu di depan pintu untuk dibukakan tak kunjung dibuka kamar itu. Asisten itu akhirnya pergi dari sana dengan kecewa.
Daffa segera mengambil kunci motor yang ada di atas nakas. Dia ingin segera kembali ke desa menuju villa di sana.
__ADS_1
Ceklek
Knop pintu kamar dibuka oleh pemiliknya. Dia merasa ada yang kurang yang selalu dibawanya.
Kepala menoleh dan mengedarkan pandangan ke segala penjuru tempat biasanya berada. Oh tidak kekasih sejatinya tertinggal di atas meja dekat sofa.
Pemuda itu dengan wajah yang cerah melangkahkan kaki mengambil benda pipih itu dan labil kemudian memasukkannya dalam jaket yang dikenakan.
Ceklek
Knop pintu itu kembali ditutup oleh pemiliknya sendiri, bukan hanya itu tetapi dikunci dengan rapat. Daffa mulai memasang wajah datar ketika sudah berada di lantai bawah.
"Tuan mau pergi sekarang?" Tanya Titin saat melihat tuannya hendak meninggalkan villa dengan tergesa-gesa.
"Tidak sarapan dulu tuan?" Lanjutnya.
"Sejak kapan mulai kau berani bertanya pada ku? Tanya Pemuda itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap tajam pada Asisten Rumah Tangganya itu.
"Jika tidak ada yang merekomendasikan kamu sudah sejak beberapa minggu lalu kamu dipecat." Kata Daffa dingin sedingin es kutub utara.
"Jangan pernah ulangi kesalahan yang sama, jika kamu tidak mau berakhir." Lanjutnya sebelum memutar gagang pintu dan keluar dari villa ini.
Ceklek
Pintu terbuka seorang pemuda dengan motor kesayangannya keluaran limited edition pergi begitu saja dengan jengkel karena pagi-pagi sudah ada yang ikut campur urusannya. Motor itu dibeli dengan jerih payahnya sendiri dengan hasilnya kerja pertama yang dia dapatkan.
Pemuda ini mengendarai motor perlahan karena banyak pasir pantai di jalan hingga jalan. Dia mulai meningkatkan kecepatan motornya ketika benar-benar tidak ada pasir yang ada di jalan.
"Masih marah?" Tanya salah seorang kakaknya yang sedang meregangkan ototnya dengan bermain basket di lapangan basket yang ada di halaman samping villa.
__ADS_1
"Buat apa marah?" Jawab Daffa setelah menyandarkan motor kesayangannya itu.
"Kemarin itu aku hanya khilaf." Lanjutnya berjalan mendekati kedua kakaknya dilapangan basket.
"Khilaf membawa berkah." Katanya lagi setelah masuk ke dalam lapangan berusaha merebut bola basket yang sedang dimainkan kedua kakaknya.
"Apa maksut mu?" Tanya Garda penasaran.
"Mau tahu?" Tanya Daffa dengan senyum menawannya.
"Nanti saja aku kasih tahu, sekarang aku mau mengendorkan otot-ototku yang kaku." Lanjutnya hingga membuat kedua kakaknya semakin penasaran.
"Aku sudah punya tahu belum punya tempe." Kata Axel.
"Tidak masalah tahu atau tempe semua tersedia." Kata Daffa.
"Apalagi tahunya tahu balat." Lanjutnya.
"Kalian itu bicara apa sih?" Tanya Garda yang tidak nyambung dengan pembicaraan kedua saudaranya yang hari ini omesnya keluar.
Daffa setelah seharian kemarin pikirannya kalut tapi hari ini terlihat senyum yang merekah diwajahnya. Semua itu karena pemuda itu yang hanya iseng-iseng membuka berbagai macam sosmed.
Pemuda itu bisa berkata semua tersedia baik tahu ataupun tempe karena saat perjalanan tadi Dia melihat Bibi sedang membeli kedua lauk tersebut tanpa sengaja. Bibi memang setiap hari pergi ke pasar jika ketiga tuan muda itu bersamaan berlibur ke villa jika tidak dia akan pergi dalam beberapa hari sekali.
"Bagaimana hem?" Tanya Daffa yang masih saja mendrobel bola basket di tangannya.
"Sejak dulu aku selalu menang dalam segala permainan walaupun aku paling kecil diantara kalian berdua.” Lanjutnya sedikit menyombongkan diri.
"Baiklah-baiklah kami kalah." Kata Axel mengakui kekalahannya.
__ADS_1
Ketiganya mengambil air putih yang dibawakan oleh salah satu ART yang bekerja disana. Mereka meminumnya setelah mengelap keringat yang bercucuran dari dahi.